Adrianus: Amin Hanyalah "Sinetron" Kecil

Kompas.com - 10/04/2008, 11:54 WIB

JAKARTA, KAMIS - Pakar hukum dan krimonolog Universitas Indonesia, Prof Adrianus Meliala, PhD, di Jakarta, Kamis, menyatakan, kasus dugaan suap yang melibatkan anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI, Al Amin Nur Nasution, hanyalah ’sinetron kecil’ di rimba raya perkara korupsi Indonesia.
     
"Sebetulnya, kasus ini hanya memperlihatkan sekali lagi betapa banyak hal yang dramatis, ironis dan sekaligus tak terbayangkan terjadi di Indonesia. Terutama di lingkup pemerintahan, legislatif, dunia usaha dan seterusnya," ungkap Adrianus Meliala menyikapi gebrakan tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penangkapan Amin Nasution dan pejabat Pemkab Bintan.
     
"Negeri ini memang surga bagi para pembuat naskah 'sinetron'. Dan diramalkan bahwa ’sinetron’ yang melibatkan bintang atau aktor dari kalangan Parlemen dan Pemerintah Daerah bukan yang terakhir," katanya saat ditemui di kampus FISIP Universitas Indonesia, Depok.
     
Adrianus Meliala juga memperkirakan, kasus ini bukan kasus yang terbesar.  "Dengan kata lain, akan ada ’mega sinetron’ di waktu-waktu mendatang. Itulah pula yang membuat strategi ’pencarian kasus big fish’ ala KPK perlu terus dipertahankan," tegasnya.
 
Secara terpisah, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Aulia Rahman, sebelumnya menyatakan, koleganya dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan di Komisi IV DPR RI, Al Amin Nur Nasution, tergolong manusia pemberani.
     
"Saya cuma bisa urut dada mendengar keberaniannya itu, yang kemudian mengundang petugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkapnya karena dituduh terlibat kasus suap," katanya.
     
"Kendati dia bukan dari fraksi yang sama dengan kami, tetapi, sebagai sesama anggota Dewan, kami akan mendukung dia dalam menghadapi proses hukum. Itu salah satu bentuk solidaritas membela kehormatan anggota. Tetapi, yang bersangkutan juga selaku WNI tentu harus dibela hak-haknya," kata Aulia Rahman yang mantan Ketua DPP KNPI di era awal 1980-an. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau