Pebisnis Harus Tetap Pantau Fluktuasi Kurs

Kompas.com - 09/04/2008, 00:52 WIB

JAKARTA, RABU - Krisis moneter global tidak saja mengganggu perekonomian negara. Langsung maupun tidak langsung, perusahaan-perusahaan atau korporat pun akan terimbas. Untuk menghindari kemungkinan terburuk, korporat diimbau agar lebih prudent, hati-hati. Misalnya melindungi transaksi (ekspor impor) dengan asuransi, lebih hati-hati mengambil risiko, dan terus jeli mencermati fluktuasi kurs.

"Krisis saat ini bermula dari sub-prime mortgage Juli 2007 yang dipicu. kredit properti atau KPR yang direkayasa di Amerika. Terus dampak terasa sampai pada produk derivatif pasar modal," ujar pengamat pasar modal, Farial Anwar, di Jakarta, Selasa (8/4).

Pengamat pasar uang dari Kuo Capital, Edwin Sinaga menuturkan sejak kasus subprime mortgage pada sektor properti yang mengguncang pasar modal Amerika Serikat, investor asing sempat menarik dananya dari pasar modal Indonesia. Akibatnya, perbandingan modal asing dan domestik di pasar modal sempat berimbang, 50:50. Namun belakangan, modal asing kembali mendominasi pasar modal, hingga 60:40, atau bahkan lebih.

Dana pemodal asing sangat dinamis. Dana asing sangat mudah keluar masuk ke pasar modal, misalnya dengan memborong obligasi negara atau ke bursa saham. Hingga saat ini, belum ada dana asing yang langsung masuk pada direct investment, atau sektor riil berjangka panjang.

"Saya sih tidak menganggap ini bahaya, tapi jangan sampai nanti, menimbulkan ketidakstabilan karena mereka dapat angkat kaki dengan cepat. Ini yang harusnya diimbangi pemrintah, agar dana mereka
bertahan cukup lama, kalau perlu dirumuskan dari modal jangka pendek menjadi jangka panjang. Misalnya, membenahi sektor riil sehingga ada foreign investment yang masuk. Pasar modal dapat mendukung ini dengan
memperbanyak perusahaan masuk bursa (IPO)," usul Edwin.

Apa yang akan dilakukan pemerintah dan pebisnis mengantisipasi kemungkinan terburuk? "Pemerintah kita sebenarnya tidak ada yang dapat melakukan banyak hal. Tetapi perusahaan, harus memperhatikan nilai
fluktuasi, dan mengelola risikonya. Jangan biarkan risiko atau kewajiban tanpa perlindungan yang baik," ujar Farial, yang juga Managing Director Currency Management Group.

Edwin pun  mengatakan hal senada, pelaku bisnis harus ekstra
hati-hati. "Korproat harus meningkatkan asas prudent, hati-hati. Kita harus prepare terhadap segala kemungkinan, kondisi terjelek yang mungkin terjadi andai ekonomi global terus memburuk," ujarnya.

Pemerintah, sebaiknya hati-hati membuat kebijakan sehingga berpihak pada sektor riil, sebaliknya swasta dapat menempatkan diri sebagai mitra aktif dan berkoordinasi pemerintah memberi masukan- masukan
sehingga kebijakan yang ditetapkan pemerintah tidak kontraprestasi. Jangan mengambil kepentingan sendiri. (Persda Network/domuara ambarita)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau