ODHA Tuntut Perbaikan Distribusi ARV

Kompas.com - 24/04/2008, 11:20 WIB

JAKARTA, KAMIS-Puluhan Orang Dengan HIV AIDS (ODHA), Kamis (24/4), mendatangi Departemen Kesehatan (Depkes) menuntut perubahan dan perbaikan sistem pendistribusian Anti Retroviral (ARV).

Dalam siaran pers yang dibagikan kepada wartawan, ODHA juga menuntut adanya transparansi tentang pengadaan dan pendistribusian ARV, subsidi penuh ARV lini satu dan lini dua dalam APBN, melibatkan ODHA dalam setiap kebijakan penanggulangan dan pencegahan HIV AIDS, menjamin tidak ada lagi diskriminasi di rumah sakit terhadap ODHA.

Langkanya pendistribusian ARV di beberapa rumah sakit membuat ODHA harus menggantinya dengan STOKRIN, obat yang sama dengan ARV yang dijual Rp25.000 per butir. Sehingga ODHA banyak yang tidak mampu membeli.

ARV adalah  bukan obat sesungguhnya bagi para penderita HIV/AIDS. Karena sifatnya hanya sebagai peredam atau penghambat, bukan penyembuh.  Fungsi obat ini hanyalah menekan menekan jumlah virus yang ada dalam darah.

Penggunaan ARV sendiri untuk ODHA dalam satu bulan dibutuhkan sekitar satu botol yang masih disubsidi oleh pemerintah, angka pengidap HIV di Indonesia sampai akhir 2006 mencapai 193.000 jiwa. ARV yang harganya berkisar antara Rp. 400 ribu hingga Rp. 800 ribu ini memiliki dua lini, pertama AZT, d4T, 3TC, Nevirapine dan Efavirenz yang sudah diproduksi di Indonesia oleh PT. Kimia Farma. Sedangkan Tenofir, ddl dan Liponavir/Ri yang digunakan untuk lini kedua.(C5-08)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau