[Kalau kita mau memberi karena punya banyak, itu biasa. Tapi, kalau kita kekurangan dan masih rela berbagi, tak semua kita bersedia melakukannya.]
KONTROVERSI program Bantuan Langsung Tunai (BLT) mungkin sudah lengser sebagai primadona pemberitaan. Di tengah pro dan kontra, inisiatif pemerintah membantu warganya yang miskin itu berjalan relatif lancar. Rasanya hanya segelintir kita yang merasa masih kekurangan nekat melepas tiga ratus ribu rupiah di depan mata nyaris tanpa usaha apa pun alias cuma-cuma. Diakui atau tidak, kebanyakan kita kerap enggan mengurangi, apalagi melepaskan keuntungan.
Tapi, bacalah sebuah feature di Harian KOMPAS di saat program BLT masih marak memenuhi headline surat kabar itu. Saya lupa tepatnya tanggal berapa berita kategori humaniora itu muncul di halaman pertama. Yang saya ingat, cerita ringan itu membuat bulu kuduk saya merinding mengetahui betapa besar jiwa saudara-saudara kita - justru di saat berada dalam situasi serbakekurangan. Alih-alih menjadi rakus dan egois, mereka dengan suka hati membagi keberuntungan mereka yang sesungguhnya sangat berarti.
Dikisahkan di sejumlah desa muncul gerakan solidaritas spontan dari penerima BLT. Bukan untuk gotong-royong menyewa angkutan umum untuk menuju kantor pos terdekat mengambil uang gratisan, namun secara sadar memotong jatahnya masing-masing untuk diberikan kepada sesama warga miskin yang tidak terdata sebagai penerima BLT. Ada yang secara personal langsung memotong jatahnya untuk diberikan kepada tetangga, ada juga sebuah desa yang mengumpulkan semua uang BLT kemudian dibagi rata kepada seluruh warga miskin.
"Kami semua sama-sama miskin. Kalau ada yang dapat BLT dan ada yang tidak, rasanya tidak enak. Maka kami sepakat membagi uang kami untuk mereka yang tak kebagian. Kami susah sama-sama dan senang sama-sama," jelas seorang warga tentang gerakan solidaritas spontan itu. Padahal, di tempat lain, jamak kita baca orang saling bunuh hanya untuk berebut beberapa ribu perak saja. Atau oknum pejabat yang sampai tega menguasai harta rakyat dalam jumlah miliaran rupiah!
Mereka memang miskin. Tapi, kekurangan itu tak menghalangi membuhulnya panggilan nurani untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Aston Villa juga terbilang melarat di antara klub-klub kaya di Inggris dan Eropa. Baik itu dari sisi pencapaian prestasi maupun dari ukuran finansial. Bandingkan dengan Manchester United, Chelsea, Liverpool, dan Arsenal yang dikenal sebagai pelopor tren klub sepak bola sebagai profit center. Harta Aston Villa jelas tak ada apa-apanya dibanding milik rival-rivalnya.More...
Maka kalau berbicara soal kepantasan ber-charity, seharusnya klub-klub elite itulah yang pertama-tama harus berada di garis terdepan. Uniknya, justru Aston Villa yang berani mempelopori gerakan "pemotongan potensi keuntungan klub" untuk dibagikan kepada pihak lain. Tepatnya kepada Acorns Children's Hospice - sebuah lembaga nirlaba yang peduli pada anak-anak yang divonis secara klinis tidak bisa hidup lama dan menguatkan keluarga para penderita yang amat sangat membutuhkan dukungan.
Bagaimana caranya? Sudah dua tahun belakangan ini, sejak tahun 2006, Aston Villa FC memberikan donasi kepada lembaga tersebut - baik dalam bentuk finansial maupun dukungan penuh terhadap gerak organisasi itu. Dalam situs lembaga tersebut ditulis bahwa klub berjuluk The Villans itu sudah membantu pembiayaan lembaga itu setara dengan biaya 230 hari perawatan. Bukan jumlah yang sedikit tentunya.
Bentuk dukungan lain, di tengah-tengah padatnya jadwal kompetisi, para pemain secara berkala mengunjungi para anak malang itu beserta keluarga dan jajaran perawat - sekadar berkomunikasi sejenak untuk menghadirkan sesungging senyuman yang sangat berharga mengisi hari-hari singkat mereka di dunia. Kegiatan yang sepertinya sangat sederhana, namun berdampak besar pada sisi psikologis para pasien.
Merasa tak cukup dengan upaya tersebut, mulai musim depan secara mengejutkan manajemen klub memutuskan untuk mengisi ruang sponsor di kostum mereka dengan brand Acorns. "Manajemen klub menilai kerja sama ini lebih penting dan lebih bernilai dibandingkan semua penawaran lain," demikian penjelasan yang dimuat di situs resmi klub tentang model kerja sama baru yang diberi nama "shirt pertnership".
Istilah baru untuk menggantikan terminologi "shirt sponshorship" yang selama ini dikenal publik. Sebagai informasi, Manchester United mampu meraup tambahan dana sebesar 56,6 juta pounds dari AIG sebagai sponsor kostum. Bayangkan betapa besarnya potensi sebuah klub di Liga Inggris menjual ruang di dada kostumnya kepada sponsor.
Sangat menggiurkan.
Manajemen The Villans secara sadar mengorbankan potensi pendapatan puluhan juta pounds dari deal bisnis kostum mereka itu untuk memberi ruang dalam membangun kesadaran publik terhadap upaya komunitas lokal mengusung nilai-nilai kemanusiaan. Nilai yang dianggap sama besar, bahkan lebih besar daripada sekadar menjual ruang di dada tiap pemain untuk memajang brand yang berasosiasi kepada sponsor tertentu.
Sebuah tradisi dan nilai dasar klub yang ingin tetap dijaga meski menyadari pentingnya sisi ekonomis bagi kehidupan mereka sebagai klub sepak bola profesional. Posisi Aston Villa terbilang unik. Mereka adalah klub paling tradisional di antara klub-klub lain. Predikat yang diramal bakal segera luntur sejak saham kepemilikan klub dibeli oleh pengusaha asal Amerika Serikat, Randy Lerner.
Faktanya, pengusaha kaya raya yang dituding bakal memaksimalkan keuntungan pribadinya itu justru mendukung seratus persen keterlibatan klubnya pada sejumlah kegiatan sosial kemasyarakatan. Salah satunya, kesediaan Lerner melepas uang senilai 4 juta pounds untuk merenovasi pub di dekat stadion yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang klub.
"Ini bukan persoalan mengumpulkan dana, namun upaya membangun kesadaran. Klub tidak akan menyumbangkan uang sebagai bagian dari kerja sama ini, namun berharap akan semakin banyak pihak yang peduli dan terlibat dalam aktivitas Acorns menolong anak-anak kita dan keluarganya yang menderita. Saya rasa belum ada klub lain di Inggris yang melakukan upaya seperti yang kami lakukan sekarang," kata juru bicara klub.
Memang, sebelumnya Barcelona di Spanyol sudah terlebih dahulu memajang logo UNICEF sebagai bentuk kepedulian pada aktivitas lembaga pendidikan underbow PBB itu. Bahkan, El Barca juga mengeluarkan dana senilai 1,5 juta euro per tahun sebagai donasi kepada UNICEF.Tidak terlalu menggegerkan karena memang secara tradisi klub itu tak pernah mau memasang logo sponsor di kostum mereka. Secara finansial, tanpa skema shirt sponshorship pun mereka sudah masuk kategori klub berkelebihan.
Berbeda dengan The Villans yang dikenal bukan klub kaya. Mimpi merenovasi atau membangun stadion baru pun sampai hari belum terlaksana karena kekurangan anggaran. Dalam situasi tuntutan meningkatkan pendapatan, mereka masih berani kukuh memegang nilai-nilai yang mereka percayai. Kepercayaan yang sangat boleh jadi berlawanan dengan arus modern dewasa ini.
Sama saja dengan saudara-saudara kita di atas. Di saat orang lebih suka memupuk kekayaan pribadi, mereka rela mengurangi rejeki yang pas-pasan untuk sesama yang juga membutuhkan.
Mari kita lihat diri kita sendiri: sudahkah kelebihan yang kita miliki bersedia kita bagi kepada sesama yang membutuhkan uluran tangan kita?
(Angryanto Rachdyatmaka, wartawan Tabloid SOCCER – injurytime.dagdigdug.com)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang