Efiliani: Saya Bukan PSK

Kompas.com - 20/04/2008, 16:56 WIB

JAKARTA, MINGGU- Efielian Yonata, wanita yang digiring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama anggota Komisi IV DPR RI Al Amin Nur Nasution, membantah pemberitaan di berbagai media massa yang menyebut dirinya adalah seorang Pekerja Seks Komersil (PSK). Hal ini ia jelaskan saat menggelar jumpa pers terkait penangkapannya, Minggu (20/4) siang, di Restoran Padang Bundo Sati, Jakarta.

"Saya ini Efielian Yonata. Saya ini mahasiswi Universitas Pakuan Bogor. Saya bukan PSK. Itu fitnah dan tolong teman-teman wartawan meluruskan," kata mahasiswi semester empat Fakultas Ekonomi yang akrab dipanggil Efil ini. Saat menggelar jumpa pers, Efil datang bersama neneknya, Hj Agustinah, kuasa hukumnya Ahmad Yani, dan teman dekatnya, Arya, yang juga ditangkap KPK di Hotel Ritz Carlton, Rabu 9 April lalu.

Dengan mata berkaca-kaca, Efil menjelaskan bahwa dirinya tidak mengenal Amin. Wanita berusia 20 tahun ini mengaku baru pertama kali bertemu Amin di Jakarta dan dikenalkan oleh Arya, teman yang baru sebulan ia kenal di kampung halamannya, Bogor. "Saya nggak kenal dengan Pak Amin. Saya baru sekali bertemu dia dan dikenalkan teman saya, Arya. Saya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kasus yang menimpa Pak Amin," kata Efil.

Kepada wartawan, Efil menjelaskan bahwa dirinya pada Selasa (8/4) atau sehari sebelum ditangkap, ia diajak liburan oleh Arya ke Jakarta. Ia pun lalu berangkat ke Jakarta diantar temannya seusai mengikuti ujian di kampus. "Saya tiba di Jakarta sekitar jam 7 malam. Terus ketemu Arya di rumah makan Padang," kata Efil.

Rumah makan yang dimaksud Efil itu adalah Rumah Makan Sari Bundo di Jl Juanda dekat Istana Merdeka. Saat itu Arya sudah menunggu bersama Amin.

Sebenarnya, Efil dan Arya hendak jalan berdua, namun batal karena diminta menemani Amin ke klub malam di Hotel Ritz Carlton. "Kita bahkan punya pikiran mau nonton film dan ke Hotel Four Season (Jl Dukuh Atas Jakarta). Tapi saya tidak enak dengan Pak Amin yang malam itu memang minta ditemani. Lalu saya ajak Efil dan kami berangkat sama-sama ke klub malam di Ritz Carlton. Sekedar jalan-jalan saja, hang out bareng," kata Arya.

Pemuda yang mengaku aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ini mengatakan bahwa Efil tidak mengenal Amin. Sementara hubungannya dengan Amin adalah sebagai kawan yang aktif di organisasi. "Saya sudah kenal lama, dan saya juga kenal dan sering ngobrol dengan mba Kristina (istri Amin). Bahkan saya pernah cerita dengan mba Kristina kalau saya lagi dekat dengan cewek yang mana cewek itu ya Efil ini," kata Arya seraya menunjuk ke arah Efil.

Saat di klub malam itu, Arya, Efil, dan Amin duduk satu meja. Kepada wartawan ia mengaku tidak melihat Amin bertemu dengan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Bintan Kepulauan Riau, Azirwan. "Namanya klub, jadi waktu itu gelap, saya tidak ada lihat Pak Amin bertemu dengan Sekda (Azirwan) itu. Karena kita memang duduk tidak satu table (meja)," katanya.

Sekitar pukul 1.00 WIB, ketiganya memutuskan untuk pulang. Saat itulah ketiganya diciduk oleh KPK sekeluar dari lift di lantai dasar (basement). Efil dan Arya membantah dirinya ditangkap KPK saat di kamar hotel. "Kami tidak ditangkap di kamar, kami ditangkap di basement waktu keluar dari lift. Saya waktu itu lihat banyak polisi dan ada Brimob yang bersenjata lengkap. Usai ditangkap kami langsung dibawa ke kantor KPK," ujar Arya menjelaskan.

Di kantor KPK, keduanya mengaku bingung ketika penyidik menanyakan apakah mengetahui seputar dugaan penyuapan Amin oleh Azirwan. Keduanya mengaku lelah dan sempat stress saat diperiksa KPK. "Karena kami memang tidak tahu menahu soal itu. Waktu keluar dari kantor KPK kami juga takut dan bingung melihat banyak wartawan sudah menunggu dan mengejar. Terus terang saya dan keluarga sangat terganggu, terutama dengan pemberitaan yang telah mencemarkan nama baik. Karena itu saya mohon diluruskan. Saya bukan PSK," kata Efil.(Persda Network/mohammad abduh)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau