Kesadaran Mengandangkan Ayam di Brebes Masih Kurang

Kompas.com - 06/04/2008, 18:24 WIB
 

 

Laporan Wartawan Kompas, Siwi Nurbiajanti

BREBES, MINGGU - Kesadaran masyarakat untuk mengandangkan ayam kampung masih kurang. Hal itu menjadi salah satu kendala penanganan kasus flu burung pada unggas di Kabupaten Brebes dan Tegal. Hingga saat ini, kasus kematian unggas terjadi hampir merata di wilayah tersebut.

Kepala Sie Kesehatan Hewan Kantor Peternakan Kabupaten Brebes, Jhoni Murahman, Minggu (6/4) mengatakan, kasus kematian ayam kampung di Brebes selama tahun 2008 terjadi di enam desa di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Tanjung, Bulakamba, Losari, Ketanggungan, dan Jatibarang. Jumlah ayam yang mati sebanyak 325 ekor.

Kasus terakhir menimpa 20 ekor ayam kampung milik warga Desa Bojongsari, Kecamatan Losari, pekan lalu. Dari hasil tes cepat terhadap tiga ekor bangkai ayam, ketiga ayam tersebut positif terserang virus flu burung.

Menurut Jhoni, munculnya kembali sejumlah kasus flu burung pada unggas akibat pengaruh cuaca. Pada musim pancaroba seperti saat ini, stamina ayam cenderung tidak stabil, sehingga mudah kemasukan virus. Padahal, Pulau Jawa merupakan daerah endemis flu burung.

Selain itu juga akibat perilaku masyarakat. Selama ini, sebagian masyarakat masih membuang bangkai ayam ke sungai. Hal itu juga memudahkan penyebaran virus flu burung. Kendala lain yang masih sering dijumpai adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengandangkan ayam mereka. Hal itu dipengaruhi beberapa hal, seperti kebiasaan dan ketidakmampuan mereka menyediakan kandang.

Sejak tahun 2004 hingga saat ini, dari 297 desa di Kabupaten Brebes, sekitar 75 persennya pernah terjangkit virus flu burung. Hal itu terutama terjadi di wilayah padat penduduk, seperti Kecamatan Bumiayu dan di daerah sepanjang pantura. Satu-satunya kecamatan yang belum pernah terjangkit virus flu burung adalah Kecamatan Sa lem. Dari hasil penelitian, hampir semua masyarakat di sana mengandangkan ayam kampung mereka.

Jhoni mengatakan, meskipun kasus flu burung masih bermunculan, namun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya terjadi penurunan. Pada tahun 2004 lalu, kematian ayam mencapai 35.000, terjadi di Kecamatan Paguyangan.

Hal senada juga disampaikan Kepala Sie Kesehatan Hewan Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Kabupaten Tegal, Abdi Manaf. Menurut dia, salah satu kendala penanganan flu burung pada unggas yaitu masih banyaknya masyarakat yang belum mengandangkan ternak mereka.

Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat belum memiliki kandang. Selain itu dengan sistem kandang, beban yang mereka tanggung lebih besar karena harus menyediakan pakan. Apabila dipaksa untuk mengandangkan maupun mengarantina ayam, justru mereka akan menjual sisa ayam yang dimiliki. Hal itu berbahaya karena dapat menularkan virus flu burung pada unggas di daerah lain.

Abdi mengatakan, saat ini yang terpenting adalah memberikan pembelajaran kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan penanganan bangkai unggas secara tepat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau