Soal Lagu, BK DPR Tak Bersikap

Kompas.com - 09/04/2008, 01:27 WIB

JAKARTA, SELASA - Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR RI, Gayus Lumbuun mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mengambil sikap apa-apa terkait polemik lirik lagu grup band yang mencoreng institusi DPR. Mereka hanya akan mendiamkan lirik lagu yang menyentil keberadaan DPR sebagai sarang korupsi.

Sikap itu diambil karena BK DPR beranggapan, masyarakat tidak menangkap maksud dan tujuan BK DPR mengangkat lagu itu untuk dievaluasi. "DPR tidak akan bersikap, DPR akan mendiamkan. Tidak usah dievaluasi kami pendam saja. Itu karena kita tidak mau dianggap mentang-mentang," ujar Gayus Lumbuun, Selasa (8/4).

Dikatakan politisi dari Fraksi PDIP ini, niat baik BK DPR untuk mengevaluasi sesuatu hal agar berjalan lebih baik tidak ditangkap sepenuhnya oleh masyarakat. Justru, kata dia, dalam beberapa komentar dari berita di website, publik malah menyerang institusi DPR. Publik kata Gayus, tidak mau memahami niat baik BK yang mendidik rakyat yang mewakilinya.

"Dari semua website yang saya baca terkait berita tersebut, masyarakat tidak mengerti tujuan sebenarnya dari BK DPR. Kita ingin mendidik para seniman yang menghasilkan karya untuk konsumsi publik agar lebih sopan. Tapi justru publik ber-euforia menyalahkan DPR. Kita dianggap DPR beraninya sama grup band ini, kita dianggap arogan," lanjut dia.

Gayus mengatakan, kalau masyarakat lebih jeli, mereka harusnya merasa jijik dengan lirik lagu tersebut yang kata jika dicermati dari awal sampai akhir, liriknya sangat tidak patut. Ia mengharap agar masyarakat tidak hanya melihat lirik yang menyebut mafia di Senayan, tapi juga lirik lainnya.

Ia menyebut bahwa adalah hak setiap warga negara untuk berekspresi. Tapi, lanjut Gayus, berekspresi itu yang harus patut dan tidak melanggar ekspresi. "Biar publik yang menilai. Yang terpenting kita sudah punya itikad baik untuk mengingatkan bahwa grup band ini semestinya lebih hati-hati untuk menulis lagu yang tidak menista, apa seperti itu musik kita," lanjut dia.

Politisi yang dikenal vokal ini juga menyebut bahwa pihaknya sudah memberikan laporan kepada Ketua DPR Agung Laksono. Dan Agung menyetujui sikap BK soal DPR tidak akan mengambil sikap karena tidak mau dianggap mentang-mentang.

Gayus juga mengkritisi grup band agar ke depannya menulis lagu dengan santun. Ia juga menyentil ucapan personil grup band itu yang katanya hanya menyitir gosip di jalanan dalam menulis lirik lagu itu. "Bisa saja saya maki-maki orang, ngomong jorok karena omongan orang dan berkata ini bukan kata saya lho, apa itu dibolehkan. Lakukan itu dengan baik, jangan masuk wilayah politik karena khawatir aka dipolitisasi, " lanjut dia.

Gayus menyebut bahwa BK DPR sebenarnya tidak pernah punya rencana untuk membawa polemik kasus itu ke jalur hukum. BK DPR kata dia tidak pernah punya niatan untuk menggugat. "Kita hanya akan mengevaluasi, kemungkinannya yah menegur, mempertanyakan, apa Senayan itu DPR. Tapi kita mnelihat respon publik kok malah menyerang DPR bukan memahami," pungkas Gayus. (Persda Network/had)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau