BANDUNG - Pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Letjend (P) Kiki Syahnakari yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Pejuang Siliwangi Indonesia mencuat sebagai pasangan alternatif Capres dan Cawapres Indonesia pada tahun 2009. Fenomena tersebut muncul dalam sarasehan kebangsaan dengan thema Rekonsiliasi Sejarah: SAUDARA, SEBANGSA DAN SETANAH AIR yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Sabtu (5/4).
Hadir dalam sarasehan sebagai pembicara Sri Sultan Hamengku Buwono X, Tjetje Hidajat Padmadinata, Letjen (P) Kiki Syahnakri, Roch Basuki Mangoenprojo (Pengamat Politik), Cecep Burdiansyah – Wartawan Senior Tribun Jabar, H Budhiana – Wapemred Pikiran Rakyat, Tjetje Hidajat Padmadinata (Pengamat politik) sebagai pembicara, serta Mayong Suryo Laksono sebagai moderator.
Menurut beberapa peserta sarasehan yang dihadiri sekitar 400 orang termasuk mantan KSAD, Ryamizard Ryacudu, mantan Wapres Try Sutrisno dan mantan Gubernur DKI Suryadi Soedirdja, Indonesia membutuhkan tokoh yang mampu membawa negara ini ke luar dari berbagai kemelut dan krisis. Diharapkan Sri Sultan HBX dan Kiki Syahnakri bersedia untuk berpasangan untuk membawa negara ini keluar dari berbagai krisis multidimensi.
Sementara peserta dari Porong Sidoarjo menegaskan bahwa kedatangannya beserta rombongan dari Sidoarjo karena terkait tidak terpecahkannya kasus Lapindo yang membuat ribuan warga korban menjadi pengemis di kotanya. Mereka menginginkan Sri Sultan HBX mau membantu mereka untuk menyelesaikan kasus Lapindo. Lebih dari itu, Sri Sultan HBX diminta kesediaannya untuk memimpin negeri ini pada tahun mendatang.
Setiap usulan untuk memasangkan Sri Sultan HBX dan Kiki Syahnakri mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan dari para peserta lainnya yang datang dari berbagai kota seluruh Indonesia.
Pada malam sebelumnya, Jumat (4/4), di Hotel Grand Preanger diadakan Rekonsiliasi Budaya dengan bentuk orasi budaya oleh Sri Sultan HBX dan Ajip Rosidi. Acara yang diselenggarakan oleh Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS), Rumah Nusantara dan Pejuang Siliwangi Indonesia.
Hadir dalam acara yang dihadiri para sesepuh Pasundan, Wakil dari Kasultanan Kanoman Cirebon dan para pengamat politik lainnya, Sri Sultan HBX menegaskan bahwa pluralitas harus dihargai oleh bangsa ini. Kita semua terdiri dari begitu banyak suku, bahasa daerah dan agama. Dengan pluralitas itu, negara ini harus dibangun dan budaya adalah pendekatannya.
Sementara Ajip Rosidi menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus bertanya kepada dirinya sendiri apa yang harus dilakukan untuk negara ini dan tidak bertanya kepada orang lain. Budaya harus menjadi pendekatan bagi pembangungan bangsa Indonesia yang saat ini semakin terpuruk.
Menurut rencana, sarasehan kebangsaan dengan rekonsiliasi sejarah di tanah Pasundan ini akan dilanjutkan dengan sarasehan kebangsaan rekonsiliasi sejarah kerajaan-kerajaan Mataram di Salatiga pada bulan mendatang.
Dalam catatan Kompas.com, Sultan HB X dan Letjend purn Kiki Syahnakri sudah beberapa kali hadir dalam acara yang sama, yang digelar oleh Ekayasatra Unmada. Dalam setiap kali pertemuan membahas kebangsaan itu pula, selalu muncul pertanyaan tentang pilpres 2009 terhadap kedua tokoh itu.
Pintu Rekonsiliasi Nasional
Terkait dengan thema sarasehan, pihak penyelenggara Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada – Semangat Satu Bangsa, Putut Prabantoro menjelaskan bahwa thema ini cukup berrisiko di tanah Pasundan karena ada jejak kelam hubungan antara Jawa dan Pasundan yakni Perang Bubat. Namun demikian, diharapkan bahwa Jawa Barat dapat menjadi pintu masuk bagi rekonsiliasi nasional yang beberapa tahun lalu kencang didengungkan oleh berbagai pihak.
Dengan thema itu, semua diingatkan bahwa Indonesia bukan hanya Satu Bangsa dan Satu Tanah Air tapi juga Saudara (Satu Udara). Dengan langkah ini, seluruh bangsa mulai berekonsiliasi atas peristiwa yang dialami dan disaksikan. Sehingga tak ada dendam, tak ada amarah dan bersama-sama Indonesia memaknai sejarah yang terjadi dalam bangsa ini.
Sejak zaman kerajaan hingga usia 62 tahun kemerdekaan, perjalanan bangsa Indonesia diwarnai pertikaian antar golongan, agama, suku atau ras yang berakibat pada jatuhnya korban. Rekonsiliasi yang sudah didengungkan sejak munculnya orde reformasi tak dapat dimulai karena tak diketahui di mana pintunya.
Sejarah (HISTORY) mengajarkan, kekuatan sering digunakan untuk melanggengkan kekuasaan dan begitu pula sebaliknya. Sejarah juga mengajarkan, ketika kekuatan dan kekuasaan bersatu menjadi ambisi pribadi atau ideologi golongan, pada saat itu pula harga harus dibayar dengan jatuhnya para korban.
Sejarah juga menulis, bagaimana pihak yang berkuasa memberikan alasan pembenar atas tindakannya dengan membuat catatan versi dirinya, versi penguasa, versi yang kuat (HIS STORY). Dikemudian hari, publik mulai berdebat, berseteru & saling mendendam hanya untuk mencari siapa yang benar & siapa yang salah meski fakta sejarah tetap menjadi misteri yang tak terkuak.Yang terjadi kemudian adalah, tiap pergantian pemerintah selalu ada tuntutan untuk menyelesaikan kasus per kasus atas nama keadilan bagi para korban.
Dengan sarasehan kebangsaan di Bandung ini, semua belajar untuk memaknai sejarah dan peristiwa pahit dan kelam merupakan pelajaran yang baik untuk membangun Indonesia lebih baik lagi di masa mendatang.
Indonesia mampu bangkit dan membangun negara kembali jika mampu memaknai perjalanan bangsa ini. Sehingga peristiwa kelam yang terjadi setelah Indonesia merdeka dapat dimaknai dengan lebih bijaksana. Peristiwa yang disaksikan bersama akan menjadi sejarah dalam masa 50 tahun lagi. Semua ini dilakukan demi masa depan generasi Indonesia mendatang
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang