Tidak Sebahaya Krismon 1998

Kompas.com - 09/04/2008, 11:11 WIB

JAKARTA, RABU - Bicara ancaman krisis moneter, antara kondisi tahun 1997-1998 dengan sekarang jauh berbeda. Perbedaan yang paling prinsip ada dua. Pertama, dari sisi nilai tukar. Tahun 1997-1998, nilai tukar rupiah melemah sekian kali lipat, sedangkan sekarang, kondisinya relativly.  "Kenapa saya bilang relativly, kalau terjadi pelemahan misalnya, nilai tukarnya akan rebound dalam waktu singkat. Perbedaaan yang kedua, kondisi perbankan sekarang sangat berbeda dibandingkan tahun 1998. Kondisi sekarang jauh lebih baik. Indikatornya, Capital Adequacy Ratio (CAR), dan indikator- indikator lain perbankan menunjukkan hal yang jauh lebih bagus," sebu Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Made Sukada, kepada Persda Network.

Sehingga dua perbedaan yang pokok ini, Made tidak sependapat kalau saat ini dibilang krisis moneter jilid kedua. "Saya secara pribadi tidak sependapat. Bahwasanya, kita mesti hati-hati dan gejala ini harus dicermati saya setuju," tambahnya.

Ditambahkannya, mengenai  IMF yang menjual 403 ton cadangan emasnya dan merumahkan karyawan,  hal itu  merupakan dua hal yang berbeda, IMF dan krisis moneter., karena IMF sekarang dalam proses melakukan pembenahan intern secara besar-besaran. "Ketika saya di IMF, sebagai Alternate Executive Director yang mewakili 12 negara (Brunei, Kamboja, Fiji, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Singapura, Thailand, Tonga, Vietnam), saya ikut membahas masalah ini. Menjual emas, walau saat itu yang kami bahas bukan menjual emas, tetapi meningkatkan kinerja keuangan. Langkah itu diambil, karena dalam dua tahun terakhir, negara yang mau meminjam dana ke IMF memang merosot," jelasnya.

Jangankan peminjam baru, lanjut Made, anggota yang meminjam saja, melunasi utangnya lebih awal seperti Indonesia mengakibatkan sumber pendapatan IMF berkurang, sementara biaya yang dikeluarkan untuk biaya operasional sangat tinggi. "Di mana mencari duit, sementara dana yang dipinjamkan kepada anggota menciut tajam, jadi harus dicari sumber pendanaan, satu di antranya adalah dengan menjual emas yang ada," ujarnya.

Jadi, lanjutnya,  kondisi IMF yang sedang cekak dengan krisis monter tidak terkait langsung. "Kalau kaitannya tidak secara langsung, ya memang ada. Bahkan kondisinya berbalik, karena anggota yang tadinya meminjam tiba-tiba melunasi utangnya lebih cepat, di satu sisi kan ini indikator bagus kepada negara anggota, sehingga bisa melunasi lebih awal. Kalau tidak punya duit, bagaimana mau melunasi," tambah dia. 

Lalu bagaimana signifikansi resesi ekonomi Amerika terhadap perekonomian Indonesia saat ini?, kata dia, Ini ada dua channel. Yang pertama melalui ekspor-impor. Karena Amerika merupakan salah satu mitra dagang, selama ini trade account Indonesia terhadap Amerika surplus. "Kalau kondisi perekonomian Amerika melemah, artinya masyarakatnya mengimpor dari negara lain, termasuk Indonesia akan lebih sedikit. Konkretnya volume ekspor kita agak berkurang. Ke depannya harus diantisipasi dengan mencari pasaran ke negara-negara tetangga. Kalau itu dapat ditingkatnya, tentu saja penurunan ekspor ke Amerika dapat dikonversi," jelasnya.

Alasan kedua, ungkap Made, dari capital account, khusunya aliran modal. Ada dua hal yang sangat berpengaruh, yakni nilai tukar dan tingkat suku bunga. Kalau nilai tukar terkait kasus subprime mortgage atau kredit pemilikan rumah (KPR) yang menghebohkan Amerika, Juli 2007. "Investor karena kebakaran jenggot, lalu reposisi portfolionya dari negara-negara berkembang, dalam jangka pendek ekstra hati-hati dia menanamkan modal, bahkan mengurangi atau mempeketat investasi di negara berkembang. Lebih jauh, pengurangan dana ini terkait dengan exchange trade atau bursa efek," katanya.

Sedangkan  komponen kedua yakni tingkat bunga, karena AS menurunkan suku bunga, sedangkan suku bunga di Indonesia tetap, sehingga interest differensial menjadi cukup positif. "Dengan demikian, inisiatif mereka menginvestasikan dananya di Indonesia tidak berkurang. Jadi sekali lagi, dengan pertimbangan- pertimbangan di atas, kondisi moneter saat ini memang perlu kita cermati, tapi tidak sebahaya krisis moneter tahun 1998," pungkas Made. (Persda Network/Domuara Ambarita )

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau