Kelangkaan Premium di Denpasar Kian Parah

Kompas.com - 04/04/2008, 09:04 WIB

Laporan wartawan Kompas Frans Sarong

DENPASAR, JUMAT-Kelangkaan premium di Bali kian parah. Sebagian besar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sejak Kamis kemarin sudah memasang potongan kardus bertuliskan: premium atau bensin habis.Akibatnya, tidak sedikit konsumen kini terpaksa mengisi kendaraannya dengan pertamax, yang berarti harus membayar Rp 8.300 per liter atau hampir dua kali lipat dari tarif resmi premium Rp 4.500 per liter.

"Ya terpaksa beli saja pertamax daripada tidak bisa mengantar anak ke sekolah," tutur Nyoman Rama, warga Banjar Blong Gede Denpasar usai mengisi sepeda motornya dengan pertamax di SPBU No.54.807.27 di Jalan Gatot Subroto Barat, Denpasar, Jumat (4/4) pagi.

Dengan uang Rp 10.000, sepeda motornya kali ini terisi hanya sekitar 1,2 liter pertamax. Langkah terpaksa ini juga dilakukan Onto dan rekannya. Setiba di SPBU yang sama, didapati premium telah habis. Karena harus melakukan perjalan jauh ke Singaraja (sekitar 100 km utara Denpasar), Onto dan rekannya memutuskan utuk mengisi saja mobil mereka jenis Xenia dengan pertamax sebanyak 20 liter. "Tadinya berharap bisa isi penuh kalau dengan premium. Karena terpaksa pertamax, maka hanya mengisi separuhnya," tutur Onto setelag menunggu sekitar satu jam hingga mendapat giliran pengisian itu.

"Sungguh terasa sangat memberatkan jika harus menggunakan pertamax," sambung Kateno usia mengisi Kijang Rover miliknya dengan pertamax sebanyak 30 liter. "Jika tidak cepat pulih, berbagai jenis usaha terutama jenis usaha kecil bisa bangkrut," tambah Kateno yang sehari hari menggeluti usaha perbengkelan skala kecil di Denpasar.

Seperti disaksikan, setidaknya ada dua SPBU di Jalan Gatot Subroto Tengah dan Gatsu Barat, sudah hampir sehari tidak lagi melayani pengisian premium karena stok habis. Konsumen terpsaksa membeli pertamax. Sementara di SPBU lainnya yang bernomor 54.801.13 juga Jalan Gatsu ot Barat, pelayanan pengisian premium memang masih dibuka. Namun Asmara, salah seorang petugas mengakui stok premium di SPBU itu sudan menipis, dan diperkirakan akan habis kurang lebih sejam lagi. Sementara antrean kendaraan hingga sejauh kurang lebih satu kilometer menunggu giliran. "Kami belum tahu apakah akanada pasokan baru bahan bakar premium," tambah Asmara. (ANS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau