SERANG, SELASA - Letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda, Provinsi Lampung, mulai memuntahkan bola api setinggi empat meter disertai kepulan asap menyusul dinaikkan status siaga level III, Senin (21/4).
"Saya lihat sebanyak delapan kali sinar bola api dimuntahkan dari perut Anak Gunung Krakatau," kata Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Anton Tripambudi, Selasa (22/4).
Menurut dia, bola api yang dikeluarkan itu akibat terjadi pembesaran kawah baru di bukit selatan gunung, bahkan diperkirakan lubangnya sudah mencapai 175 diameter.
Sinar bola api itu, kata Anton, terlihat jelas di sore hari di sekitar Pantai Anyer, karena kondisi cuaca Perairan Selat Sunda mendung disertai hujan.
Selain itu, gelombang laut sangat besar hingga ketinggian mencapai 2 meter juga tiupan angin kencang. "Saat ini kondisi perairan Selat Sunda gelap dan tampak jelas letusan Gunung Anak Krakatau," katanya.
Ia mengatakan, muntahan yang dikeluarkan dari perut GAK berupa material bebatuan, sehingga berbahaya bagi pengunjung maupun nelayan.
Oleh karena itu, ujar Anton, pihaknya menetapkan status siaga level III, karena terjadi letusan dan kegempaan vulkanik. "Jika orang terkena lontaran bebatuan itu dapat mengakibatkan kematian, karena suhunya mencapai 1.500 derajat celcius," katanya.
Ia menyebutkan, sejauh ini kemunculan letusan dan kegempaan GAK terjadi setiap enam sampai delapan menit.
Sementara itu, sejumlah warga yang berada di pesisir Pantai Anyer sore itu merasa terhibur dengan munculnya bola api yang dimuntahkan GAK. Mereka kagum melihat bola api yang dimuntahkan dari perut gunung. (ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang