JAKARTA,RABU - Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk diyakini akan bisa menggantikan Surat Utang Negara (SUN) konvensional sebagai tulang punggung pembiayaan defisit anggaran ke depan.. "Jelas mungkin karena selain struktur sukuk yang lebih baik dari SUN konvensional, sukuk juga ditunggu investor Timur Tengah. Saya yakin begitu Indonesia menerbitkan sukuk, langsung terjadi perpindahan petrodoLlar dari bank-bank investasi di Wall Street ke Indonesia," kata Sofyan S Harahap, Direktur Program pascasarjana "Islamic Economics and Finance" Trisakti, seperti dikutip Antara.
Menurutnya, struktur sukuk yang sangat transparan, baik underlying asset, penghitungan bagi hasil, maupun proyek yang dibiayai, akan membuat obligasi yang ditargetkan segera terbit pascapengesahan UU SBSN lebih baik dari SUN konvensional. "Ini tidak seperti SUN konvensional yang masih banyak diwarnai spekulasi," jelasnya.
Ditambahkannya, proyek yang bisa dibiayai sukuk sangat banyak di Indonesia, seperti Jembatan Selat Sunda, dan proyek infrastruktur lainnya sehingga lebih bisa mencapai tujuan pembangunan nasional. Lebih lanjut, Sofyan menjelaskan, pihaknya optimis pengesahan UU SBSN akan menjadi salah satu tonggak bersejarah bagi perkembangan pasar ekonomi syariah di Indonesia, dari yang saat ini memiliki pangsa pasar sangat kecil. "Untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah, pemerintah bisa mengkonversi Bank BRI sebagai bank syariah karena mereka sudah banyak berkecimpung di sektor riil," katanya.
Dengan demikian, katanya, perbankan syariah akan lebih bisa mencapai masyarakat kecil dibanding perbankan konvensional. "Jika perbankan konvensional hanya sebagian dana masyarakat yang kemudian disalurkan ke sektor riil, maka perbankan syariah bisa 100 persen," jelasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang