Munaslub pssi

Pengurus Klub Tak Bisa Konsentrasi

Kompas.com - 04/04/2008, 19:53 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Posisi para pengurus klub dan pejabat PSSI yang kebanyakan merupakan pejabat daerah membuat mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam gerakan untuk mendorong musyawarah nasional luar biasa PSSI. Meski demikian, reformasi di tubuh PSSI tetap diharapkan untuk penyelamatan sepakbola nasional.

Demikian dikatakan Ketua Harian Persib Bandung Edi Siswadi, Jumat (4/4). Kami ini bukannya tak mau bergerak. Namun, sebagai pejabat daerah, ada banyak kesibukan lainnya, kata Edi Siswadi yang juga Sekretaris Daerah Kota Bandung.

Di Persib, keberadaan pejabat daerah memang memegang posisi sentral. Di atas Edi Siswadi sebagai Ketua Harian, Walikota Dada Rosada duduk sebagai Ketua Umum Persib. Sedangkan manajer Persib Jaja Soetardja adalah Direktur PDAM Kota Bandung. Di tingkat Jabar, Ketua Umum Pengda PSSI Tony Aprilani merupakan anggota Komisi X DPR.

Kondisi serupa banyak terjadi di daerah lain. Hal ini sudah berlangsung lama karena mayoritas tim-tim peserta kompetisi nasional saat ini adalah bekas tim amatir yang merupakan aset daerah. Dengan demikian, kepengurusan inti banyak dipegang oleh para pejabat daerah. Selama ini, kondisi itu dipertahankan karena keberadaan pejabat daerah akan memuluskan penganggaran dana dari APBD.

Sebut saja Gubernur Sumatera Selatan Syahrial Oesman sebagai Ketua Umum Sriwijaya FC, Walikota Kediri HA Maschut sebagai Ketua Umum Persik, dan Walikota Semarang Sukawi Sutarip yang merupakan Ketua Umum PSIS.

Meski demikian, kata Edi, klub-klub bukannya abai dengan kondisi PSSI saat ini. Itu (reformasi kepemimpinan) tak dapat ditahan-tahan lagi. Tidak boleh ada persoalan lain yang mengganggu kalau PSSI atau klub ingin fokus pada masalah internal organisasi, kata Edi.

Ia juga mempertanyakan kontradiksi yang terjadi saat ini. Klub-klub diwajibkan untuk segera memenuhi berbagai persyaratan sementara PSSI sendiri masih terjerat sejumlah persoalan terkait statuta, ujar Edi.

Edi khawatir, jika tak segera dibereskan, masalah itu akan membuat semua kerja keras memajukan sepakbola menjadi sia-sia. Bagaimana kalau PSSI dibekukan sementara kita sudah mencurahkan pikiran, tenaga, dan uang untuk sepakbola, kata Edi. Ini akan menjadi masalah besar, apalagi hampir 100 persen dana yang dicurahkan merupakan uang rakyat. Pengda dan klub se-Indonesia harus bersatu. PSSI juga harus sadar diri, kata Edi. (LSD)  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau