Tabung Elpiji Rp 800.000, Awas Diincar Maling

Kompas.com - 17/04/2008, 02:23 WIB

JAKARTA, KAMIS - Kenaikan harga tabung elpiji ukuran 12 kg (kosong) menjadi Rp 800.000 membuat tabung jenis ini jadi incaran pencuri.

Sejumlah agen elpiji di Depok, Tangerang, dan sebagian Jakarta bilang, harga tabung kosong 12 kg sudah telah mencapai Rp 800.000, padahal bulan lalu masih sekitar Rp 350.000-Rp500.000.

Hartono, pengecer elpiji di Bintaro, Tangerang, mengaku tak menjual tabung kosong karena harga belinya tak terkontrol. "Kita bisa menjual dengan harga mahal, tapi tak bisa membeli lagi karena sudah tidak diproduksi," katanya, Rabu. Hartono mengatakan, kalaupun ada yang menjual tabung kosong pasti harganya sudah sangat tinggi.

Menurut Hartono, bulan lalu di tokonya sempat ada 32 tabung kosong yang ia beli dengan harga Rp 350.000 per tabung. Ketika harganya bergerak naik, tabung-tabung itu dijual antara Rp 400.000 dan Rp 500.000.

Namun, ketika dia hendak membeli tabung kosong, harganya telah mencapai Rp 600.000 per tabung. Dengan kata lain, Hartono harus mengeluarkan modal tambahan agar tokonya memiliki stok tabung kosong sebanyak 32 tabung. Terpaksa ia angkat tangan.

Udin, pedagang elpiji di Pos Pengumben, Jakarta Barat, mengatakan hal yang sama. "Sekarang saya hanya punya 10 tabung, lima tabung sudah saya jual. Saya menyesal, karena sekarang sudah tidak ada pasokan tabung," katanya.

Seorang karyawan stasiun pengisian dan pengangkutan bulk elpiji (SPPBE) di Jalan Srengseng, Jakarta Barat, mengatakan sudah hampir setahun pihaknya tidak menjual tabung kosong ukuran 12 kg. "Dulu kami memang menjual, harganya Rp 325.000 per tabung. Kalau sekarang kami hanya melayani pengisian saja," ujarnya.

Adam, petugas Pertamina Contact Center, mengatakan mahalnya harga tabung kosong 12 kg karena tabung ukuran tersebut kini juga dipakai kalangan industri. Padahal, sesuai aturan, sektor industri mestinya menggunakan elpiji tabung 50 kg yang harga gasnya lebih mahal dari yang 12 kg.

"Karena selisih harganya lumayan, sektor industri beralih menggunakan  elpiji ukuran 12 kg. Sehingga, banyak tabung kosong ukuran 12 kg mengendap di pabrik-pabrik," kata Adam.

Agar sektor industri tidak beralih menggunakan elpiji 12 kg, Pertamina telah menurunkan harga elpiji ukuran 50 kg. Jika sekarang harga tabung kosong ukuran 12 kg mahal, hal itu disebabkan mekanisme pasar.Dari Pertamina, harga tabung kosong 12 kg tetap Rp 200.000," kata Adam.

Harga elpiji ukuran 50 kg telah turun dari Rp 400.000 menjadi Rp 240.000. Sedangkan harga elpiji 12 kg (hanya isi), di sejumlah tempat di Jakarta, adalah antara Rp 54.000 sampai Rp 57.000.

Sementara itu, PT Krakatau Steel (KS) menyatakan belum bisa menurunkan harga baja untuk bahan baku tabung elpiji karena harga baja jenis canai panas di pasaran dunia juga naik.

Kenaikan harga tabung elpiji membuat tabung gas ini jadi obyek pencurian. Mustafa, pengecer elpiji di Bekasi, mengatakan beberapa hari lalu seorang pria membawa kabur tabung elpiji dari tokonya.

Pria tersebut beraksi dari sebuah rumah kosong di dekat rumah sekaligus toko Mustafa dan berlagak sebagai warga yang baru pindah. Kepada pembantu Mustafa, dia minta dikirim gas. Ketika tabung gas diantarkan, pria itu minta dikirim satu tabung lagi. Si pembantu pun kembali ke toko untuk mengambil pesanan itu. Saat si pembantu kembali ke rumah kosong, pria tersebut dan tabung gas yang dikirim pertama sudah tak ada. (Warta Kota/ lis/ver/yok/dra/sab)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau