Petani Nikmati Harga Gabah

Kompas.com - 19/04/2008, 04:50 WIB

CIREBON, SABTU - Petani Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, saat ini sedang menikmati harga gabah yang relatif tinggi atau di atas harga pembelian pemerintah, yaitu Rp 2.300-Rp 2.500 per kilogram. Produktivitas gabah di daerah itu selama Januari-Maret rata-rata 6,94 ton per hektar.

Wardi (35), petani di Kecamatan Panguragan, Jumat (18/4), mengatakan, harga jual gabah kering panen (GKP) di desanya saat ini sekitar Rp 2.200-Rp 2.400 per kilogram (kg), tergantung jenis dan varietasnya. Varietas ciherang, misalnya, Rp 2.400 per kg.

Kenaikan harga tersebut membuat petani dapat menikmati sedikit keuntungan, seperti diakui pula petani lain di daerah itu.

Kepala Seksi Serealia Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Wasman menyebutkan, harga gabah saat ini menguntungkan petani. Sebab, harga GKP yang paling murah adalah Rp 2.100 per kg, masih di atas harga pembelian pemerintah (HPP) 2007 sebesar Rp 2.000 per kg.

”Saat ini sangat menjanjikan bagi petani karena produksi bagus,” kata Wasman.

Masih rendah

Berbeda dengan petani di Cirebon, mendekati akhir musim panen ini petani di Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Magelang belum menikmati kenaikan harga gabah.

Safari, pemilik penggilingan padi di Desa Progowati, Kecamatan Mungkid, Magelang, mengatakan, selama dua bulan ini harga GKP masih Rp 1.900-Rp 2.000 per kg.

Padahal, dengan makin berkurangnya panen, pasokan gabah mulai berkurang. Jika sebelumnya 2-3 ton per hari, dua minggu ini hanya 5-6 kuintal.

Di Purworejo harga GKP bahkan lebih rendah. Menurut Tukiso, petani Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, Purworejo, harga gabah GKP sebulan ini Rp 1.600 per kg. ”Harga beras pun belum naik. Saat ini, masih Rp 3.600-Rp 3.700 per kg,” ujarnya.

Menurut Tukiso, kondisi seperti itu merupakan hal yang lumrah terjadi setiap tahun. Harga beras biasanya baru akan naik ketika memasuki musim paceklik, sekitar Agustus.

”Ketika sudah memasuki puncak kemarau, harga beras bisa Rp 5.000 per kg,” ujar Tukiso.

Surplus

Wasman menambahkan, produktivitas hasil panen pada musim ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2007. Selama Januari-Maret 2008, produktivitas panen mencapai 6,94 ton per hektar. Jumlah itu meningkat dari tahun 2007 sebesar 6,83 ton dan dari tahun 2006 sebanyak 6,02 ton.

Dengan realisasi produksi di Cirebon yang mencapai 105.273 ton gabah kering giling (GKG), produksi tahun ini surplus.

Hingga Jumat, realisasi penyerapan beras petani di Cirebon, Kuningan, dan Majalengka adalah sebanyak 18.875 ton atau mencapai 29 persen dari target tahun ini sebanyak 65.000 ton.

Adapun di Bulog Sub Divisi Regional Indramayu penyerapannya telah mencapai 20.467 ton atau sekitar 34 persen dari target 60.000 ton. Menurut Kepala Bulog Indramayu Surasno, harus ada kedekatan hubungan emosional antara Bulog dan mitranya agar penyerapan tercapai.

Di Lampung, penyerapan beras oleh Bulog terus menurun sejak awal April. Penyebabnya bukan karena rendahnya kualitas beras, melainkan aksi pedagang antarkota yang membeli lebih mahal.

Kepala Bidang Pelayanan Publik Bulog Lampung Novi Indiarto, Jumat, mengatakan, pedagang asal Jambi, Riau, dan Bengkulu datang ke Lampung dan membeli dengan harga lebih tinggi dari HPP.

Di Denpasar, Bali, Jumat kemarin Dirjen Pangan dan Hortikultura Departemen Pertanian Soetarto kepada wartawan mengatakan, produksi pangan Indonesia sebenarnya surplus sejak tahun lalu. Pada 2007, surplus satu juta ton dan 2008 ini diperkirakan surplus 1,3 juta ton. Namun, stok pangan baru aman jika surplus 3-5 juta ton.(tht/egi/who/hln/ans)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau