Laporan Wartawan Kompas, Siwi Nurbiajanti
BREBES, MINGGU - Kesadaran masyarakat untuk mengandangkan ayam kampung masih kurang. Hal itu menjadi salah satu kendala penanganan kasus flu burung pada unggas di Kabupaten Brebes dan Tegal. Hingga saat ini, kasus kematian unggas terjadi hampir merata di wilayah tersebut.
Kepala Sie Kesehatan Hewan Kantor Peternakan Kabupaten Brebes, Jhoni Murahman, Minggu (6/4) mengatakan, kasus kematian ayam kampung di Brebes selama tahun 2008 terjadi di enam desa di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Tanjung, Bulakamba, Losari, Ketanggungan, dan Jatibarang. Jumlah ayam yang mati sebanyak 325 ekor.
Kasus terakhir menimpa 20 ekor ayam kampung milik warga Desa Bojongsari, Kecamatan Losari, pekan lalu. Dari hasil tes cepat terhadap tiga ekor bangkai ayam, ketiga ayam tersebut positif terserang virus flu burung.
Menurut Jhoni, munculnya kembali sejumlah kasus flu burung pada unggas akibat pengaruh cuaca. Pada musim pancaroba seperti saat ini, stamina ayam cenderung tidak stabil, sehingga mudah kemasukan virus. Padahal, Pulau Jawa merupakan daerah endemis flu burung.
Selain itu juga akibat perilaku masyarakat. Selama ini, sebagian masyarakat masih membuang bangkai ayam ke sungai. Hal itu juga memudahkan penyebaran virus flu burung. Kendala lain yang masih sering dijumpai adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengandangkan ayam mereka. Hal itu dipengaruhi beberapa hal, seperti kebiasaan dan ketidakmampuan mereka menyediakan kandang.
Sejak tahun 2004 hingga saat ini, dari 297 desa di Kabupaten Brebes, sekitar 75 persennya pernah terjangkit virus flu burung. Hal itu terutama terjadi di wilayah padat penduduk, seperti Kecamatan Bumiayu dan di daerah sepanjang pantura. Satu-satunya kecamatan yang belum pernah terjangkit virus flu burung adalah Kecamatan Sa lem. Dari hasil penelitian, hampir semua masyarakat di sana mengandangkan ayam kampung mereka.
Jhoni mengatakan, meskipun kasus flu burung masih bermunculan, namun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya terjadi penurunan. Pada tahun 2004 lalu, kematian ayam mencapai 35.000, terjadi di Kecamatan Paguyangan.
Hal senada juga disampaikan Kepala Sie Kesehatan Hewan Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Kabupaten Tegal, Abdi Manaf. Menurut dia, salah satu kendala penanganan flu burung pada unggas yaitu masih banyaknya masyarakat yang belum mengandangkan ternak mereka.
Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat belum memiliki kandang. Selain itu dengan sistem kandang, beban yang mereka tanggung lebih besar karena harus menyediakan pakan. Apabila dipaksa untuk mengandangkan maupun mengarantina ayam, justru mereka akan menjual sisa ayam yang dimiliki. Hal itu berbahaya karena dapat menularkan virus flu burung pada unggas di daerah lain.
Abdi mengatakan, saat ini yang terpenting adalah memberikan pembelajaran kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan penanganan bangkai unggas secara tepat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang