BANJARBARU - Ketika mendengar langkah kaki manusia mendekat, ia menggulungkan badan hingga menyerupai bola. Ketika si manusia lengah, secepat kilat ia mengayunkan ekor untuk menyerang.
Itulah trenggiling, (manis Javanica) binatang mamalia bersisik yang masih hidup di Indonesia. Komunitasnya hampir punah. Meski bisa menyerang, ia tak berdaya menghadapi para pemburu. Di Indonesia, binatang ini bisa ditemukan di Nias, Mentawai, Sumatera, Riau, Pulau Lingga, Kalimantan, Jawa, Bali dan Lombok.
Karena keunikan dan keberadaannya yang hampir punah, binatang ini dilindungi negara. Namun, karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi, binatang ini menjadi buruan. Setelah dibedah, sisiknya dikelupas, dagingnya diawetkan. Setelah terkumpul banyak, barulah dikirim ke China.
Kegiatan menjual daging binatang ini dilakoni Ferry Suprianto. Rumah warga Pekauman Banjarmasin ini, kemarin digerebek petugas gabungan Polsekta Banjarmasin Selatan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan.
Hasilnya, ditemukan 360 ekor trenggiling yang sudah dibedah dan dikuliti di dalam delapan lemari pendingin. Sayangnya, saat penggerebekan, Ferry tak ada di rumah. Beberapa waktu lalu, rumah Ferry juga digerebek. Saat itu petugas menemukan 10 ekor trenggiling hidup dan 25 tanduk rusa.
Menurut Sri Wahidah, suaminya hanya sebagai pengumpul dan pengolah. Trenggiling-trenggiling itu dipasok oleh beberapa orang dari Palangka Raya, Kandangan dan lainnya. Biasanya, binatang tersebut dihargai Rp 50 ribu per ekor oleh Ferry.
Kemudian, lanjut Sri, trenggiling-trenggiling itu diolah oleh Ferry. Setelah dibedah dan dikuliti, Ferry kemudian menjual daging nya itu kepada para pembeli yang datang ke rumah.
"Untuk yang sudah dikuliti dijual dengan harga Rp 200 ribu, sedang jika ada yang masih hidup bisa laku sampai Rp 400 ribu. Biasanya yang datang orang Jakarta. Trenggiling itu kemudian diolah jadi makanan. Langganan makanan daging trenggiling itu katanya orang China dan Jepang," beber Sri.
Menurutnya, daging binatang bersisik tebal tersebut diyakini dapat menyembuhkan penyakit jantung dan paru-paru. Bahkan ada yang percaya bisa menjadi obat kuat. Sedang kulitnya, bisa dimanfaatkan untuk kosmetik. Satu kilogram sisik, bisa laku sampai Rp 350 ribu.
Daging binatang yang ditemukan di rumah Ferry itu langsung dimusnahkan. Daging seberat 1,5 ton itu dimasukkan ke dalam lubang besar di Tahura Sultan Adam Mandiangin Kabupaten Banjar, kemudian dibakar.
Kapolsekta Banjarmasin Selatan, AKP Anom Karibianto mengatakan, penggerebekan di rumah Ferry itu berawal dari informasi warga yang sering melihat aktivitas perdagangan binatang bersisik tersebut. Dari informasi itu, Anom berkoordinasi dengan BKSDA Kalsel.
Banyak tetangga yang tak tahu bahwa aktivitas di rumah Ferry itu ilegal. Jadi ketika ada penggerebekan, para tetangga Ferry pun bingung, setengah tak percaya.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarmasin, Nurani, mengatakan, mereka yang memperjualbelikan trenggiling diancam dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.
Untuk diketahui, penemu trenggiling bernama Desmarest pada 1822. Binatang ini hidup di hutan dataran rendah. Trenggiling menyantap semut dan rayap. Memiliki cakar yang panjang dan lidah yang menjulur panjang sehingga memungkinkan satwa ini mengoyak sarang semut dan rayap. (banjamasin post/dd/niz)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang