Rahasia Gaya Kribo Ronaldo

Kompas.com - 21/04/2008, 10:05 WIB

PENAMPILAN Ronaldo sejak pindah ke AC Milan memang agak aneh. Dia tiba-tiba memelhara rambutnya hingga semakin panjang. Bahkan, tak ada indikasi untuk mencukurnya, seolah dia memang ingin memanjangkan rambutnya.

Ronaldo termasuk pemain yang cukup memperhatikan gaya rambut. namun, dia tak terlalu modis atau variatif seperti halnya David Beckham. Bahkan, terkadang gaya rambutnya terkesan sederhana, tapi cukup khas.

Sejak kemunculannya sebagai bintang, dia lebih suka dengan potongan rambut cepak. Namun, tak lama kemudian dia mengubahnya lagi menjadi pelontos habis alias botak.

Memang, gaya kepala botak bukan dia pelopornya di sepakbola. Namun, karena namanya besar, Ronaldo punya peran besar pula membuat banyak pemain mengikuti potongannya. Yang pasti, dia menjadi begitu khas dengan setiap potongan rambutnya.

Yang aneh adalah potongan rambutnya di Piala Dunia 2002. Dia tiba-tiba muncul dengan rambut kuncung, seperti anak kecil. Dia pun segera menjadi perhatian, apalagi tampil menawan sepanjang Piala Dunia 2002.

Namun, tentu saja itu gaya yang aneh dan kurang modis. Sehingga, modelnya tak terlalu menimbulkan demam di mana-mana. Beda dengan gaya rambut Beckham yang pada saat bersamaan berpotongan Mohawk.

Meski begitu, Ronaldo cukup unik dengan idenya. Cukup lama dia mempertahankan gaya anehnya tersebut, namun kemudian saat membela Real Madrid kembali ke gaya botak.

Nah, begitu pindah ke AC Milan, dia langsung mengganti potongan rambutnya. Tiba-tiba, Ronaldo yang selama ini dikenal minimalis soal rambut, kini rambutnya mulai semakin lebat dan cenderung kribo.

Sekadar gaya atau ada maksud lain? Cukup lama pertanyaan ini tak terjawab. Namun, akhirnya Ronaldo sendiri memberi penjelasan. Ternyata, selain gaya juga ada maksud yang penting buatnya, juga buat tim.

Dikabarkan, ketika dibeli Milan, pemilik klub itu, Silvio Berlusconi meinta Ronaldo mengganti gaya rambutnya. Kepala pelontos dinilai terlalu membosankan dan berlusconi kurang menyukainya.

Ronaldo pun memenuhi permintaan tersebut demi menyenangkan sang bos. Namun, tidak hanya itu jika dia rela memanjangkan rambutnya. Ternyata, dengan rambut yang semakin panjang, dia lebih mudah mencetak gol. Terutama dengan sundulan kepalanya.

Sekadar informasi, Ronaldo memang jago mencetak gol. Tapi, dia bukan tipe pemain yang jago dalam adu udara. Sudah sangat sering dia gagal mencetak gol dengan sundulannya, meski dalam posisi yang begitu mudah.

Nah, sejak memanjangkan rambutnya, katanya, dia jadi lebih mudah mencetak gol dengan kepalanya. Mungkin, gaya rambut yang baru itu memang merangsangnya untuk lebih sering menyundul, sekaligus pamer model rambut.

Kepada kantor berita Cina, Xinhua, Ronaldo mengatakan, "Rasanya, model rambut baru ini cukup membantuku untuk mencetak gol dengan sundulan. Aku berharap akan begitu."

Butuh pengorbanan tak sedikit buat Ronaldo untuk memanjangkan rambutnya. Sebab, ternyata Ronaldo bukan tipe orang yang punya pertumbuhan rambut yang baik. Sebab itu, dia dulu lebih suka botak. Tapi, bagaimana rambutnya bisa tiba-tiba lebat dan cenderung gondrong?

Ternyata, Ronaldo harus berobat dan menjalani terapi ke Swss. Dia mengenakan pemacu pertumbuhan rambut bernama Crescina. Menurut surat kabar Brasil, O Globo, Ronaldo memang menginginkan gaya rambut Afro pada era 1970-an.

Tak hanya itu, Ronaldo juga berencana menggondrongkan rambutnya. Bahkan, dia ingin suatu saat nanti bisa seperti rambut legenda Kolombia, Carlos Valderama.

Sayang, dia kini sedang dalam perawatan karena cedera. Untungnya, Ronaldo dikabarkan bisa sembuh lebih cepat. Dia juga bertekad tak akan mengakhiri kariernya dulu dan siap kembali bermain. Mungkin, di saat dia bermain lagi nanti, rambutnya sudah gondrong ala Carlos Valderama. (HPR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau