KEDIRI, SELASA - Masih mahalnya harga minyak goreng di pasaran mendorong masyarakat rela berdesakan untuk antri pada operasi pasar minyak goreng yang digelar oleh Pemerintah Kota Kediri, pada Selasa (15/4) pagi di Kantor Balai Desa Mojoroto Kecamatan Mojoroto. Ribuan warga yang sudah mengantre sejak pagi berebut jatah migor akibat keterlambatan pasokan. Kericuhan sempat terjadi karena dipicu oleh kesalahpahaman. Ketika itu pihak panitia terlambat mendatangkan pasokan minyak goreng.
Akibatnya, ribuan warga yang sudah menunggu sejak pagi kesal dan memilih untuk berebut saat truk pengangkut migor tiba di lokasi. Jumlahnya mencapai 1.064 orang. Himbauan petugas yang mencoba mengatur antrian pun tidak dihiraukan. Bah kan petugas terpaksa berteriak-teriak menggunakan pengeras suara untuk menenangkan warga yang tak terkendali. Dalam sekejap, seluruh migor yang dikemas dalam plastik berisi satu liter ludes. Migor itu dijual dengan harga Rp 7.500 per liter, jauh di bawah harga pasaran yang mencapai Rp 10.000 12.000 per liter.
Kami kecewa dengan keterlambatan ini. Apalagi satu keluarga hanya dijatah satu liter saja, keluh Suwarni, salah seorang warga yang ikut mengantre di Balai Desa Mojoroto. Jumlah tersebut sama sekali tidak mencukupi kebutuhan rumah tangganya yang memiliki empat anggota keluarga. Apalagi setiap hari ia harus memasak sendiri untuk menghemat biaya belanja rumah tangga. Jatah satu liter migor tersebut diperkirakan tidak akan berta han hingga 10 hari saja.
Pada saat yang sama, operasi pasar migor digelar di kantor Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto justru sepi peminat. Pasalnya, ratusan warga yang mengantre sejak pagi kecewa dengan penjelasan yang diterima petugas kelurahan. Sebelumnya, mereka mendapat informasi jika harga migor yang dijual petugas hanya Rp 2.500 per liter, sesuai dengan angka yang tertera pada kupon. Namun setelah tiba di lokasi, mereka diminta membayar Rp 7.500 per liter.
"Setelah di sana, ternyata harganya Rp 7.500 per liter. Sedangkan harga Rp 2.500 pada kupon adalah potongannya, " ujar Sriwatik. Banyak warga yang memilih pulang kembali ke rumah dan batal membeli migor. Hingga pukul 11.15 kemarin, hanya 100 liter saja yang terjual dari 298 liter yang disediakan.
Menanggapi pelaksanaan operasi migor itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan Kota Kediri, Arie Koenandar mengatakan meminta maaf. Ia berjanji akan memperbaiki pelaksanaan selanjutnya. Menurutnya, minimnya sosialisasi tentang harga migor menjadi pemicu kurang maksimalnya kegiatan operasi migor tersebut.
Kediri mendapat jatah sebanyak 44 ribu liter migor yang akan disalurkan ke seluruh kelurahan selama enam bulan kedepan. Dalam tahap pertama ini, pemkot menyalurkan 2.666 liter migor untuk lima kelurahan di Kecamatan Mojoroto, yakni Mrican, Ngampel, Dermo, Mojoroto, dan Gayam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang