JAKARTA, SENIN - Biasanya, duplik yang dibacakan terdakwa berupa hasil ketikan komputer. Namun, tidak demikian halnya dengan terdakwa terorisme, Abu Dujana. Pria yang memiliki nama asli Ainul Bahri ini, justru menulis tangan berkas dupliknya (jawaban atas replik Jaksa Penuntut Umum) setebal 10 halaman.
Apa yang membuat Dujana menulis sendiri duplik tersebut? "Lebih karena keterbatasan saja. Lagian juga tidak mengubah isinya," kata dia, usai sidang pembacaan duplik di PN Jakarta Selatan, Senin (14/4).
Untuk menulis, aku Dujana, dalam seminggu ini ia benar-benar memforsir tenaganya guna menyelesaikan penulisan 'curahan hati' jilid 2 nya itu, setelah pledoi (pembelaan). Tulisan dia tergolong rapi. Meski ditulis di atas kertas HVS polos tak bergaris, barisan goresan tangan dujana masih tertata dengan baik. Demikian juga rangkaian huruf per huruf yang tertuang dalam ribuan kata itu, cukup mudah dibaca.
Dalam duplik tersebut, Dujana juga menyelipkan beberapa hadits dan ayat-ayat Al Quran bertuliskan huruf Arab. Terjemahan hadits tersebut dituliskannya dengan huruf sambung, berbeda dengan uraian kata-kata di luar itu yang ditulis dengan huruf lepas. Ia menyebut berkas dupliknya tersebut dengan kata "Risalah".
Diakhir duplik, ia membubuhkan tanda tangan, serta namanya Ainul Bahri bin Tamli Tamami dan mengatasnamakan dirinya sebagai "Hamba Allah yang Lemah". (ING)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang