LIVERPOOL, KAMIS - Sebauh grup Liverpudlian (suporter Liverpool), sedang mempersiapkan langkah untuk membeli klub itu dari pemilik asal Amerika Serikat (AS), Tom Hicks dan George Gillet. Mereka kini sedang merancang untuk melakukan pendekatan terhadap kedua pemilik tersebut untuk menyampaikan maksudnya.
Para suporter itu sudah membentuk lembaga bernama Share Liverpool FC untuk mengatur pembelian tersebut. Sebanyak 100.000 suporter Liverpool siap mengeluarkan uang masing-masing 5.000 poundsterling (sekitar Rp91,2 juta). Mereka mengklaim sudah mengumpulkan dana sebesar 60 juta poundsterling (sekitar Rp1,1 triliun). Bahkan, masih ada 55 juta poundsterling (sekitar Rp1 trliun) lagi yang akan segera terkumpul.
Tom Hicks dan George Gillet membeli Liverpool pada awal Januari 2007. Mereka ternyata tak disukai suporter Liverpool, bahkan sempat diprotes karena banyak kebijakan yang dianggap tak populer. Namun, dalam perjanjian, salah satu dari dua pemilik itu tak bisa menjual sahamnya tanpa persetujuan partnernya.
Hal itu pula yang menghambat upaya pembelian Dubai International Capital (DIC) saat akan membeli saham Gillet. Padahal, saat itu suporter mendukungnya. Namun, karena Hicks tak setuju, maka penjualan saham Gillet itu gagal.
"Kami sudah melakukan pendekatan awal kepada para pemilik Liverpool. Itu yang akan terus kami lakukan untuk melancarkan pembelian klub oleh suporter," jelas Rogan Taylor, ketua Share Liverpool FC.
"Saat ini, saya tak bisa mengatakan akan lewat siapa, tapi kami akan melakukan pendekatan kepada mereka untuk mengadakan pertemuan yang lebih intensif, sehingga kami bisa mengutarakan maksud kami," tambahnya.
Menurutnya, sejak situs suporter diluncurkan, situs itu menjadi alat pemasaran dan komunikasi yang luas. Sampai saat ini, katanya, pihaknya sudah melakukan kontak dengan suporter Liverpool di 200 negara.
"Respon suporter terhadap rencana pembelian itu positif dan sagat menggairahkan. Maka, sekarang kami harus menjaga dan memperlancar rencana ini agar semakin cepat bergerak," jelas Taylor.
Menurutnya, masih ada sekitar 13.000 suporter lagi yang mendukung rencana ini. "Maka, kami akan segera menghubungi mereka untuk menawarkan mereka menjadi anggota grup, kemudian membeli satu saham Liverpool," terangnya.
Sejak suporter resah terhadap pemilik klub, suporter punya ide untuk membeli semua saham klub. Mereka ingin meniru model Barcelona yang tak dimiliki perorangan atau lembaga, tapi oleh masyarakat.
Share Liverpool adalah lembaga atau organisasi utama yang akan menangani masalah pembelian klub, sekaligus men-setting manajemen. Organisasi itu sudah dilengkapi dengan pengurus yang legal, bisnis, akuntansi, dan berbagai kepentingan komersial lainnya.
Nantinya, sebuah perusahaan akan didirikan dengan ciri kemasyarakatan atau semacam yayasan. Kemudian, setelah melakukan konsultasi dengan Otoritas Keuangan, maka perusahaan itu akan diratifikasi. "Nantinya akan ada pemilihan untuk membentuk dewan yang akan menjalankan perusahaan dengan jangka waktu empat tahunan. Perusahaan ini semacam yayasan nirlaba," jelas Taylor.
"Dewan pula yang akan memiliki kontrol dalam pelaksanaannya. Mereka bertugas menyewa, memecat, membeli, menjual, meminjam dan mengeluarkan anggaran," tambahnya.
"Dengan konstruksi itu, diharapkan suporter akan mendukung klub tanpa pernah berhenti. Mereka juga diberi kesempatan untuk memiliki saham, sehingga rasa memilikinya semakin tinggi," pungkasnya. (BBC)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang