Nyupir Sambil Nelpon? Bukan Masalah!

Kompas.com - 04/04/2008, 06:37 WIB

PASTI masih segar dalam ingatan kita, beberapa tahun lalu --saat telepon selular (ponsel) mulai merebak dan bahkan beranjak menjadi kebutuhan primer yang tak bisa ditinggalkan--, Pemerintah DKI Jakarta sempat berencana menerbitkan peraturan daerah soal larangan mengemudi sambil menelepon.

Kala itu, rencana Perda ini  diharapkan dapat "memaksa" pengendara untuk tetap fokus, dan tidak memecah konsentrasinya dengan bertelepon, terlebih menulis SMS. Berponsel sambil 'nyupir' memang dituding menjadi salah satu pangkal kecelakaan di jalan raya, terlebih di kota-kota besar.

Bahkan, sebuah studi yang dilakukan di Perth, Australia pada masa itu, menyebutkan bahwa pengemudi mobil yang menggunakan ponsel saat berkendara memiliki risiko empat kali lebih besar terlibat dalam kecelakaan yang berakibat fatal, dibandingkan mereka yang tidak berponsel.

Tapi bukan teknologi namanya jika tak bisa menjawab hambatan tersebut. Salah satunya dilakukan oleh pabrikan sound system asal Jepang, Pioneer.  Mereka menggabungkan fungsi headunit, dengan fungsi telepon selular melalui koneksi bluetooth. Bluetooth sendiri telah lama dikenal sebagai piranti nirkabel jarak dekat yang digunakan untuk menggantikan kabel pada telepon selular.

Kompas.com mendapat kesempatan menjajal salah satu produk yang dilengkapi dengan fitur ini, yaitu DEH-P65BT. Di dalam tape mobil ini telah tertanam koneksi bluetooth, berikut mikrophone. Posisi mikrophone ini bisa dipasang sesuai kebutuhan untuk menghasilkan suara terbaik, entah di dashboard atau di bagian langit-langit di kabin mobil.

Kemudian, koneksi bluetooth pada ponsel tinggal diaktifkan, untuk menghubungkan kedua alat tersebut. Malah tersedia pula fitur auto connect untuk mempermudah proses pairing antarkedua alat. Syaratnya, koneksi bluetooth pada ponsel tak pernah dimatikan. Begitu kunci kontak berada pada posisi "on" kedua alat otomatis akan terhubung.

Selanjutnya, aktifitas mengemudi, dan memutar musik dapat dilakukan seperti biasa. Begitu ada telepon masuk, fungsi audio di dalam kabin akan mati, berganti dengan ringtone headunit, yang tersedia dalam tiga pilihan nada dering. Pengemudi pun bisa menerima panggilan itu dengan empat cara, yakni lewat tombol pada ponsel, tombol pada remote control, dan tombol pada headunit, atau langsung menjawab, jika fitur auto answer diaktifkan.

Setelah itu, suara penelepon akan keluar dari speaker di kabin mobil, dan percakapan pun bisa dilakukan sambil mengemudi. Hebatnya, tak ada distorsi suara meskipun pasti terjadi pantulan suara penelepon ke dalam mikrophone. Sejumlah responden yang dimintai komentarnya saat kami melakukan hubungan telepon dengan menggunakan fitur ini dapat mendengar suara dengan baik. Mereka tak bisa membedakan bahwa ternyata percakapan telepon tersebut mamakai medium headunit. Malah, saat uji coba dilakukan dari kursi samping dan kursi belakang pengemudi, suara dapat dengan jelas didengar oleh penelepon.

Lalu bagaimana jika ingin menelpon? Head unit ini menyediakan fitur speed dial, yang dapat dijalankan melalui remote control. Sebelum itu, kita harus memasukkan nomor telepon ke dalam memori headunit. Layaknya ponsel, headunit ini mampu menampung 400 nama pemilik nomor. Nama itu akan muncul begitu ada telepon masuk, atau keluar.

Setelah itu, kita tinggal menekan salah satu angka pada remote, diikuti dengan tombol joystick. Sesaat kemudian akan terdengar nada tunggu, dan bisa langsung berbicara begitu telepon diangkat. Atau, jika ponsel yang kita gunakan memiliki fitur voice dial, maka kemudahan ini pun bisa dipakai dengan headunit ini. Saat percakapan telepon berakhir, fungsi audio akan kembali berjalan seperti semula.

Fitur ini memang sangat membantu bagi mereka yang banyak menghabiskan waktu di dalam mobil, terutama untuk poin "menerima telepon". Tapi, pengendara tetap tidak disarankan untuk melakukan "panggilan", sekalipun menggunakan piranti ini. Karena saat melakukan "panggilan" konsentrasi pengemudi tetap akan terpecah, dan itu membahayakan. Jadi, menepilah sejenak sebelum melakukan panggilan telepon, agar Anda terhindar dari bahaya... 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau