SURABAYA,SELASA - Program Revitalisasi pabrik gula yang telah dicanangkan pemerintah untuk mempercepat terwujudnya swasembada dan kemandirian industri gula nasional terancam gagal, atau tidak berjalan sesuai yang diharapkan.
Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi), Ir Adig Suwandi MSc kepada wartawan di Surabaya, Selasa (15/4), mengemukakan, kegagalan program revitalisasi akan terjadi, apabila koordinasi antar-departemen terkait impor gula tidak dibenahi secara menyeluruh, sehingga terjadi over supply.
Selama ini, rekomendasi izin impor gula kristal mentah (raw sugar) untuk bahan baku industri gula rafinasi, serta impor gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman dikeluarkan Departemen Perindustrian. Sementara izin impornya diterbitkan Departemen Perdagangan. "Yang terjadi saat ini, rekomendasi dan penerbitan izin impor hanya mengacu pada kapasitas terpasang pabrik, bukan kebutuhan riil di lapangan, akibatnya terjadi over supply," kata Adig menegaskan.
Ia mengungkapkan, impor raw sugar pada 2007 mencapai 1,44 juta ton, padahal kebutuhan industri makanan dan minuman hanya 900.000 ton. Diluar itu, industri makanan dan minuman masih mengimpor gula rafinasi sebanyak 684.000 ton. "Tidak mengherankan kalau sebagian gula rafinasi merembes ke pasar gula konsumsi yang selama ini menjadi pasar gula lokal berbahan baku tebu. Dampak lanjutannya, harga gula lokal anjlok," kata Adig Suwandi.
Associated Corporate Secretary PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI ini memperkirakan, pada 2008 ini kondisi pergulaan nasional akan bertambah parah, apabila rencana impor raw sugar dan gula rafinasi tidak direvisi atau dibatalkan oleh pemerintah.
Data Ikagi menyebutkan, impor raw sugar pada 2008 mencapai 1,8 juta ton dan impor gula rafinasi sebanyak 600.000 ton. Sementara produksi gula lokal hasil giling 58 pabrik gula diperkirakan mencapai 2,7 juta ton. "Harga gula lokal pasti tertekan dan cenderung rendah kalau impor ’raw sugar’ dan rafinasi berjalan sesuai rencana, karena terjadi kelebihan stok di pasaran," katanya menambahkan.
Apabila kondisi ini dibiarkan, program revitalisasi pabrik gula yang sedang berjalan tidak akan berlanjut. "Harga gula yang rendah akan memaksa petani tebu tidak lagi tertarik menanam tebu dan memilih komoditas agrobisnis lain yang lebih menguntungkan. Selanjutnya pabrik gula akan kekurangan bahan baku, padahal kapasitas giling terlanjur digenjot," kata Adig.
Dalam kondisi seperti itu, diperlukan keberpihakan dan kemauan politik dari pemerintah untuk menata ulang arah kebijakan pergulaan nasional, agar mampu memberikan keyakinan, kepastian dan rasa aman dalam berinvestasi. "Tidak ada cara lain, selain mewajibkan semua industri gula rafinasi, baik investasi baru, perluasan kapasitas dan pabrik yang sudah ada, untuk membangun kebun sendiri. Dengan cara ini, impor "raw sugar" pasti dapat ditekan," katanya menegaskan. (ANT)