Suku Bunga Pinjaman Langsung Naik

Kompas.com - 09/04/2008, 02:02 WIB

JAKARTA, RABU - Mengantisipasi memburuknya perekonomian global, bank perkreditan rakyat (BPR) yang tergabung dalam  Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia  (Perbarindo) akan segera menaikkan suku bunga pinjaman jangka menengah dan panjang. Adapun bank komersial masih terus memantau serta mengevaluasi kondisi terkini, jika memang situasi memaksa maka kebijakan menurunkan atau menaikkan suku bunga akan ditempuh .

Demikian dikatakan Ketua Umum Perbarindo Said Hartono, dan Senior Vice President Corporate Secretary Bank Mandiri Mansyur S Nasution kepada Persda Network, Selasa (8/4).

"Ini sudah mulai mengkhawatirkan apalagi SUN diambil alih pemerintah. Gejolak mulai ada dan kalau sudah begini, susah dihentikan. Apalagi sejak tahun lalu, kekhawatiran kemungkinan terjadinya krisis itu sudah ada dilontarkan para pengamat ekonomi," kata Said Hartono.

Rabu ini, jajaran pengurus Perbarindo akan menggelar rapat membicarakan kondisi perekonomian global yang bergolak ini. "Terus terang, ada kekhawatiran, apa yang diramalkan pengamat ekonomi, adanya kondisi-kondisi krisis moneter akan terulang kembali. Enam puluh persen saya yakin akan terjadi krisis berulang. Sebelumnya, pertengahan 2007, sudah ada sinyalemen," ujar Said.

Kemarin, lanjut Said, dirinya mengikuti seminar di Bank Indonesia. "Pembicara dari Bank Indonesia dan lain-lain mengatakan tidak perlu dikhawatirkan, tetapi sebagai pengusaha pasti mengambil sikap dan berjaga-jaga untuk menempatkan dana kepada pihak lain untuk jangka panjang," ujarnya.

Langkah yang akan diambil Perbarindo adalah menerapkan strategi dalam penggalangan dana. Jika sebelumnya, suku bunga pinjaman jangka panjang, pinjaman yang semakin lama bunganya kian murah.
Sedangkan ke depan, suku bunga pinjaman berjangka panjang akan makin besar.

"Selama ini, bunga pinjaman jangka pendek 1, 3 bulan, sama dengan pinjaman jangka panjang, enam bulan sampai satu tahun, yakni 9-10 persen. Ke depannya, semakin panjang jangka pinjaman bunganya semakin besar. Jika pinjaman 1-3 bisa seperti bunga berjalan, tetapi pinjaman 6-12 bulan akan kami naiknya, bisa antara 10,5 - 11 persen," kata Said.

Sebagai sebagai pengusaha di sektor pebankan skala kecil, Said mengaku sudah mengambil sikap, yakni berusaha menggalang dana lebih kuat dari masyarakat dalam jumlah kecil-kecil tapi dari banyak pemilik.

"Kami juga akan mengurangi simpanan atau deposito besar, misalnya mulai Rp 500 juta ke atas. Dan saat bersamaan, pinjaman dikurangi. Simpanan besar sangat riskan dalam perbankan BPR. Jika sewaktu-waktu pemilik dana menarik simpanannya, bisa-bisa terjadi goncangan keuangan, dan lebih buruk berimbas pada nasabah umumnya dan sangat mungkin menimbulkan terjadinya rush," ujarnya.

Kiat aman buat perbankan kelas menengah kecil seperti BPR, kata dia, lebih baik mencari nasabah lebih banyak dengan nilai simpanan kecil-kecil.

Bank komersial besar seperti Bank Mandiri pun akan terus-menerus mengikuti perkembangan makro ekonomi, dan kondisi-kondisi finansial di pasaran. "Kami selalu mengevaluasi masalah isu makro ekonomi, secara
periodik. Kemudian secara mikro, kami pun selalu mengevaluasi struktur neraca perusahaan. Bagaimana proyeksi ke depan akan diputuskan dari hasil evaluasi itu, apakah akan menurunkan atau menaikkan suku bunga tidak bisa dipastikan sekarang," ujar Senior Vice President Corporate Secretary Bank Mandiri, Mansyur S Nasution.

Bank Mandiri, kata Mansyur Nasution, selalu waspada dan selalu menyikapi kondisi-kondisi global. "Turun atau naik, tergantung pada kondisi harga kita. Makro kami perhatikan, tetapi mikro juga dipertimbangkan," tandas Mansyur. (Persda Network/domuara ambarita)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau