JAKARTA, KAMIS-Puluhan Orang Dengan HIV AIDS (ODHA), Kamis (24/4), mendatangi Departemen Kesehatan (Depkes) menuntut perubahan dan perbaikan sistem pendistribusian Anti Retroviral (ARV).
Dalam siaran pers yang dibagikan kepada wartawan, ODHA juga menuntut adanya transparansi tentang pengadaan dan pendistribusian ARV, subsidi penuh ARV lini satu dan lini dua dalam APBN, melibatkan ODHA dalam setiap kebijakan penanggulangan dan pencegahan HIV AIDS, menjamin tidak ada lagi diskriminasi di rumah sakit terhadap ODHA.
Langkanya pendistribusian ARV di beberapa rumah sakit membuat ODHA harus menggantinya dengan STOKRIN, obat yang sama dengan ARV yang dijual Rp25.000 per butir. Sehingga ODHA banyak yang tidak mampu membeli.
ARV adalah bukan obat sesungguhnya bagi para penderita HIV/AIDS. Karena sifatnya hanya sebagai peredam atau penghambat, bukan penyembuh. Fungsi obat ini hanyalah menekan menekan jumlah virus yang ada dalam darah.
Penggunaan ARV sendiri untuk ODHA dalam satu bulan dibutuhkan sekitar satu botol yang masih disubsidi oleh pemerintah, angka pengidap HIV di Indonesia sampai akhir 2006 mencapai 193.000 jiwa. ARV yang harganya berkisar antara Rp. 400 ribu hingga Rp. 800 ribu ini memiliki dua lini, pertama AZT, d4T, 3TC, Nevirapine dan Efavirenz yang sudah diproduksi di Indonesia oleh PT. Kimia Farma. Sedangkan Tenofir, ddl dan Liponavir/Ri yang digunakan untuk lini kedua.(C5-08)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang