Menurut data Departemen Kesehatan, hingga Desember 2007 populasi rawan tertular HIV diperkirakan 193.000 orang. Jumlah kasus infeksi HIV dilaporkan 6.066 orang, sedangkan jumlah kasus AIDS 11.141 orang. Nina, bukan nama sebenarnya, ODHA asal Bogor, mengaku sulit mendapat obat ARV. ”Saya berulang kali menghubungi Rumah Sakit Dharmais. Tapi, jawabannya tetap sama, obat belum ada. Padahal, obat saya hanya cukup untuk dua hari,” keluhnya.
Di sejumlah RS di Jakarta krisis persediaan obat ARV itu terjadi sebulan terakhir. Di RS Kanker Dharmais, yang melayani ribuan ODHA, dari kebutuhan 300 botol sebulan, hanya dipasok 30 botol. Akibatnya, jumlah obat bagi ODHA secara gratis dibatasi. Biasanya mereka mendapat jatah satu bulan, kini hanya 2-7 hari. Menurut Koordinator Layanan HIV/AIDS FKUI/RSCM Prof Samsuridjal Djauzi, hal itu akibat keterlambatan pasokan obat ARV dari Depkes. Karena pemakaian obat efavirenz meningkat, persediaan obat tak mencukupi. Obat ini digunakan ODHA yang alergi jenis obat ARV lain atau dosis obat nevirapine ditambah.
Kondisi ini dapat mengakibatkan terputusnya pasien mendapat obat ARV, menurunkan kepatuhan pasien memakai obat, menimbulkan risiko resistensi obat ARV. Diperkirakan, angka resistensi obat ARV lini pertama di Indonesia 5 persen. ”Jika resisten, ODHA harus beralih ke obat ARV lini kedua yang harganya lebih mahal,” ujarnya. "Agar tak terjadi kekosongan obat, pemerintah sebaiknya menyiapkan cadangan,” kata Samsuridjal. Saat ini ada 200 rumah sakit melayani obat ARV.
Dana terbatas
Menurut Kepala Subdirektorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Depkes Sigit Priohutomo, 8.000 botol obat efavirenz sudah tiba di bandara dan kemarin dikirim ke gudang Depkes dan akan segera didistribusikan ke RS yang kehabisan obat itu. ”Karena efavirenz diimpor, butuh waktu dua bulan untuk mendatangkannya,” ujar Sigit.
Selain itu, pengadaan obat ini terbentur kendala terbatasnya dana. Saat ini 60 persen dari total anggaran pengadaan obat ARV lini pertama dibantu dana global. Karena dana global baru cair beberapa minggu lalu, pengadaan obat efavirenz ikut tersendat. Untuk mengatasi kekosongan obat itu, lanjut Sigit, pemerintah sempat mendatangkan obat tersebut dari Bangkok, Thailand, tetapi jumlahnya ternyata tak mencukupi. (EVY)