600.000 Hektar Lahan Kritis Berada di Luar Kawasan Hutan

Kompas.com - 22/04/2008, 18:49 WIB

MAGELANG, SELASA- Sebanyak 600.000 hektar lahan kritis di Jawa Tengah, berada di luar kawasan hutan milik negara. Posisinya yang berada di lahan milik masyarakat membuat upaya konservasi di luasan ini membutuhkan program pendekatan khusus.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono mengatakan 600.000 hektar lahan kritis ini tersebar di kawasan pegunungan di Kabupaten Wonosobo, Temanggung, dan Kudus. Sebagian besar lahan itu, terutama di Kabupaten Wonosobo, hanya ditanami tanaman semusim seperti kentang atau tembakau.

"Bahkan, 200.000 hektar diantaranya berada dalam kondisi sangat kritis karena merupakan tanah kosong yang tidak ditumbuhi tanaman apa pun," kata Sri Puryono dalam kegiatan menanam pohon memperingati Hari Bumi di Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Selasa (22/4).

Untuk menghijaukan kembali 600.000 hektar lahan kritis tersebut, Puryono mengatakan, pihaknya harus melakukan pendekatan khusus kepada para pemilik lahan. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan bantuan untuk menggerakkan kegiatan-kegiat an produktif di luar lahan seperti peternakan, perikanan, atau kerajinan tangan.

Bantuan yang diberikan bisa berupa ternak, bibit ikan, atau bahan baku kerajinan. Dengan cara ini, masyarakat diharapkan tetap dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya tanpa mengolah atau merusak lahan. paparnya.

Setelah mengalihkan mata pencaharian masyarakat ke sektor lain, maka tanah yang semula digarap kegiatan pertanian tersebut, dapat kembali dihijaukan. Ditargetkan, penanaman pohon di areal itu bisa mencapai 50.000 hektar per tahun.

Namun, partisipasi masyarakat pun masih sangat dibutuhkan agar konservasi di areal ini bisa berlangsung lebih cepat, terangnya.

Bagi masyarakat yang bertempat tinggal di kemiringan lebih dari 40 persen dan sudah menanami lahannya sekitarnya dengan tanaman tahunan, pemerintah akan memberikan insentif diantaranya berupa keringanan pajak bumi dan bangunan (PBB). Sebaliknya, mereka ya ng tidak memperlakukan lingkungannya dengan baik, akan mendapat sanksi, nilai nominal PBB miliknya akan dilipatgandakan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau