Madi, Penghuni Pegunungan Gawalise

Kompas.com - 05/04/2008, 21:51 WIB

KEPOLISIAN Resor Kota Palu berduka. Di markasnya, Rabu (26/10/2005) pagi, bendera setengah tiang dikibarkan. Ini sebagai penghormatan terakhir terhadap tiga anggotanya yang tewas saat melaksanakan tugas di Dusun Salena, Kelurahan Buluri, Palu, Sulawesi Tengah.
    
Selasa 25/10/2005 di dusun yang terletak di Pegunungan Gawalise, yang mengelilingi Kota Palu, itu terjadi bentrokan antara polisi dan pengikut kelompok Madi, suatu aliran kepercayaan yang sampai saat ini belum jelas asal-usulnya.
    
Bentrokan berawal ketika 78 anggota Kepolisian Resor Kota  (Polresta) Palu mendatangi markas kelompok Madi di Dusun Salena, 40  kilometer dari pusat Kota Palu. Polisi ingin membujuk Madi (27),  pemimpin kelompok itu, agar bersedia dibawa ke kantor polisi untuk  dimintai keterangan sehubungan dengan adanya pengaduan empat warga  setempat.
    
Empat warga itu, kata Lurah Buluri, Jata Daeng Maloto (52),  pernah diancam akan dibunuh oleh Madi karena tidak bersedia bergabung  dengan kelompoknya. Di Kelurahan Buluri, Madi dikenal sebagai dukun yang mampu mengobati orang sakit dan memiliki sejumlah "kesaktian".

Karena kesaktiannya itu, tujuh bulan lalu ia mendirikan perguruan
silat Dente Sepuluh Pembela Rakyat Kaili. Kaili adalah suku asli di
Sulawesi Tengah, di antaranya mendiami Pegunungan Gawalise.
    
Sebelum tiba di Dusun Salena, 78 anggota Polresta Palusinggah di
Puskesmas Buluri untuk mengatur strategi. Ini penting karena Madi
diperkirakan memiliki 400 orang pengikut atau hampir semua warga
Salena yang jumlahnya 90 keluarga. Beberapa hari sebelumnya, polisi
membujuk Madi agar bersedia dikonfrontasi dengan empat warga yang
melaporkan kegiatannya, tetapi Madi menolaknya, bahkan membentak-
bentak polisi.
    
Ke-78 anggota Polresta Palu itu kemudian dibagi dalam tiga  kelompok. Kelompok pertama berjumlah 30 orang berjaga-jaga di Puskesmas Buluri. Kelompok kedua, juga berjumlah 30 orang, berjaga- jaga di RT 1 Dusun Salena, sekitar 10 km dari puskesmas. Kelompok ketiga berjumlah 18 polisi berpakaian preman, dengan didampingi tiga  warga sebagai penunjuk jalan, bertugas mendatangi markas kelompok  Madi di RT 2 Dusun Salena, yang walaupun jaraknya hanya dua kilometer  dari RT 1, harus ditempuh dengan cara berjalan kaki selama 2-3 jam.

Perilaku aneh
    
Kepala Kepolisian Sektor Palu Barat Inspektur Satu Bayu Wijanarko  yang selamat dalam peristiwa itu menceritakan, saat bernegosiasi  dengan Madi, polisi sudah melihat perilaku aneh dari pengikut Madi.  Bayu kemudian mencoba menghubungi polisi yang berjaga-jaga agar  menuju RT 2, tetapi dilarang Madi.
    
"Saat itu ternyata kami sudah dikepung. Mereka lalu menari-nari  sambil mengacungkan pedang dan parang. Tiba-tiba Hattu, salah seorang  panglima kelompok Madi, seperti kesurupan dan menebaskan pedangnya ke  perut salah seorang anggota," kata Bayu, yang sempat disandera  pengikut Madi dan kemudian berhasil membebaskan diri sekitar tiga jam  setelah kejadian.
    
Mendengar suara tembakan, polisi yang berjaga-jaga di RT 1 langsung menuju kawasan RT 2. Namun, dalam perjalanan mereka dihadang Hattu dan sejumlah pengikut Madi.
    
Saat itulah Hattu menebaskan pedangnya ke perut Kepala Satuan  Samapta Polresta Palu Ajun Komisaris Fuadi Chalis hingga tewas di  tempat. Sementara itu, polisi di kelompok tiga kocar-kacir dan lari ke hutan. Beberapa polisi disandera pengikut Madi.
    
Seorang polisi lainnya menceritakan, polisi berkali-kali menembak Hattu, tetapi tampaknya tidak mempan. Hattu dilumpuhkan saat ia tersungkur ke tanah karena terbentur  batu. Saat itulah peluru menembus tubuhnya. Selain Hattu, ditemukan  seorang lagi pengikut Madi yang tewas.
    
Mendengar cerita sejumlah polisi itu, suasana di RT 1 Dusun  Salena yang Selasa lalu, sekitar pukul 15.00, dipenuhi ratusan  polisi, semakin mencekam. Banyak yang menanyakan apakah benar  sejumlah pengikut Madi kebal peluru. Kemarin Kepala Polresta Palu  Ajun Komisaris Besar Guntur Widodo membantah pengikut Madi kebal  tembakan.

 

"Polisi yang diturunkan memang diperintahkan menggunakan  tiga jenis peluru dalam senjatanya. Paling depan tiga peluru karet,  setelah itu (deretan berikutnya-Red) tiga peluru hampa, baru  selanjutnya tiga peluru tajam," ujar Guntur.
    
Di masyarakat Buluri sendiri beredar sejumlah dugaan tentang  kelompok Madi. Ada informasi yang menyebutkan Madi menganggap dirinya sebagai "Imam Mahdi", sang pembawa keselamatan. Namun, hal itu  dibantah Guntur. "Itu hanya karena dia bernama Madi, lantas dikira masyarakat ia sebagai Imam Mahdi," katanya.
    
Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sulteng yang juga Ketua IV  Majelis Ulama Indonesia Sulteng Abdul Aziz M Godal mengatakan,  pihaknya masih menyelidiki apakah benar kelompok Madi adalah aliran sesat. "Sampai saat ini informasi yang kami terima dari masyarakat  hanya menyatakan Madi itu membuka praktik perdukunan. Kami masih menyelidiki apakah ada aliran Mahdi di Salena. Tapi, saya meragukan hal itu," kata Godal.

Campurkan adat-agama

Godal memperkirakan saat ini masih banyak warga di Pegunungan  Gawalise yang mencampuradukkan adat istiadat dengan ajaran Islam  walaupun ajaran Islam sudah cukup lama masuk ke sana. Selain itu, tampaknya perlu perhatian pemerintah atas masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan itu. Mata pencarian utama mereka adalah menanam ubi dan jagung.
    
Jori (31), salah seorang tokoh masyarakat Salena, menyangkal  semua tuduhan yang ditimpakan kepada Madi. "Saya kenal baik Madi. Dia itu bukan dukun dan bukan pemimpin aliran sesat. Yang benar, Madi adalah guru silat dan pemimpin adat di Salena. Dulu dia sangat rajin  shalat. Hanya saja, akhir-akhir ini ia sering kesurupan sehingga  dituduh sebagai dukun," katanya.
    
Jori, yang mengaku bukan salah satu pengikut Madi, mengungkapkan,  Madi tidak pernah memaksa warga sekitar ikut kelompoknya. Ia  mengatakan, Madi hanyalah seorang korban dari orang yang mengaku dirinya Datu Bulu Perindu, seorang warga suku Kaili, tetapi tidak tinggal di Salena. Datu Bulu Perindu kerap melakukan upacara yang mampu menghipnotis warga dengan tujuan agar warga memberikan hasil panennya.

Madi, oleh Datu Bulu Perindu, dijadikan sebagai "tangan kanan" di Dusun Salena.
    
Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat Syafri Laupa membenarkan  pernyataan Jori. Menurut dia, kejadian di Salena sebenarnya tak perlu terjadi jika polisi memahami bagaimana Madi membentuk kelompoknya. (RNainggolan/Kompas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau