Pangan Naik Tak Cuma di Indonesia

Kompas.com - 14/04/2008, 13:28 WIB

SOLO, SENIN - Gejolak kenaikan komoditas harga pangan untuk sekarang ini bukan hanya menjadi masalah di Indonesia saja. Persoalan tersebut sudah sampai ke tingkat internasional. 
    
Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu mengatakan hal itu di hadapan para mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) pada kuliah umum pengembangan ekonomi kreatif dalam menunjang peningkatan koordinasi ekspor Indonesia di pasar global, di Auditorium UNS Senin (14/4), seperti dikutip dari Antara.
    
Setelah lebih 30 tahun mengalami penurunan, tren harga riil dunia bahan pangan mengalami kenaikan pada tiga tahun terakhir ini. Menurut Mari, hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja.
    
Harga pangan mengalami kenaikan 35 persen selama satu tahun terakhir ini. Bahkan, ada beberapa komoditi mengalami kenaikan lebih dari 100 persen. Harga komoditas pangan antara 2008-2009 diprediksikan tetap tinggi seperti harga jagung naik 27 persen, kedelai naik 23 persen, dan beras sembilan persen untuk 10 tahun ke depan.  
    
Perubahan fundamental bukan sementara karena jumlah penduduk dan komsumsi terus meningkat, ini kaitannya langsung dengan harga minyak dunia.
    
Terjadinya kenaikan harga pangan yang merasakan langsung penduduk miskin. Akan tetapi, di sisi lain, kondisi ini menawarkan kesempatan bagi negara produsen pangan seperti Indonesia untuk lebih kreatif lagi.
    
Dalam mengataskan persoalan ini, pemerintah melakukan penambahan penyaluran beras untuk warga miskin (raskin) menjadi 15 kilogram/rumah tangga/bulan selama sembilan bulan dengan harga Rp1.600/kilogram.
    
Selain itu, pemerintah melakukan pembebasan bea masuk kedelai, terigu, penurunan PPh impor kedelai, gandum, terigu dari 2,5 persen menjadi 0,5 persen dan penjualan bahan baku kedelai bersubsidi Rp1000/kilogram bagi perajin tahu/tempe selama enam bulan.
    
Sementara itu, Mendag Mari juga mengatakan, untuk menstabilkan harga pangan lainnya ditempuh di antaranya impor beras oleh Bulog bilamana diperlukan untuk mengamankan stok dalam negeri. Pada 2007, pemerintah mengimpor 1,3 juta ton beras atau empat persen dari konsumsi. Namun, menurut Mari, jika produksi sesuai target tahun ini tidak perlu impor.
    
Operasi pasar minyak goreng murah/bersubsidi Rp2500/liter juga dilakukan selama enam bulan untuk 19,1 juta kepala keluarga miskin (dua liter/bulan).
    
Menteri Perdagangan usai memberikan kuliah umum di UNS kemudian melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sukoharjo untuk melihat industri mebel.    

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau