JAKARTA, SENIN - PT Unilever menegaskan, perambahan hutan untuk ekspansi penanaman kelapa sawit harus dan bisa dihentikan. Peningkatan permintaan terhadap kebutuhan minyak sawit harus bisa dipenuhi dengan meningkatkan hasil panen serta perluasan ke lahan terbuka. Pernyataan ini disampaikan Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia Tbk, Maria D Dwianto, yang dihubungi Kompas.com, Senin (21/4). Ia dimintai tanggapannya atas pernyataan Greenpeace Indonesia yang menuduh pemasok bahan baku Unilever telah merusak hutan Kalimantan.
Maria menyampaikan, pemasok bahan baku minyak sawit ke unilever adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki komitmen terhadap kelestarian alam. Hal itu ditunjukkan dengan keikutsertaan mereka dalam Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) koalisi lebih dari 100 perusahaan dan organisasi yang berkomitmen untuk mendorong terciptanya poduksi minyak kelapa sawit yang dilaksanakan dengan bertanggungjawab secara lingkungan.
"Pasokan minyak kelapa sawit yang digunakan Unilever Indonesia sebagian besar berasal dari perkebunan kelapa sawit anggota RSPO, yang berarti mereka telah berkomitmen untuk mengupayakan pembudidayaan dan produksi minyak kelapa sawit secara bertanggung jawab," tegasnya.
"Sejak lama Unilever telah menjadi pelopor yang mengupayakan agar bahan mentah dari alam yang dipergunakan diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab dan tidak merusak alam. Kami aktif mencari solusi agar minyak kelapa sawit yang kami pakai bersifat sustainable atau diproduksi dengan cara yang tidak merusak alam," tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang