JAKARTA, SENIN - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (14/4) pagi, melemah namun masih berada di bawah angka Rp9.200 per dollar AS, karena tekanan pasar relatif kecil.
"Kecilnya tekanan pasar itu mengakibatkan rupiah terkoreksi tipis, sehingga posisinya masih di bawah angka Rp9.200 per dollar AS," kata pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, Senin, seperti dikutip dari Antara.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah menjadi Rp9.197/9.205 per dollar AS dibanding penutupan akhir pekan lalu yang mencapai Rp9.182/9.197 per dollar AS, atau turun lima poin.
Menurut dia, posisi rupiah saat ini dinilai stabil, meski agak terkoreksi, akibat menguatnya dollar AS di pasar regional yang terpicu tingginya harga minyak mentah dunia yang mencapai 109 dollar AS per barel. Harga minyak dunia turun dari 110,49 menjadi 109 dollar AS per barel, katanya.
Rupiah, lanjut Edwin Sinaga, terkoreksi karena kondisi di dalam negeri yang kurang sehat, akibat kenaikan harga pangan dan minyak mentah dunia. Pemerintah cenderung kewalahan dalam mengatasi kenaikan harga bahan pangan dan minyak mentah dunia yang berencana mencari pinjaman dana baru di luar negeri, ucapnya.
The Fed menurut rencana akan menurunkan suku bunga 50 basis poin menjadi 1,75 persen dari 2,25 persen, ujarnya.
Dollar AS menguat terhadap yen, dari 101,00 menjadi 101,42 dan euro melemah menjadi 1,5658 dari sebelumnya 1,5810.
Mengenai pertemuan negara-negara industri maju (G7), ia mengatakan, G7 menyatakan khawatir atas melemahnya mata uang utama regional. "Hal ini harus dicari solusi, karena mata uang asing yang melemah menunjukkan faktor fundamental suatu negara merosot," ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang