1,5 Ton Trenggiling Dimusnahkan

Kompas.com - 18/04/2008, 07:31 WIB

BANJARBARU - Ketika mendengar langkah kaki manusia mendekat, ia menggulungkan badan hingga menyerupai bola. Ketika si manusia lengah, secepat kilat ia mengayunkan ekor untuk menyerang.

Itulah trenggiling, (manis Javanica) binatang mamalia bersisik yang masih hidup di Indonesia. Komunitasnya hampir punah. Meski bisa menyerang, ia tak berdaya menghadapi para pemburu. Di Indonesia, binatang ini bisa ditemukan di Nias, Mentawai, Sumatera, Riau, Pulau Lingga, Kalimantan, Jawa, Bali dan Lombok.

Karena keunikan dan keberadaannya yang hampir punah, binatang ini dilindungi negara. Namun, karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi, binatang ini menjadi buruan. Setelah dibedah, sisiknya dikelupas, dagingnya diawetkan. Setelah terkumpul banyak, barulah dikirim ke China.

Kegiatan menjual daging binatang ini dilakoni Ferry Suprianto. Rumah warga Pekauman Banjarmasin ini, kemarin digerebek petugas gabungan Polsekta Banjarmasin Selatan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan.

Hasilnya, ditemukan 360 ekor trenggiling yang sudah dibedah dan dikuliti di dalam delapan lemari pendingin. Sayangnya, saat penggerebekan, Ferry tak ada di rumah. Beberapa waktu lalu, rumah Ferry juga digerebek. Saat itu petugas menemukan 10 ekor trenggiling hidup dan 25 tanduk rusa.

Menurut Sri Wahidah, suaminya hanya sebagai pengumpul dan pengolah. Trenggiling-trenggiling itu dipasok oleh beberapa orang dari Palangka Raya, Kandangan dan lainnya. Biasanya, binatang tersebut dihargai Rp 50 ribu per ekor oleh Ferry.

Kemudian, lanjut Sri, trenggiling-trenggiling itu diolah oleh Ferry. Setelah dibedah dan dikuliti, Ferry kemudian menjual daging nya itu kepada para pembeli yang datang ke rumah.

"Untuk yang sudah dikuliti dijual dengan harga Rp 200 ribu, sedang jika ada yang masih hidup bisa laku sampai Rp 400 ribu. Biasanya yang datang orang Jakarta. Trenggiling itu kemudian diolah jadi makanan. Langganan makanan daging trenggiling itu katanya orang China dan Jepang," beber Sri.

Menurutnya, daging binatang bersisik tebal tersebut diyakini dapat menyembuhkan penyakit jantung dan paru-paru. Bahkan ada yang percaya bisa menjadi obat kuat. Sedang kulitnya, bisa dimanfaatkan untuk kosmetik. Satu kilogram sisik, bisa laku sampai Rp 350 ribu.

Daging binatang yang ditemukan di rumah Ferry itu langsung dimusnahkan. Daging seberat 1,5 ton itu dimasukkan ke dalam lubang besar di Tahura Sultan Adam Mandiangin Kabupaten Banjar, kemudian dibakar.

Kapolsekta Banjarmasin Selatan, AKP Anom Karibianto mengatakan, penggerebekan di rumah Ferry itu berawal dari informasi warga yang sering melihat aktivitas perdagangan binatang bersisik tersebut. Dari informasi itu, Anom berkoordinasi dengan BKSDA Kalsel.

Banyak tetangga yang tak tahu bahwa aktivitas di rumah Ferry itu ilegal. Jadi ketika ada penggerebekan, para tetangga Ferry pun bingung, setengah tak percaya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarmasin, Nurani, mengatakan, mereka yang memperjualbelikan trenggiling diancam dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Untuk diketahui, penemu trenggiling bernama Desmarest pada 1822. Binatang ini hidup di hutan dataran rendah. Trenggiling menyantap semut dan rayap. Memiliki cakar yang panjang dan lidah yang menjulur panjang sehingga memungkinkan satwa ini mengoyak sarang semut dan rayap. (banjamasin post/dd/niz)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau