Diplomasi Internasional untuk Tanggulangi Flu Burung

Kompas.com - 07/04/2008, 21:08 WIB

DEPOK, SENIN - Penyebaran virus flu burung baik pada unggas dan manusia di sejumlah negara terus bermunculan. Jika penanganan penyebaran flu burung lamban, maka ancaman pandemi influenza akan kian nyata. Untuk itu, diplomasi bidang kesehatan di kancah internasional sangat diperlukan demi menciptakan mekanisme penanggulangan flu burung yang adil dan transparan.

Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam kuliah umum bertema Avian Diplomacy: Facing teh Challenges of Technology and Global Capitalism , di hadapan para mahasiswa di auditorium Bumiputera, kampus FISIP Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Dalam acara itu, Menkes juga memaparkan secara ringkas mengenai isi buku karyanya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

Ia menjelaskan, di tengah upaya mencari obat flu burung dengan alasan penentuan diagnosis, Badan Kesehatan Dunia memerintahkan negara di mana ditemukan kasus flu burung pada manusia untuk mengirim sampel virus tersebut ke laboratorium rujukan WHO. Pada kenyataannya, sampel virus itu malah digunakan untuk kepentingan komersial oleh perusahaan farmasi tanpa se pengetahuan Pemerintah Indonesia.

Terkait hal itu, pihaknya memutuskan menghentikan pengiriman sampel virus hingga WHO mengubah mekanisme pengiriman sampel virus yang adil dan transparan. Dengan mekanisme yang lama, negara pengirim sampel virus tidak mendapat manfaat apa pun ketika sampel virus itu dijadikan kandidat vaksin oleh perusahaan farmasi dari negara-negara maju. Bahkan, mereka harus membeli vaksin atau obat dengan harga sangat mahal.

Maka dari itu, pihaknya menuntut agar mekanisme pengiriman sampel virus menggunakan perjanjian transfer bahan (MTA). Negara pengirim juga berhak mendapat manfaat baik berupa transfer teknologi maupun kemudahan mendapat vaksin dengan harga murah. "Dengan diplomasi bidang kesehatan yang baik, maka mekanisme pengiriman sampel virus yang telah berjalan selama puluhan tahun dan sangat merugikan negara-negara berkembang bisa diubah," ujarnya.

Diplomasi internasional sangat penting dalam upaya mewujudkan pemberantasan penyakit menular berpotensi wabah termasuk penyakit zoonosis. Agar perubahan mekanisme pengiriman sampel virus itu bisa berkelanjutan, maka kini setiap sampel virus yang dikirim telah menggunakan MTA. "Tanpa adanya perjanjian antara negara pengirim dengan lembaga penerima, maka Indonesia tidak akan mengirim sampel virus. Perubahan ini juga berlaku secara internasional," kata Fadilah. (EVY)           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau