Nelayan Diminta Tak Dekati Anak Krakatau

Kompas.com - 23/04/2008, 16:57 WIB

BANDARLAMPUNG, RABU- Berkait dengan meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Senin (14/4) lalu, para nelayan diimbau untuk tidak mendekat ke gunung  berapi itu hingga radius satu kilometer. "Meski demikian, kami tetap mengimbau masyarakat untuk tenang," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Andi Suwardi, yang dihubungi dari Bandarlampung, Rabu (23/4).

Dikatakan Andi, aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat lagi dalam dua pekan terakhir, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan aktivitas selama dua bulan sejak 12 Februari 2008 lalu. Peningkatan aktivitas itu ditandai dengan makin lebarnya kawah baru yang terbentuk pada Oktober 2007. Ia juga mengingatkan bahwa status Gunung Anak Krakatau belum diturunkan dari siaga menjadi waspada sejak Oktober itu.

Peningkatan aktivitas juga ditandai dengan meningkatya aktivitas kegempaan. Mulai 12 Februari 2008 hingga 13 April 2008 Pos Pemantau Hargopancuran mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau lebih banyak didominasi gempa vulkanik dalam (A) dan gempa vulkanik dangkal (B).

Akan tetapi Sejak 14 April 2008, aktivitas gunung berapi yang terletak di Selat Sunda itu meningkat. Pos pemantau mencatat meningkatnya kembali aktivitas gunung berapi yang tumbuh sebagai sisa letusan tahun 1883 itu dari jumlah letusan, tremor, hembusan, gempa vulkanik A, dan gempa vulkanik B.

Pada 14 April 2008 tercatat terjadi 27 kali letusan, 16 kali hembusan, 24 kali gempa vulkanik A, dan 52 kali gempa vulkanik B. Aktivitas gunung terpantau meningkat signifikan pada 15 A pril 2008 dengan jumlah letusan sebanyak 193 kali, enam kali tremor, 66 kali hembusan, 40 kali gempa vulkanik A, dan 77 kali gempa vulkanik B.

Selama periode peningkatan aktivitas, Pos Pemantau Hargopancuran mencatat jumlah letusan paling banyak terjadi pada Selasa (22/4). Jumlah letusan tercatat terjadi 229 kali, hembusan 360 kali, tremor 18 kali, gempa vulkanik A 146 kali, dan gempa v ulkanik B 126 kali. Sedangkan pada Senin (21/4), terjadi 185 kali letusan dengan tremor 23 kali, hembusan 288 kali, gempa vulkanik A 132 kali, dan gtempa vulkanik B 120 kali.

Lebih lanjut Andi mengatakan, peningkatan aktivitas dimungkinkan terjadi karena sesuai jenisnya sebagai gunung berapi, gunung tersebut diketahui terus tumbuh dan membesar. Gunung berapi tersebut masih menyimpan energi sehingga ia kembali aktif, kata Andi.

Keaktivan kembali gunung juga menyebabkan kawah baru yang terbentuk pada Oktober 2007 kian membesar. Kawah baru yang terletak sekitar 300 meter di sebelah selatan kawah lama itu kini berdiameter sekitar 200 meter. Melebarnya kawah diperkirakan terjadi sebagai dampak meningkatnya kegiatan magma di perut gunung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau