BANDUNG, KOMPAS - Posisi para pengurus klub dan pejabat PSSI yang kebanyakan merupakan pejabat daerah membuat mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam gerakan untuk mendorong musyawarah nasional luar biasa PSSI. Meski demikian, reformasi di tubuh PSSI tetap diharapkan untuk penyelamatan sepakbola nasional.
Demikian dikatakan Ketua Harian Persib Bandung Edi Siswadi, Jumat (4/4). Kami ini bukannya tak mau bergerak. Namun, sebagai pejabat daerah, ada banyak kesibukan lainnya, kata Edi Siswadi yang juga Sekretaris Daerah Kota Bandung.
Di Persib, keberadaan pejabat daerah memang memegang posisi sentral. Di atas Edi Siswadi sebagai Ketua Harian, Walikota Dada Rosada duduk sebagai Ketua Umum Persib. Sedangkan manajer Persib Jaja Soetardja adalah Direktur PDAM Kota Bandung. Di tingkat Jabar, Ketua Umum Pengda PSSI Tony Aprilani merupakan anggota Komisi X DPR.
Kondisi serupa banyak terjadi di daerah lain. Hal ini sudah berlangsung lama karena mayoritas tim-tim peserta kompetisi nasional saat ini adalah bekas tim amatir yang merupakan aset daerah. Dengan demikian, kepengurusan inti banyak dipegang oleh para pejabat daerah. Selama ini, kondisi itu dipertahankan karena keberadaan pejabat daerah akan memuluskan penganggaran dana dari APBD.
Sebut saja Gubernur Sumatera Selatan Syahrial Oesman sebagai Ketua Umum Sriwijaya FC, Walikota Kediri HA Maschut sebagai Ketua Umum Persik, dan Walikota Semarang Sukawi Sutarip yang merupakan Ketua Umum PSIS.
Meski demikian, kata Edi, klub-klub bukannya abai dengan kondisi PSSI saat ini. Itu (reformasi kepemimpinan) tak dapat ditahan-tahan lagi. Tidak boleh ada persoalan lain yang mengganggu kalau PSSI atau klub ingin fokus pada masalah internal organisasi, kata Edi.
Ia juga mempertanyakan kontradiksi yang terjadi saat ini. Klub-klub diwajibkan untuk segera memenuhi berbagai persyaratan sementara PSSI sendiri masih terjerat sejumlah persoalan terkait statuta, ujar Edi.
Edi khawatir, jika tak segera dibereskan, masalah itu akan membuat semua kerja keras memajukan sepakbola menjadi sia-sia. Bagaimana kalau PSSI dibekukan sementara kita sudah mencurahkan pikiran, tenaga, dan uang untuk sepakbola, kata Edi. Ini akan menjadi masalah besar, apalagi hampir 100 persen dana yang dicurahkan merupakan uang rakyat. Pengda dan klub se-Indonesia harus bersatu. PSSI juga harus sadar diri, kata Edi. (LSD)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang