SOLO, SENIN - Gejolak kenaikan komoditas harga pangan untuk sekarang ini bukan hanya menjadi masalah di Indonesia saja. Persoalan tersebut sudah sampai ke tingkat internasional.
Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu mengatakan hal itu di hadapan para mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) pada kuliah umum pengembangan ekonomi kreatif dalam menunjang peningkatan koordinasi ekspor Indonesia di pasar global, di Auditorium UNS Senin (14/4), seperti dikutip dari Antara.
Setelah lebih 30 tahun mengalami penurunan, tren harga riil dunia bahan pangan mengalami kenaikan pada tiga tahun terakhir ini. Menurut Mari, hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja.
Harga pangan mengalami kenaikan 35 persen selama satu tahun terakhir ini. Bahkan, ada beberapa komoditi mengalami kenaikan lebih dari 100 persen. Harga komoditas pangan antara 2008-2009 diprediksikan tetap tinggi seperti harga jagung naik 27 persen, kedelai naik 23 persen, dan beras sembilan persen untuk 10 tahun ke depan.
Perubahan fundamental bukan sementara karena jumlah penduduk dan komsumsi terus meningkat, ini kaitannya langsung dengan harga minyak dunia.
Terjadinya kenaikan harga pangan yang merasakan langsung penduduk miskin. Akan tetapi, di sisi lain, kondisi ini menawarkan kesempatan bagi negara produsen pangan seperti Indonesia untuk lebih kreatif lagi.
Dalam mengataskan persoalan ini, pemerintah melakukan penambahan penyaluran beras untuk warga miskin (raskin) menjadi 15 kilogram/rumah tangga/bulan selama sembilan bulan dengan harga Rp1.600/kilogram.
Selain itu, pemerintah melakukan pembebasan bea masuk kedelai, terigu, penurunan PPh impor kedelai, gandum, terigu dari 2,5 persen menjadi 0,5 persen dan penjualan bahan baku kedelai bersubsidi Rp1000/kilogram bagi perajin tahu/tempe selama enam bulan.
Sementara itu, Mendag Mari juga mengatakan, untuk menstabilkan harga pangan lainnya ditempuh di antaranya impor beras oleh Bulog bilamana diperlukan untuk mengamankan stok dalam negeri. Pada 2007, pemerintah mengimpor 1,3 juta ton beras atau empat persen dari konsumsi. Namun, menurut Mari, jika produksi sesuai target tahun ini tidak perlu impor.
Operasi pasar minyak goreng murah/bersubsidi Rp2500/liter juga dilakukan selama enam bulan untuk 19,1 juta kepala keluarga miskin (dua liter/bulan).
Menteri Perdagangan usai memberikan kuliah umum di UNS kemudian melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sukoharjo untuk melihat industri mebel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang