KEPOLISIAN Resor Kota Palu berduka. Di markasnya, Rabu (26/10/2005) pagi, bendera setengah tiang dikibarkan. Ini sebagai penghormatan terakhir terhadap tiga anggotanya yang tewas saat melaksanakan tugas di Dusun Salena, Kelurahan Buluri, Palu, Sulawesi Tengah.
Selasa 25/10/2005 di dusun yang terletak di Pegunungan Gawalise, yang mengelilingi Kota Palu, itu terjadi bentrokan antara polisi dan pengikut kelompok Madi, suatu aliran kepercayaan yang sampai saat ini belum jelas asal-usulnya.
Bentrokan berawal ketika 78 anggota Kepolisian Resor Kota (Polresta) Palu mendatangi markas kelompok Madi di Dusun Salena, 40 kilometer dari pusat Kota Palu. Polisi ingin membujuk Madi (27), pemimpin kelompok itu, agar bersedia dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sehubungan dengan adanya pengaduan empat warga setempat.
Empat warga itu, kata Lurah Buluri, Jata Daeng Maloto (52), pernah diancam akan dibunuh oleh Madi karena tidak bersedia bergabung dengan kelompoknya. Di Kelurahan Buluri, Madi dikenal sebagai dukun yang mampu mengobati orang sakit dan memiliki sejumlah "kesaktian".
Karena kesaktiannya itu, tujuh bulan lalu ia mendirikan perguruan
silat Dente Sepuluh Pembela Rakyat Kaili. Kaili adalah suku asli di
Sulawesi Tengah, di antaranya mendiami Pegunungan Gawalise.
Sebelum tiba di Dusun Salena, 78 anggota Polresta Palusinggah di
Puskesmas Buluri untuk mengatur strategi. Ini penting karena Madi
diperkirakan memiliki 400 orang pengikut atau hampir semua warga
Salena yang jumlahnya 90 keluarga. Beberapa hari sebelumnya, polisi
membujuk Madi agar bersedia dikonfrontasi dengan empat warga yang
melaporkan kegiatannya, tetapi Madi menolaknya, bahkan membentak-
bentak polisi.
Ke-78 anggota Polresta Palu itu kemudian dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama berjumlah 30 orang berjaga-jaga di Puskesmas Buluri. Kelompok kedua, juga berjumlah 30 orang, berjaga- jaga di RT 1 Dusun Salena, sekitar 10 km dari puskesmas. Kelompok ketiga berjumlah 18 polisi berpakaian preman, dengan didampingi tiga warga sebagai penunjuk jalan, bertugas mendatangi markas kelompok Madi di RT 2 Dusun Salena, yang walaupun jaraknya hanya dua kilometer dari RT 1, harus ditempuh dengan cara berjalan kaki selama 2-3 jam.
Perilaku aneh
Kepala Kepolisian Sektor Palu Barat Inspektur Satu Bayu Wijanarko yang selamat dalam peristiwa itu menceritakan, saat bernegosiasi dengan Madi, polisi sudah melihat perilaku aneh dari pengikut Madi. Bayu kemudian mencoba menghubungi polisi yang berjaga-jaga agar menuju RT 2, tetapi dilarang Madi.
"Saat itu ternyata kami sudah dikepung. Mereka lalu menari-nari sambil mengacungkan pedang dan parang. Tiba-tiba Hattu, salah seorang panglima kelompok Madi, seperti kesurupan dan menebaskan pedangnya ke perut salah seorang anggota," kata Bayu, yang sempat disandera pengikut Madi dan kemudian berhasil membebaskan diri sekitar tiga jam setelah kejadian.
Mendengar suara tembakan, polisi yang berjaga-jaga di RT 1 langsung menuju kawasan RT 2. Namun, dalam perjalanan mereka dihadang Hattu dan sejumlah pengikut Madi.
Saat itulah Hattu menebaskan pedangnya ke perut Kepala Satuan Samapta Polresta Palu Ajun Komisaris Fuadi Chalis hingga tewas di tempat. Sementara itu, polisi di kelompok tiga kocar-kacir dan lari ke hutan. Beberapa polisi disandera pengikut Madi.
Seorang polisi lainnya menceritakan, polisi berkali-kali menembak Hattu, tetapi tampaknya tidak mempan. Hattu dilumpuhkan saat ia tersungkur ke tanah karena terbentur batu. Saat itulah peluru menembus tubuhnya. Selain Hattu, ditemukan seorang lagi pengikut Madi yang tewas.
Mendengar cerita sejumlah polisi itu, suasana di RT 1 Dusun Salena yang Selasa lalu, sekitar pukul 15.00, dipenuhi ratusan polisi, semakin mencekam. Banyak yang menanyakan apakah benar sejumlah pengikut Madi kebal peluru. Kemarin Kepala Polresta Palu Ajun Komisaris Besar Guntur Widodo membantah pengikut Madi kebal tembakan.
"Polisi yang diturunkan memang diperintahkan menggunakan tiga jenis peluru dalam senjatanya. Paling depan tiga peluru karet, setelah itu (deretan berikutnya-Red) tiga peluru hampa, baru selanjutnya tiga peluru tajam," ujar Guntur.
Di masyarakat Buluri sendiri beredar sejumlah dugaan tentang kelompok Madi. Ada informasi yang menyebutkan Madi menganggap dirinya sebagai "Imam Mahdi", sang pembawa keselamatan. Namun, hal itu dibantah Guntur. "Itu hanya karena dia bernama Madi, lantas dikira masyarakat ia sebagai Imam Mahdi," katanya.
Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sulteng yang juga Ketua IV Majelis Ulama Indonesia Sulteng Abdul Aziz M Godal mengatakan, pihaknya masih menyelidiki apakah benar kelompok Madi adalah aliran sesat. "Sampai saat ini informasi yang kami terima dari masyarakat hanya menyatakan Madi itu membuka praktik perdukunan. Kami masih menyelidiki apakah ada aliran Mahdi di Salena. Tapi, saya meragukan hal itu," kata Godal.
Campurkan adat-agama
Godal memperkirakan saat ini masih banyak warga di Pegunungan Gawalise yang mencampuradukkan adat istiadat dengan ajaran Islam walaupun ajaran Islam sudah cukup lama masuk ke sana. Selain itu, tampaknya perlu perhatian pemerintah atas masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan itu. Mata pencarian utama mereka adalah menanam ubi dan jagung.
Jori (31), salah seorang tokoh masyarakat Salena, menyangkal semua tuduhan yang ditimpakan kepada Madi. "Saya kenal baik Madi. Dia itu bukan dukun dan bukan pemimpin aliran sesat. Yang benar, Madi adalah guru silat dan pemimpin adat di Salena. Dulu dia sangat rajin shalat. Hanya saja, akhir-akhir ini ia sering kesurupan sehingga dituduh sebagai dukun," katanya.
Jori, yang mengaku bukan salah satu pengikut Madi, mengungkapkan, Madi tidak pernah memaksa warga sekitar ikut kelompoknya. Ia mengatakan, Madi hanyalah seorang korban dari orang yang mengaku dirinya Datu Bulu Perindu, seorang warga suku Kaili, tetapi tidak tinggal di Salena. Datu Bulu Perindu kerap melakukan upacara yang mampu menghipnotis warga dengan tujuan agar warga memberikan hasil panennya.
Madi, oleh Datu Bulu Perindu, dijadikan sebagai "tangan kanan" di Dusun Salena.
Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat Syafri Laupa membenarkan pernyataan Jori. Menurut dia, kejadian di Salena sebenarnya tak perlu terjadi jika polisi memahami bagaimana Madi membentuk kelompoknya. (RNainggolan/Kompas)