Post-Sakhir: Hipnotis BMW

Kompas.com - 07/04/2008, 20:19 WIB

Ferrari menang, biasa. McLaren kalah dari Ferrari juga biasa. BMW? Ini dia sang bintang. Mereka memang belum menang, dan itu bukan kalah lho, tapi lihatlah siapa penguasa konstruktor F1 sekarang.
 
Penampilan BMW di Sakhir memang menyisakan banyak catatan. Robert Kubica menempati pole position, lalu bersama Nick Heidfeld mereka bisa finis 3-4, dan terakhir 11 poin yang mereka dapat itu membawa BMW memimpin klasemen konstruktor. Barangkali, ini hanya barangkali, perbedaan 1 poin yang membedakan BMW pertama dan Ferrari kedua di klasemen itu bakal segera berganti selepas seri berikut di Barcelona. Tapi, keberhasilan ini tetap layak dirayakan walau hanya sebentar. BMW benar-benar sudah bukan tim papan tengah lagi, tapi menuju papan atas biar banyak yang bilang belum papan atas sungguhan.

Kenapa belum masuk kategori papan atas? Karena BMW masih perlu membuktikan satu hal lagi yang tak mudah: rutin menang. Menang sesekali saja belum bisa dijadikan jaminan tim itu masuk kategori papan atas. Menangnya harus rutin, seperti Ferrari, McLaren, dan Renault demonstrasikan dalam lima tahun terakhir.
 
Ketika Kubica ada di pole, dugaan bahwa dia mengisi bahan bakar lebih sedikit dari Felipe Massa langsung mencuat. Dan itu memang terbukti saat lomba. Kubica masuk pit di lap 17, sementara Massa 21 atau 4 lap lebih lama. Berapa kelebihan bahan bakar (dalam kg) di mobil Massa? Bila dipukul rata 1 lap butuh 2,5 kg, maka ada 10 kg. Jumlah itu kalau dikonversi menjadi lap time, maka kira2 setara dengan 0,3 detik per lap.

Artinya kalau mobil Massa dibuat lebih ringan 10 kg, maka dia bisa 0,3 detik per lap lebih cepat. Jadi, kalau bahan bakar yang terisi di mobil Kubica dan Massa sama, maka pembalap Ferrari itu bakal dengan mudah menempati pole karena selisih Kubica dan Massa hanya 0,027 detik. Hitung-hitungan ini hanya bisa dibuktikan ketika lomba, tapi toh tetap saja pada hari Sabtu semua orang memuji Kubica sebagai pembalap Polandia pertama yang menempati pole position di F1.
 
Masuk ke lomba. Ketenangan Massa, dan juga Kimi, bahwa race pace (kecepatan relatif rata-rata saat lomba) mereka akan menjadi kartu as langsung terbukti. Bermodal start bagus, Massa bahkan dengan mudah menyusul Kubica sebelum tikungan pertama. Kimi pun tak mau kalah, 1 lap berikut dia melewati Kubica. Setelah itu, kedua pembalap Ferrari tinggal mengatur lomba dan tanpa perlu dikalkulasi sulit pun mereka akan finis 1-2.
 
Yang menarik adalah mobil-mobil di belakang mereka. BMW yang diprediksi bakal langsung tertinggal jauh dari Ferrari ternyata tidak juga. Biasanya Ferrari bila sudah unggul langsung membuat jarak bak deret ukur, 1 detik, 2 detik, 4 detik, 8 detik, dst. Deret itu akan mengecil lagi menjelang finis semata karena mereka sudah merasa aman dan tak perlu mem-push sampai limit kemampuan mobil.

Di Sakhir itu tak terjadi. Jarak yang dibuat Massa dan Kimi terhadap Kubica memang sempat membesar, tapi begitu memasuki lap tertentu langsung tertahan. Ini membuktikan BMW pada saat tertentu sudah bisa menyamai kecepatan Ferrari. Yang menarik dari pengakuan Kubica adalah, dia tak bisa meladeni Ferrari pada beberapa lap awal lomba karena trek licin dan ia sempat nyaris tergelincir karena banyak oli di trek. Setelah mengering, barulah race pace-nya terjaga dengan baik.
 
The Leading Constructor
Memiliki wind tunnel tercanggih mulai dirasakan manfaatnya oleh BMW. Mereka juga tak gegabah ingin memusatkan seluruh operasional mereka di Munich. Hinwil, kota kecil di Swiss, tetap dijadikan salah satu basis. Kenapa? Karena di situlah terletak terowongan angin paling heboh di F1 saat ini. Model wind tunnel di Hinwil itu bakal ditiru oleh semua tim, tak terkecuali Ferrari.

Lalu, apanya yang hebat? Menurut mereka, salah satu kunci adalah penggunaan CFD atau Computational Fluid Dynamics. CFD adalah komputer penganalisa sifat fluida yang bergerak di sekitar objek. Objek di sini tentu adalah mobil balap, atau lebih khusus sasis mereka, F1.08. Lalu, berkat bantuan superkomputer bernama Albert2 mereka bahkan sudah bisa membuat simulasi setiap jenis tikungan di F1. Jadi, ketika wind tunnel tim-tim lain baru mampu membuat analisa aerodinamika dengan kondisi sang objek, mobil F1, statis, maka CFD dan Albert2 sudah lebih maju, seolah-olah sasis itu bergerak secepat mereka ada di trek.
 
Tapi, teknologi saja tanpa determinasi dan kemauan keras tak akan berguna. Kebetulan, Mario Theissen sebagai bos besar BMW punya pegangan yang realistis. Ia tak mau gegabah menentukan target. Setahap demi setahap. Yang saya salut, ia tak membuat begitu saja nama Sauber sebagai nama resmi tim, walau sebenarnya bisa saja BMW membuangnya. Sauber, dari Peter Sauber, adalah tim yang dibeli dan disulap oleh BMW.

Tim private ini lalu diubah menjadi tim konstruktor utuh. Mesin dan sasis mereka buat sendiri, seperti halnya Ferrari, Renault, Toyota, dan Honda. Kalau disuruh iri, jelas Mercedes pasti iri karena reputasi mereka di F1 jauh lebih bagus dari BMW tapi mereka tak memiliki tim konstruktor sendiri. Mereka nebeng nama top McLaren. Setelah membeli Sauber, BMW tak lantas membuang orang-orang Sauber. Bahkan markas mereka di Hinwil dipertahankan, semata karena ada wind tunnel jenius di sana.
 
Kenapa wind tunnel jadi berperan besar saat ini, bukan lagi dipengaruhi oleh mesin? Sejak FIA memberlakukan engine freeze, alias mesin yang dipakai di F1 tak boleh lagi dikembangkan secara besar-besar sejak 2007, maka satu-satunya cara kalau ingin lebih cepat adalah dengan mengembangkan aerodinamika mobil. Kebetulan, ketika mesin BMW yang didaftarkan ke FIA pada akhir 2006 itu "dibekukan", mesin itu sudah termasuk salah satu yang tercepat dan yang terpenting, tidak mudah ngadat. Fast and reliable adalah mesin idaman di F1.
 
Tanpa pembalap yang bagus pun BMW tak akan bisa seperti ini. Kubica bagi mereka adalah investasi, seperti halnya Hamilton di McLaren, Nico Rosberg di Williams, dan Sebastian Vettel di (Ferrari). Kenapa tanda kurung? Karena Vettel masih membela Toro Rosso yang bermesin Ferrari dan Vettel sudah jelas-jelas dipantau oleh mesin Italia itu. Selain Kubica, ada pula Heidfeld, pembalap senior yang selalu konsisten mempersembahkan poin. Perpaduan Heidfeld-Kubica saat ini memang pas bagi BMW, paling tidak untuk terus membawa mereka ada di podium.
 
Target sekali saja menang tahun ini rasanya akan mereka capai. Di mana? Ini agak sulit dijawab. Dari analisis kekuatan saat ini, kemungkinan terbesar tetap di Monako atau Hongaria, karena kedua sirkuit itu bisa mencegah Ferrari melaju lebih kencang. BMW rasanya saat ini sudah di atas McLaren, melihat hasil GP Malaysia dan Bahrain. Sejelek-jeleknya, kedua tim ini setara. Jadi, kalau kita anggap development yang mereka lakukan paralel, maka BMW hanya perlu berpikir tentang bagaimana mengalahkan Ferrari kalau ingin menang.
 
Comeback Massa
Seperti tahun lalu, Massa "memulai" peperangan merebut titel dunia juga di Sakhir. Tapi, beberapa kesialan yang menimpanya, di antaranya masalah teknis yang berasal dari mobil Ferrari, membuat dia seolah-olah tak konsisten. Ujung-ujungnya, dia dinyatakan tak bisa jadi juara dunia dan harus menolong Kimi pada tiga seri terakhir.
 
Tentu, pengalaman 2007 itu tak akan ia ulangi. Ia baru dapat 10 poin, sementara Kimi yang sedang memimpin perolehan poin pembalap baru 19 poin. Di antara mereka ada Heidfeld dengan 16 poin dan trio berangka 14, Hamilton, Kovalainen, dan Kubica. Kalau penampilan Massa konstan seperti di Bahrain, dan para rival juga begitu, maka diprediksi ia baru akan bisa "mendampingi" Kimi pada tiga seri ke depan.
 
Comeback Massa sudah terlihat ketika ia selalu jadi yang tercepat sejak free practice Jumat. Waktu yang dibuatnya, bersama Kimi, tak tertandingi oleh pembalap-pembalap lain. Memasuki Sabtu, teori perang Ferrari diubah. Dari high profile pada Jumat menjadi low profile. Massa dan Kimi tak ngotot untuk membuat waktu tercepat, termasuk saat kualifikasi yang hasilnya dipastikan menjadi headline di seluruh pemberitaan dunia. Determinasi kuat harus bisa mengalahkan diri sendiri membuat Massa tak tersentuh, bahkan oleh Kimi. Ketika Massa unggul 0,3 detik atas Kimi di kualifikasi, kalkulasi mudah langsung mengarah pada satu teori: Kimi pasti masuk pit belakang.

Keliru! Justru Massa yang masuk pit satu lap sesudah Kimi. Bayangkan, dengan bahan bakar lebih banyak saja, atau katakanlah relatif sama, Massa bisa secepat itu. Bagaimana kalau benar-benar bahan bakarnya lebih ringan 10 kg seperti uraian sebelumnya di atas? Dari sini saya simpulkan bahwa bintang sesungguhnya di babak kualifikasi adalah Massa, bukan Kubica. Kubica disorot dunia hanya karena dia ada di depan dan itu sejarah buat BMW, buat dia, dan buat Polandia.
 
Saat lomba Massa berhasil membuang semua trauma yang mungkin dibawanya dari Australia dan Malaysia. Tak ada lagi kesalahan, perfect race. Satu-satunya catatan yang tak terbawa Massa adalah ia tak membuat fastest lap. Tapi buat apa? Toh ia mengaku sudah back-off (main aman) menjelang finis karena posisi 1-2 sudah aman buat dia dan Kimi.
 
Where are McLaren?
Kualifikasi kalah, lomba lebih kalah lagi. Apakah kalau Hamilton tidak membuat dua kesalahan beruntun saat lomba ia bisa finis di depan Kubica? Saya lihat tidak seperti itu. Kesalahan pertama Lewis terletak saat dia salah pencet tombol menjelang start. Saat itu mesin mobilnya malah nyaris mati dan membuat dia dengan mudah disusul oleh beberapa pembalap sekaligus.

Lalu, second mistake, ketika dia yang sudah terjebak di traffic memaksa ingin menyusul Fernando Alonso. Sial, antisipasinya salah. Mestinya dia tahu mobil Alonso tak secepat mobilnya, jadi cukup bersabar menunggu trek lurus untuk menyusul Alonso pasti kalah. Tapi, Lewis memaksakan diri menyusul selepas tikungan ketika mobil sama-sama berakselerasi. Karena akselerasi mobil Renault Alonso yang ada di depannya tak sebagus McLaren miliknya, jelas saja ia menabrakkan mobilnya ke Alonso.

Ada unsur kesengajaan? Telemetri yang diberikan tim Renault menjawab, tidak! Alonso tetap kencang, hanya Lewis lebih kencang tapi salah antisipasi. Lewis pun mengaku ia salah dan membuat kecewa McLaren.
 
Lalu, ke mana Heikki Kovalainen? Di trek ia dengan mudah disusul oleh Heidfeld dan Heikki tak bisa menyusul balik sampai finis. Dari sini saya berhitung, seandainya Lewis tetap berlomba normal, ia tak akan bisa menyusul Kubica. Bahkan, kalkulasi saya melihat dia yang start dari posisi 3 pun bakal dilewati oleh Heidfeld.

Kenapa? Karena Heidfeld ternyata tetap kencang walau bahan bakar di mobilnya lebih banyak saat kualifikasi. Jadi, ketika bahan bakar sudah relatif sama saat lomba kecepatan bisa bertambah secara relatif. Ini terbukti dari persaingan Heikki dan Heidfeld yang dimenangkan Heidfeld.
 
Jadi, ketika McLaren masih memimpin klasemen konstruktor selepas GP Malaysia dan satu seri berikut langsung turun di peringkat tiga, walau perbedaan poin amat tipis, 2 poin, dengan peringkat pertama, tetap saja ini lampu kuning buat mereka. Mobil mereka tak lagi kencang dan jelas-jelas sulit bersaing dengan BMW, jangan dulu sebut Ferrari saat ini.
 
Mereka janji akan ada revised besar-besaran pada paket mobil mereka, MP4-23, untuk seri berikut di Barcelona, Spanyol. Tapi ingat, semua tim melakukan hal sama. Yang dibutuhkan saat ini adalah improvement lebih relatif terhadap rival. Sulit mengemukakannya, karena biasanya memang pengembangan di F1 itu tak kasat mata. Jadi kalau pada seri berikut McLaren bisa lebih cepat dari BMW, baru mereka memang benar-benar melakukan big improvement.

Saya sendiri menilai saat ini McLaren adalah tim terbaik ketiga di F1. Fastest lap yang dibuat Kovalainen menjelang GP Bahrain berakhir tak bisa dijadikan barometer, karena saat itu semua tim sudah bermain aman menuju garis finis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau