Pasar Lelang Timah Segera Terwujud

Kompas.com - 21/04/2008, 06:15 WIB

PANGKALPINANG,SENIN - Setelah menunggu lama, PT Timah untuk memiliki pasar lelang timah, tampaknya akan segera terwujud. Pendirian pasar lelang timah pada 2008 itu terungkap dari pernyataan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan RI, Diah Maulida akhir pekan ini. Ia mengatakan, pemerintah akan memfasilitasi pelaku pertimahan dalam negeri untuk ikut serta dalam merancang pembentukan pasar lelang timah, Jakarta Tin Market.

Selama ini pasar lelang timah dunia dikendalikan di Kuala Lumpur (Kuala Lumpur Tin Market/KLTM) untuk wilayah Asia dan London Metal Exchange/LME untuk wilayah Eropa dan Amerika. Padahal Indonesia adalah produsen timah besar dunia. Indonesia  hanya punya produk, sementara Malaysia dapat nama dan untung besar.
   
Hasil produksi balok timah Malaysia setelah dilakukan penataan penambangan timah di Indonesia diperkirakan hanya 2.000 metrik ton pertahun atau hanya tiga minggu produksi timah Bangka.  Namun, sebagain besar perdagangan balok timah Indonesia dilakukan di KLTM. Ada keinginan kuat agar perdagangan balok timah bisa dilakukan di Jakarta atau Jakarta Tin Market.

PT Timah pada 2007 lalu memproduksi balok timah sebanyak 58 ribu ton, pada 2008 produksinya bakal menembus angka 60 ribu mentrik ton, belum lagi produksi dari Koba Tin, serta 14 smelter lain yang sudah disetujui selaku eksportir terbatas oleh pemerintah.

Data dari Depdag, selama 2007 produksi balok timah sebanyak 93.735 metrik ton senilai 1,354 miliar dollar AS, sementara pada 2006 produksi balok mencapai 118,555 ton senilai 913 juta dollar AS. Selama triwulan I 2008 saja produksi timah sudah mencapai 25.951 metrik ton senilai 431,996 juta dollar AS.

Balok timah asal Indonesia diperjualbelikan di KLTM dan LME. Indonesia kurang mendapatkan manfaat optimal dari jasa perdagangan balok timah tersebut. Dirut PT Timah Wachid Usman mengatakan bila pasar timah ada di Jakarta, maka yang akan bermain adalah orang-orang Indonesia, sebagai broker dan pedagangnya.

Pembeli timah dunia akan berkiblat ke Jakarta dan bahkan harga ditentukan oleh orang Indonesia sendiri. "Yang mendapatkan manfaat besar adalah orang Indonesia sendiri, kalau sebelumnya lebih banyak orang Malaysia," ujarnya.

Wachid menegaskan, industri pemurnian bijih timah (smelter) di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia dan Thailand kini kekurangan bahan baku akibat terbatasnya pasokan dan kebijakan pemerintah dengan memberlakukan ijin selaku eksportir terdaftar (ET) bagi setiap balok timah.

Bangka telah menjadi pemasok bahan baku bagi industri timah bermerek di Asia Tenggara hingga produksi perusahaan tersebut jauh melebihi bahan baku yang mereka dapat dari negara sendiri. Pabrik timah di Thailand mampu memproduksi 30 ribu ton setiap tahun, sementara hasil penambangan mereka hanya berupa pasir timah sebesar 3.000 ton saja.

Negara tetangga lain seperti Malaysia melalui Malaysia Smelting corporation (MSC) juga memproduksi timah bermerek sebanyak 30 ribu ton pertahun, di sisi lain penambangan mereka hanya memproduksi pasir timah sebesar 2.000 ton pertahun.

Begitu juga dengan Singapura dengan pabrik Singapura Tin Industri (STI) yang baru membuat pabrik timah bermerek sendiri malah tidak memiliki cadangan timah sama sekali, tapi berani membuka pabrik karena mendapat pasokan dari Bangka. Indonesia sendiri mampu memproduksi sebesar 120 ribu ton timah bermerek bila seluruh bijih timah dan balok timah tidak dijual keluar negeri.

40 persen produksi dunia

Indonesia diperkirakan menjadi pemasok bagi hampir 40 persen dari kebutuhan dunia di luar Cina.  Hanya saja akibat tidak bersatunya pelaku timah serta regulator di Indonesia maka pemasaran timah masih dilakukan di Malaysia dan Inggris.
   
Negara lain yang secara kelayakan tidak pantas membangun pabrik timah bermerek, malah berani membangun industri itu karena yakin mendapat pasokan dari Indonesia. Pasca penataan kegiatan penambangan dan perdagangan timah oleh pemerintah pasca Oktober kelabu di Bangka pada 2006, harga timah di pasar dunia seperti London Metal Exchange (LME) terus meningkat tajam.

Bila sebelum Oktober 2006 harga balok timah dunia masih 7.800 dollar AS permetrik ton, kini di LME untuk kontrak pengiriman tiga bulan kedepan harganya mencapai 21.300 dollar AS atau naik 40 persen dalam setahun terakhir. Sekretaris Perusahaan PT Timah, Abrun Abubakar mengatakan manajemen PT Timah siap memperdagangkan saham di Jakarta Tin Market (JTM). "Kita siapkan perangkat dan infrastrukturnya. Jakarta sudah pantas menjadi tempat transaksi timah di Asia," ujarnya.

Ia menilai belum teralisirnya perdagangan timah dunia di Jakarta, tidak terlepas dari gontok-gontokan kebijakan pemerintah dan situasi yang kurang kondusif. Bila balok timah di perdagangkan di JTM, maka pemerintah akan mendapat jasa dari setiap perdagangan tersebut, begitu juga keuntungan lain akibat adanya transaksi pembelian balok timah. Selain itu, di JTM yang diperdagangkan hanya warrant atau surat-suratnya sementara barangnya ada di gudang. Gudangnya berada di Bangka. "Akan ada berbagai manfaat dan nama baik yang di dapat bila JTM terealisir. Untuk itu pemerintah bisa menetapkan regulasi pembentukan JTM itu secepatnya," ujar Abrun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau