Calon Gubernur Sumut Diminta Tidak Saling Ejek

Kompas.com - 03/04/2008, 20:06 WIB

MEDAN, KAMIS - Calon gubernur Syamsul Arifin meminta kepada calon lainnya agar tidak saling mengejek saat berkampanye. Saling ejek pasangan calon selain mengkhianati komitmen kampanye damai juga hanya akan memancing kerusuhan dari pendukung masing-masing calon gubernur.

Syamsul yang mendapat giliran kampanye di Medan, Kamis (4/4), mendatangi tiga lokasi, Lapangan Air Bersih, Lapangan Gajah Mada di Jalan Krakatau dan Lapangan Jalan Boom. Di ketiga lokasi, Syamsul selalu mengatakan agar pasangan calon jangan saling mengejek. "Tidak usah menjelekkan calon lain karena mereka semua saudara kita. Kita juga sudah sepakat kampanye damai," ujar Syamsul ketika berkampanye di Lapangan Gajah Mada.

Menurut Bupati Langkat ini, saling ejek di antara pasangan calon hanya memancing kerusuhan para pendukungnya. "Calon kepala daerah jangan memancing kerusuhan. Kalau Sumut sampai rusuh gara-gara pilkada, yang menderita adalah rakyat," ujar Syamsul.

Menurut dia, masih ada pasangan calon yang mengejek pasangan lainnya dengan mengatakan sudah tua dan tak sehat lagi. "Kesehatan semua pasangan calon sudah diperiksa oleh tim dokter. Dan semuanya dinyatakan sehat. Janganlah sampai meragukan hasil pemeriksaan tim dokter yang independen," katanya.

Dia juga mengatakan, rakyat tidak boleh dibodoh-bodohi dengan kampanye. "Calon gubernur itu bukan lampu aladin, jangan bilang setelah menjadi gubernur bisa merubah segalanya. Jangan bodoh-bodohi rakyat dengan janji," katanya.

Syamsul juga kembali menyampaikan visi dan misinya jika terpilih menjadi gubernur. "Jangan sampai rakyat lapar, jangan sampai rakyat bodoh, jangan sampai rakyat sakit dan rakyat harus punya masa depan, " ujarnya.

Kampanye Syamsul di ketiga lokasi masing-masing dihadiri sekitar 3000-an massa. Syamsul tak terlalu kecewa meski kedatangan massa dalam kesempatan pertamanya berkampanye di Medan tak terlalu dihadiri banyak pendukung. Dia mengatakan, kampanye puncak bersama pasangannya Gatot Pujo Nugroho baru akan digelar pada tanggal 9 April nanti. "Kami meminta semua saudara-saudara untuk mendatangi kampanye puncak kami yang digelar tanggal 9 April di Lapangan Gajah Mada," katanya.

Kampanye Syamsul sempat terhambat oleh mepetnya waktu untuk mendatangi ketiga tempat yang cukup berjauhan. Syamsul pertama mendatangi Lapangan Air Bersih di Jalan Air Bersih sekitar pukul 14.00. Berikutnya Syamsul baru datang ke Lapangan Gajah Mada di Jalan Krakatau sekitar 15.30. Di Lapangan Gajah Mada, Syamsul sudah ditunggu kehadirannya oleh Gatot yang berada di sana terlebih dulu.

Di Lapangan Gajah Mada Syamsul tak sempat berkampanye lama. Kepada pendukungnya dia meminta maaf karena harus segera mendatangi tempat terakhir kampanye di Medan hari itu, yakni lapangan di Jalan Boom.

Syamsul datang ke lapangan di Jalan Boom sekitar pukul 16.10, atau lewat 10 menit dari batas waktu kampanye yang diberikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut. Karena melewati batas waktu, Ketua Panwaslih Kota Medan Rahmat Kartolo Simanjuntak sempat mengingatkan tim sukses agar Syamsul tak menyampaikan visi dan misinya.

Syamsul hanya mengajak pendukungnya menggunakan hak pilih pada tanggal 16 April nanti. Dia sempat mengatakan sedikit program kerjanya dan menyanyi dua buah lagu dangdut sebelum mengakhiri kampanye. "Jangan sia-siakan uang rakyat yang cukup besar untuk membiayai pilkada ini. Jangan sampai golput tanggal 16 April nanti. Saya hanya ingin menyampaikan, saya tetap sahabat semua suku," ujarnya.

Pelanggaran ditoleransi

Kampanye Syamsul kemarin berakhir tepat pukul 16.30 atau lewat 30 menit dari batas waktu yang diberikan (09.00-16.00). Menurut Rahmat, pelanggaran batas waktu masih bisa ditoleransi karena Syamsul dalam waktu yang cukup sempit, sejak pukul 14.00, harus mendatangi tiga lokasi yang berbeda.

"Kami masih menoleransi pelanggaran ini. Tadi pun sudah kami ingatkan kepada tim suksesnya agar di sini (Lapangan Jalan Boom), Syamsul tak menyampaikan visi dan misinya. Kami memberi toleransi hingga setengah jam. Ternyata Syamsul tak membacakan visi dan misinya, dia hanya menyanyi dan bisa selesai kegiatanya kurang dari 30 menit," kata Rahmat.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau