Aulia Pohan Tetap Tak Mau Bicara

Kompas.com - 07/04/2008, 17:00 WIB

JAKARTA, SENIN - Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aulia Pohan tetap enggan bicara meski meski sempat kepergok wartawan saat keluar dari pintu samping gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Dia bahkan menyangkal tentang pemeriksaannya yang terkait dengan kasus penyalahgunaan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia sebesar Rp 100 miliar.

"Enggak,,, enggak,,, bukan," ujarnya kepada wartawan sambil menuju ke tempat parkir mobilnya di gedung KPK, Senin (7/4). Begitu pula saat dia ditanya mengenai jabatannya saat kasus tersebut bergulir. Dia hanya menjawab, "Saya bukan itu... bukan,"  ketika wartawan menanyakan apakah jabatannya saat itu sebagai dewan pengawas.

Sesudah itu, Aulia yang mengenakan kemeja lengan pendek berwarna merah muda, celana panjang hitam, dan topi biru gelap pun segera menuju mobilnya. Juru Bicara KPK Johan Budi SP mengatakan, Aulia datang pada pagi tadi. Aulia diperiksa sebagai saksi terkait kasus penyalahgunaan dana YPPI milik Bank Indonesia.

"Aulia diperiksa tadi pagi. Pagiii sekali," kata dia. Selain Aulia, lanjut Johan, KPK juga memeriksa mantan deputi gubernur BI, Maman Sumantri dan Deputi Direktur Pengawasan BI, Erwin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau