Sejumlah Rumah Sakit Krisis Ketersediaan Obat

Kompas.com - 12/04/2008, 05:00 WIB
 
JAKARTA, SABTU-Krisis ketersediaan obat antiretroviral lini pertama efavirenz sebagai terapi HIV/AIDS terjadi di sejumlah rumah sakit beberapa pekan terakhir akibat keterlambatan pasokan obat itu dari Departemen Kesehatan. Para pengidap HIV terancam putus obat. Kaum ODHA kebanyakan menggunakan obat antiretroviral (ARV) lini pertama—terdiri dari lima jenis—yaitu zidovudine, lamivudine, nevirapine, stavudine, dan efavirenz. Kini 60 persen jumlah ODHA menggunakan efavirenz, terutama pengguna narkoba.

Menurut data Departemen Kesehatan, hingga Desember 2007 populasi rawan tertular HIV diperkirakan 193.000 orang. Jumlah kasus infeksi HIV dilaporkan 6.066 orang, sedangkan jumlah kasus AIDS 11.141 orang.  Nina, bukan nama sebenarnya, ODHA asal Bogor, mengaku sulit mendapat obat ARV. ”Saya berulang kali menghubungi Rumah Sakit Dharmais. Tapi, jawabannya tetap sama, obat belum ada. Padahal, obat saya hanya cukup untuk dua hari,” keluhnya.

Di sejumlah RS di Jakarta krisis persediaan obat ARV itu terjadi sebulan terakhir. Di RS Kanker Dharmais, yang melayani ribuan ODHA, dari kebutuhan 300 botol sebulan, hanya dipasok 30 botol. Akibatnya, jumlah obat bagi ODHA secara gratis dibatasi. Biasanya mereka mendapat jatah satu bulan, kini hanya 2-7 hari. Menurut Koordinator Layanan HIV/AIDS FKUI/RSCM Prof Samsuridjal Djauzi, hal itu akibat keterlambatan pasokan obat ARV dari Depkes. Karena pemakaian obat efavirenz meningkat, persediaan obat tak mencukupi. Obat ini digunakan ODHA yang alergi jenis obat ARV lain atau dosis obat nevirapine ditambah.

Kondisi ini dapat mengakibatkan terputusnya pasien mendapat obat ARV, menurunkan kepatuhan pasien memakai obat, menimbulkan risiko resistensi obat ARV. Diperkirakan, angka resistensi obat ARV lini pertama di Indonesia 5 persen. ”Jika resisten, ODHA harus beralih ke obat ARV lini kedua yang harganya lebih mahal,” ujarnya. "Agar tak terjadi kekosongan obat, pemerintah sebaiknya menyiapkan cadangan,” kata Samsuridjal. Saat ini ada 200 rumah sakit melayani obat ARV.

Dana terbatas
Menurut Kepala Subdirektorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Depkes Sigit Priohutomo, 8.000 botol obat efavirenz sudah tiba di bandara dan kemarin dikirim ke gudang Depkes dan akan segera didistribusikan ke RS yang kehabisan obat itu.  ”Karena efavirenz diimpor, butuh waktu dua bulan untuk mendatangkannya,” ujar Sigit.
Selain itu, pengadaan obat ini terbentur kendala terbatasnya dana. Saat ini 60 persen dari total anggaran pengadaan obat ARV lini pertama dibantu dana global. Karena dana global baru cair beberapa minggu lalu, pengadaan obat efavirenz ikut tersendat. Untuk mengatasi kekosongan obat itu, lanjut Sigit, pemerintah sempat mendatangkan obat tersebut dari Bangkok, Thailand, tetapi jumlahnya ternyata tak mencukupi. (EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau