Istri Bolkiah Beli Ikan Arwana di Joglo

Kompas.com - 23/04/2008, 05:36 WIB

JOGLO, RABU - Istri Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Ny Azrinaz Mazhar Hakim, berencana membeli ikan arowana alias arwana di kawasan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, Rabu (23/4).Sebagai peternak ikan arwana, Sriyadi (42) mengaku gembira akan didatangi Ny Bolkiah. Ia sangat tersanjung terpilih menjadi tuan rumah bagi kunjungan istri Sultan Brunei. "Mungkin beliau mau beli ikan arwana yang di Jakarta, daripada ke Pontianak," ujar Sriyadi saat ditemui di rumahnya, Kompleks DPR Blok K, No 54, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (22/4).

Sekilas, rumah Sriyadi tidak tampak sebagai tempat penangkaran ikan arwana. Namun, ketika pintu garasi dibuka, terlihat puluhan akuarium berisi arwana, mulai dari usia beberapa hari hingga lima tahun. Sarjana ekonomi ini juga memiliki tiga kolam di belakang rumahnya, tempat induk arwana dan puluhan arwana usia sedang. Ia hanya membiakkan arwana jenis Super Red atau dalam bahasa latin disebut Sclerophages Formosus.

Persiapan kunjungan

Ny Bolkiah dijadwalkan tiba di rumah Sriyadi pukul 09.30. Sriyadi mengatakan, dirinya telah diberi tahu rencana kunjungan ini sejak dua minggu lalu. Sabtu (19/4) lalu rumahnya disurvei untuk persiapan kunjungan Ny Bolkiah.

Ny Bolkiah di Jakarta menyertai kunjungan suaminya, Sultan Hassanal Bolkiah. Bolkiah sendiri, kemarin menyempatkan diri bermain bulu tangkis di sela kunjungannya.

Tepat pukul 10.30, Selasa, rombongan tamu negara itu tiba di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Mereka disambut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono. Kemudian berlangsung pertemuan empat mata antar-kepala negara dan pertemuan bilateral delegasi dua negara, juga di Istana Merdeka. Seusai kunjungan ke istana, Bolkiah main bulu tangkis di Pelatnas Bulu Tangkis, Cipayung, Jakarta Timur.

Saat ini, Sriyadi memiliki sekitar 125 ikan arwana yang berusia di atas dua tahun. Ikan yang populasinya dilindungi pemerintah ini harganya minimal Rp 5 juta per ekor. Sedangkan untuk jenis Golden berkisar Rp 1,2 juta hingga Rp 3 juta. Untuk jenis Banjar atau Irian hanya berkisar Rp 100.000 per ekor.

"Padahal biaya makan dan perawatannya sama, jadi saya lebih milih bisnis arwana jenis Super Red," ujar pria kelahiran Klaten itu.

Suami Ari Aniswati itu sudah sering mengekspor ikan arwana ke negara-negara di Asia, seperti Jepang, Taiwan, RRC, Thailand, dan terbanyak ke Singapura. Sriyadi pernah menjual arwana paling mahal seharga Rp 65 juta. "Kalau arwana laku Rp 50 juta sudah sering," tuturnya.

Sriyadi tidak menyangka Ny Bolkiah bakal menjadi salah satu pelanggannya. "Setahu saya, beliau melihat di internet. Kalau pakai search engine, website saya (www.citraarowana.com) biasanya langsung muncul," tutur bapak dua anak itu.

Sejumlah pembantu rumah tangga dan karyawan Sriyadi, kemarin merapikan ruangan rumah, mengepel lantai, dan membersihkan akuarium. Sriyadi mempersiapkan penyambutan secara baik, meski belum tahu Ny Bolkiah akan membeli arwana yang mana. Ia menyediakan berbagai jenis arwana berumur sedang hingga usia 5 tahun yang termahal seharga Rp 100 juta.

Pria yang berbisnis arwana sejak 2002 ini mengatakan, dalam setahun ia bisa menjual 250 hingga 300 ekor arwana. Para pelanggannya kebanyakan dari kalangan penggemar ikan hias. "Kalau jualan arwana sulit dihitung secara matematik. Kadang sebulan nggak ada yang beli, tapi ada yang sekali beli 50 ikan," tuturnya.

Setiap ikan yang dijual Sriyadi memiliki microchip yang ditanam dalam dagingnya. Sebab, setiap ikan arwana yang lahir dari telur harus didaftarkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Departemen Kehutanan. Penanaman microchip itu disertai dengan penerbitan sertifikat arwana.

Data ikan kemudian dapat diketahui dengan menyalakan alat yang dinamakan reader, mirip pembaca barcode untuk barang industri. "Jadi, populasi arwana bisa diketahui pemerintah, kalau pakai reader nggak keluar angka, berarti ikan itu nggak ada sertifikatnya," jelasnya. Penanaman chip baru dilakukan setelah ikan memiliki panjang minimal 20 cm. (Warta Kota/sab)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau