Hade Protes Jalan Santai

Kompas.com - 07/04/2008, 12:36 WIB

TIM advokasi pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf atau Hade mengajukan protes kepada Panitia Pengawas Kabupaten Purwakarta terkait dengan kegiatan jalan santai di Alun-alun Kiansantang, Purwakarta, Minggu (6/4). Mereka menilai kegiatan itu sebagai kampanye pasangan Danny Setiawan-Iwan R Sulandjana atau Dai di luar jadwal yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Jawa Barat.

Ketua tim advokasi pasangan Hade Purwakarta Suwarso menyatakan keberatan itu karena dalam acara bertajuk jalan santai tersebut terdapat atribut kampanye. Selain kaus yang dikenakan peserta, dalam kegiatan tersebut juga dipasang umbul-umbul dan poster besar bergambar pasangan Dai.

Selain ratusan warga yang mengenakan kaus bergambar Dai, pengurus dan Ketua DPD Golkar Purwakarta yang juga Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi hadir dalam kegiatan itu. Bahkan, pemandu acara dan sejumlah pengurus beberapa kali meneriakkan yel-yel dan meminta dukungan untuk mencoblos pasangan Dai.

Ujang Wardi, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Purwakarta, menolak kegiatan itu sebagai kampanye. Selain tidak ada juru kampanye, pihaknya juga tidak membagikan kaus dan memasang atribut kampanye lainnya. Menurut dia, massa yang hadir sudah memiliki kaus hasil pembagian sebelumnya.

Ujang menambahkan, pihaknya telah memberitahu kepolisian, Panwas, dan Musyawarah Pimpinan Daerah Purwakarta sepekan sebelum acara itu digelar. Ia mengungkapkan, rute yang digunakan berbeda sehingga tidak akan mengganggu atau berbenturan dengan kegiatan tim Hade.

Danny Setiawan saat berkampanye di Lapangan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, menyatakan tidak tahu-menahu tentang hal itu. Ia mengaku tidak tahu siapa yang menyelenggarakan kampanye tersebut. Ia menambahkan, jika memang tim kampanye pasangan Hade akan melaporkan hal itu, itu adalah hak mereka.

Ketua Panwas Kabupaten Purwakarta Adjat Sudrajat mengatakan, pihaknya menerima surat izin pelaksanaan jalan santai dari Pemuda Pancasila Purwakarta, Jumat pekan lalu. "Apakah kegiatan itu merupakan kampanye atau bukan, kami akan menyelidikinya dengan mengumpulkan bukti-bukti terlebih dulu," ujarnya.

Pelajaran politik

Sementara itu, pemilihan bupati dan wakil bupati Sumedang yang bersamaan dengan pemilihan gubernur Jabar menjadi pembelajaran politik yang berharga. Misalnya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Kebangkitan Bangsa yang berkoalisi dalam mengusung pasangan Agum Gumelar-Nu'man Abdul Hakim akan bersaing dalam pemilihan bupati Sumedang.

"Inilah yang harus dilihat oleh masyarakat, kedewasaan dalam berpolitik. Di satu kesempatan kita menjadi lawan politik, tapi di sisi lain justru menjadi rekan," kata Ketua Dewan Pengurus Cabang PPP Kabupaten Sumedang Dony Ahmad Munir, pekan lalu.

Di Kuningan, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengatakan, pemilihan gubernur Jabar kali ini seolah merupakan perang bintang. Pada pasangan Dai ada Iwan Sulandjana, mantan panglima Kodam berbintang dua; pasangan Aman memiliki Agum Gumelar yang berbintang empat; sedangkan pada pasangan Hade ada bintang sinetron. "Tetapi, saya minta umat Muslim tidak terpecah belah selama proses pemilihan gubernur," kata Bachtiar. (MKN/ADH/ELD/THT)

Sumber: Kompas Jabar (7/4) Halaman C

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau