SOLO,JUMAT - Asosiasi Mebel dan Kerajinan Kayu Indonesia (Asmindo) menyayangkan kurang tergarapnya pasar mebel dalam negeri, meski sebenarnya peluangnya masih terbuka lebar.
Ketua Asmindo Surakarta, David R.Wijaya, di Solo, Jumat (18/4), mengatakan, sebagian besar pengusaha mebel dan kerajinan kayu di wilayah ini lebih mengincar pasar luar negeri dengan melakukan ekspor.
Ia khawatir kondisi ini justru akan berdampak terhadap pasar dalam negeri yang justru akan dimasuki oleh produk-prosuk dari luar negeri seperti China dan Vietnam. Ia mengungkapkan, dari sekitar 210 pengusaha yang bernaung di bawah asosiasi ini, 60 persen di antaranya lebih memilih untuk menggarap pasar ekspor.
Total nilai ekspor mebel dan kerajinan kayu di wilayah Surakarta selama 2007, mencapai 169 juta dollar AS. "Padahal dalam tiga tahun terakhir, sektor properti di wilayah Surakarta yang turut mendongkrak permintaan furniture, mengalami peningkatan yang cukup baik," katanya.
Ia mencontohkan, akan dibangunnya tiga apartemen serta sejumlah hotel berbintang juga menjadi peluang bagi para pengusaha. Sementara itu, sejumlah permasalahan yang hingga kini masih dihadapi oleh para pengusaha ini, katanya, terutama seputar kenaikan harga bahan baku.
Selain itu, lanjut dia, kebijakan pemerintah di bidang listrik juga turut mempengaruhi sektor usaha ini. Menurut dia, jika kodisi ini terus-menerus berlangsung, maka akan berdampak terhadap kelangsungan hidup sektor usaha ini. (ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang