Revitalisasi Pabrik Gula Terancam Gagal

Kompas.com - 15/04/2008, 11:46 WIB

SURABAYA,SELASA - Program Revitalisasi pabrik gula yang telah dicanangkan pemerintah untuk mempercepat terwujudnya swasembada dan kemandirian industri gula nasional terancam gagal, atau tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi), Ir Adig Suwandi MSc kepada wartawan di Surabaya, Selasa (15/4), mengemukakan, kegagalan program revitalisasi akan terjadi, apabila koordinasi antar-departemen terkait impor gula tidak dibenahi secara menyeluruh, sehingga terjadi over supply.
    
Selama ini, rekomendasi izin impor gula kristal mentah (raw sugar) untuk bahan baku industri gula rafinasi, serta impor gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman dikeluarkan Departemen Perindustrian. Sementara izin impornya diterbitkan Departemen Perdagangan.  "Yang terjadi saat ini, rekomendasi dan penerbitan izin impor hanya mengacu pada kapasitas terpasang pabrik, bukan kebutuhan riil di lapangan, akibatnya terjadi over supply," kata Adig menegaskan.
    
Ia mengungkapkan, impor raw sugar pada 2007 mencapai 1,44 juta ton, padahal kebutuhan industri makanan dan minuman hanya 900.000 ton. Diluar itu, industri makanan dan minuman masih mengimpor gula rafinasi sebanyak 684.000 ton. "Tidak mengherankan kalau sebagian gula rafinasi merembes ke pasar gula konsumsi yang selama ini menjadi pasar gula lokal berbahan baku tebu. Dampak lanjutannya, harga gula lokal anjlok," kata Adig Suwandi.

Associated Corporate Secretary PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI ini memperkirakan, pada 2008 ini kondisi pergulaan nasional akan bertambah parah, apabila rencana impor raw sugar dan gula rafinasi tidak direvisi atau dibatalkan oleh pemerintah.

Data Ikagi menyebutkan, impor raw sugar pada 2008 mencapai 1,8 juta ton dan impor gula rafinasi sebanyak 600.000 ton. Sementara produksi gula lokal hasil giling 58 pabrik gula diperkirakan mencapai 2,7 juta ton. "Harga gula lokal pasti tertekan dan cenderung rendah kalau impor ’raw sugar’ dan rafinasi berjalan sesuai rencana, karena terjadi kelebihan stok di pasaran," katanya menambahkan.

Apabila kondisi ini dibiarkan, program revitalisasi pabrik gula yang sedang berjalan tidak akan berlanjut.  "Harga gula yang rendah akan memaksa petani tebu tidak lagi tertarik menanam tebu dan memilih komoditas agrobisnis lain yang lebih menguntungkan. Selanjutnya pabrik gula akan kekurangan bahan baku, padahal kapasitas giling terlanjur digenjot," kata Adig.
    
Dalam kondisi seperti itu, diperlukan keberpihakan dan kemauan politik dari pemerintah untuk menata ulang arah kebijakan pergulaan nasional, agar mampu memberikan keyakinan, kepastian dan rasa aman dalam berinvestasi.   "Tidak ada cara lain, selain mewajibkan semua industri gula rafinasi, baik investasi baru, perluasan kapasitas dan pabrik yang sudah ada, untuk membangun kebun sendiri. Dengan cara ini, impor "raw sugar" pasti dapat ditekan," katanya menegaskan. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau