Ruang Tamu Sebagai Cermin Pemilik

Kompas.com - 14/04/2008, 20:05 WIB

Dalam Feng Shui, ruang tamu jarang diulas dengan benar. Padahal ruang tamu merupakan tempat yang paling banyak disinggahi oleh orang luar. Karena itu, secara tidak langsung ruang tamu akan mencerminkan baik-buruknya sifat dan kebiasaan penghuni rumah.

Ruang tamu sering diartikan sebagai ruang singgah serta ruang perantara untuk pertemuan tamu dan pemilik rumah. Sementara itu, ruang tamu memiliki kaitan langsung dengan pintu masuk ke rumah yang menghubungkan seseorang dari lingkungan dalam ke lingkungan luar, dan begitu pula sebaliknya.

Ruang tamu yang kumuh, sempit, dan kotor, tentu akan membiaskan atmosfer buruk terhadap rezeki yang masuk. Ruang itu bisa juga menyebabkan tamu yang datang tidak lagi punya selera untuk berdialog. Ini akan sangat merugikan kalau pembicaraan yang akan dilakukan berkaitan dengan prospek bisnis atau yang bersifat penting lainnya. Sudah pasti hawa rezeki yang seharusnya bisa dimiliki akan hilang tak berbekas.

Lain ceritanya bila ruang tamu ditata dengan baik. Baik di sini bukan berarti mewah, melainkan rapi dan bersih. Suasana ini akan lebih menyegarkan pikiran dan melegakan perasaan. Atmosfer yang baik akan menyebabkan hawa rezeki singgah lebih lama di dalam rumah dengan ruang tamu yang baik. Jadi, ruang tamu adalah satu cermin dari penampilan pemilik rumah yang kualitasnya senantiasa dinilai oleh orang luar.

Harus Proporsional
Baik-buruknya penilaian Feng Shui terhadap ruang tamu meliputi beberapa hal berikut.

  • Untuk rumah yang besar, ruang tamunya jangan terlalu sempit. Ukuran yang terlalu sempit akan membuat suasana menjadi gerah dan orang yang berada di dalamnya merasa tertekan, sehingga rasa nyaman menjadi hilang. Ruang tamu seperti ini mencerminkan penghuninya bersifat tertutup dan memiliki rasa curiga yang besar. Pada akhirnya, sepanjang hidupnya selalu diselimuti rasa khawatir.

  • Untuk rumah yang kecil, ruang tamunya jangan terlalu luas. Bila hal ini terjadi, biasanya kamar tidur dan ruang lainnya memiliki ukuran yang sangat sempit. Bentuk ini mencerminkan sifat yang “sangat ramah” sekaligus suka pamer pada orang luar, sementara kehidupan pribadinya tidak memiliki kesejahteraan yang baik. Jadi besar kecilnya ruang tamu harus disesuaikan dengan proporsi bangunan. Dengan demikian keselarasan hidup bisa dinikmati.

  • Jendela dalam ruang tamu difungsikan sebagai penghantar sinar dan angin, jadi sirkulasinya harus baik agar atmosfer keberuntungan selalu segar dan menyehatkan.

Tanpa Ruang Tamu
Ada rumah yang sengaja tidak menyediakan ruang tamu, jadi tamu ditempatkan di teras depan rumah. Rancangan ini diadopsi dari pemikiran yang menganggap rumah sebagai area pribadi yang tidak perlu disentuh atau dilihat orang luar. Sayang, kebiasaan ini kurang pas untuk budaya Indonesia yang sangat menghormati tamu yang berkunjung ke rumah. Memang, dalam Feng Shui tidak pernah ada larangan menerima tamu di teras, sebab yang dijadikan obyek Feng Shui adalah letak pintu masuk ke rumah. Hanya saja, faktor etika perlu dijadikan sebagai pertimbangan, agar penghuni tidak dinilai sebagai orang sombong yang tidak menghormati orang lain.

Ada pula tamu yang langsung dipersilakan masuk ke ruang keluarga yang letaknya di dalam rumah. Jadi bagian depan sesudah pintu masuk hanya difungsikan sebagai foyer atau lorong penghubung. Desain ini dibuat dengan alasan tidak perlu punya tamu yang belum akrab untuk berkunjung ke rumah. Bentuk ini sah-sah saja, tetapi suatu saat akan membuat repot diri sendiri. Desain ini sayangnya dalam Feng Shui dinilai buruk, sebab akan menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap keharmonisan keluarga, sebab situasinya menjadi serba terbuka dan mudah terbaca oleh famili atau teman karib yang datang. Kalau ada yang bermaksud jahat terhadap pemilik rumah dengan menggunakan guna-guna, ia akan mudah melakukannya. (Mas Dian MRE)

Sumber: Tabloid Rumah

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau