BANDUNG, SELASA - Pelaksanaan ujian nasional tingkat SMA sederajat di Kota Bandung, Selasa (22/4), diwarnai sejumlah persoalan menonjol, antara lain masih munculnya pelanggaran terhadap Pedoman Operasional Standar atau POS Ujian Nasional, peredaran kunci jawaban yang diduga palsu di kalangan siswa, dan kesalahan isi naskah soal.
Pelanggaran terhadap POS ujian nasional yang diatur di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2007 dan Keputusan Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Nomor 984/BSN P/XI/2007 khususnya soal kehadiran guru bidang studi saat mata pelajaran terkait dilakukan. Hari ini masih ditemui guru bidang studi terkait yang mengawas ujian nasional. Padahal, aturan melarang mereka berada di lingkungan sekolah, apalagi mengawas.
Hal lain yang disesalkan, ungkap anggota Dewan Pendidikan Kota Bandung Iwan Hermawan, sekolah masih harus terbebani untuk memberikan honor tidak wajib kepada pengawas yang besarannya mencapai Rp 100 ribu per orang. Akibatnya, beban sekolah untuk pelaksanaan ujian nasional ini rata-rata mencapai Rp 30 juta. "Ujung-ujungnya, ke masyarakat (dana diambil). Padahal, ini semestinya tidak perlu," ujar Iwan.
Terungkap pula beredarnya kunci jawaban ujian nasional melalui pesan layanan singkat (short message service) di sejumlah sekolah. Menurut penuturan sejumlah siswa yang enggan disebut namanya, kunci jawaban itu beredar sebelum pelaksanaan ujian. Di dalamnya berisi kunci jawaban soal Matematika (IPS) dan Bahasa Indonesia dalam dua tipe.
Presiden Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI), Firmansyah Noor belum mau terburu-buru memastikan kunci jawaban itu palsu atau tidak. Kepastiannya itu akan diperoleh dari hasil pemeriksaan soal ujian. Jika hasilnya nanti cocok, patut diyakini, itu merupakan bentuk kebocoran soal. Kepala Dinas Pendidikan Privinsi Jabar Dadang Dally jauh-jauh hari telah memperingatkan potensi beredarnya kunci jawaban palsu yang dapat mengecoh siswa. Peristiwa macam ini juga terjadi tahun lalu.
Di Sekolah Luar Biasa Negeri A Bandung, pelaksanaan ujian sempat molor 30 menit lebih dari jadwal semestinya. Sebab, lembar soal ujian Bahasa Indonesia ternyata tertukar dengan lembar Bahasa Inggris. Kondisi ini sempat membuat panik peserta ujian. Beruntung, kedua naskah ujian ada pada panitia. Sehingga, cepat diantisipasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang