Sektor bisnis properti di Surabaya diprediksi tetap menjadi primadona, meski diguncang oleh naiknya harga material bangunan. Dengan alasan itulah, kalangan perbankan optimistis pertumbuhan kredit properti tahun ini bisa melampaui pertumbuhan tahun lalu.
"Rata-rata pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) diprediksi naik 10 persen-15 persen dari rata-rata pertumbuhan pada tahun 2007. Kredit masih akan didominasi oleh segmen pasar menengah ke bawah," ujar Kepala Cabang BTN Surabaya Yunan Harahap, Kamis (17/1) di Surabaya.
BTN sendiri optimistis menetapkan target realisasi KPR baru sebesar 26 persen atau sekitar Rp 260 miliar. Itu berarti lebih tinggi dari realisasi KPR baru selama tahun sebelumnya sebesar Rp 196 miliar. Total outstanding kredit BTN Surabaya sampai saat ini telah mencapai Rp 780 miliar di mana 60 persennya merupakan kredit komersial, sedangkan 40 persen lainnya kredit bersubsidi. Usulan kenaikan harga rumah sederhana sehat pada tahun 2008 dari Rp 49 juta per unit menjadi Rp 55 juta - Rp 57 juta per unit, menurut dia, berpeluang untuk menaikkan realisasi kredit.
Secara terpisah, Vice President Pusat Bisnis Kredit Komsumtif PT Bank Mandiri Kanwil VIII Surabaya Djoko Yoewono mengatakan, dari beberapa jenis kredit konsumtif yang ditawarkan perbankan, KPR masih memiliki pasar yang prospektif. Bisnis properti diperkirakan berpeluang besar untuk tumbuh pesat mengingat rumah merupakan
kebutuhan dasar bagi masyarakat.
Bank Mandiri Kanwil Surabaya mencatat portofolio KPR selama 2007 mengalami pertumbuhan di atas 50 persen. KPR memberi kontribusi sebesar 70 persen dari total realisasi kredit konsumtif sebesar Rp 1,178 triliun.
Kerja sama
Di tahun 2008 diharapkan pertumbuhan KPR akan lebih tinggi. Untuk itu Mandiri berencana memperluas kerja sama dengan para pengembang. Jika saat ini sedikitnya 57 pengembang sudah menandatangani kontrak kerja sama, ditargetkan pada tahun ini akan bertambah sekitar 18-20 pengembang lagi.
Daerah yang digarap pun diperluas, tidak hanya Surabaya dan Sidoarjo, tetapi juga mulai merambah Malang dan Jember. Bank Mandiri juga mulai menggarap kredit apartemen untuk menangkap ceruk pasar dari tumbuhnya bisnis di Surabaya.
Djoko mengatakan, ada fenomena menarik pada kasus KPR di Surabaya. Fenomena itu adalah terjadinya pergeseran konsumen KPR yang dulunya hanya dikuasai oleh kalangan menengah ke bawah sekarang mulai diminati oleh kalangan menengah atas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang