Manusia Anggur Pakai Celana Khusus

Kompas.com - 24/04/2008, 14:33 WIB

SURABAYA, KAMIS - Setelah kurang lebih 28 tahun menderita kanker kulit (neurofibroma) berupa benjolan-benjolan seperti anggur, ternyata Sutikno, 28, warga Pundong, Kec. Diwek, Jombang tidak pernah merasa minder atau malu.

Dia ikhlas, namun tetap berikhtiar untuk menyembuhkan penyakitnya. Hal itu pula yang membuat dirinya kuat menjalani operasi penyakit yang dideritanya itu hingga keempat kalinya.

“Katanya masih ada operasi lagi. Tapi saya siap lahir batin, karena ingin segera sembuh dan hidup normal lagi,” ungkap Sutikno, ketika ditemui Surya di ruang S2 Instalasi Rawat Inap (Irna) Bedah I RSU Dr Soetomo Surabaya, Rabu (23/4).

Seperti yang diberitakan sebelumnya, bersama Sugeng Riyadi, 28, Sutikno menjadi dua penderita kanker kulit yang sama-sama dirawat di RSU Dr Soetomo Surabaya saat ini. Bila kanker Sugeng berada di betis kanannya dan sekitar alat vitalnya, kanker Sutikno berada di lengan bawah tangan kiri dan salah satu kantung buah zakar (scrotum). Karena kanker berbentuk benjolan-benjolan mirip anggur itu, mereka disebut manusia anggur.

Sutikno menderita penyakit tersebut sejak lahir. Ketika lahir pada 17 Juli 1980, kulit anak ke-7 dari delapan bersaudara itu sudah sedikit bengkak dan mengeras. Terutama pada bagian tangan dan kaki. Saat berusia satu tahun, di salah satu kantung buah zakarnya timbul benjolan kecil. Selanjutnya oleh ayahnya Kahar, Sutikno dibawa ke rumah sakit (RS) untuk operasi pengangkatan benjolan itu sekaligus dikhitan di kota Bandung, tempat salah satu kakaknya tinggal.

“Ternyata setelah itu, benjolan tersebut timbul lagi. Tapi karena tidak terasa sakit, saya biarkan saja,” ujarnya. Benjolan pun membesar hingga Sutikno duduk di kelas I SMP. Tak hanya di kantung buah zakar. Benjolan pun mulai banyak muncul di lengan bawah tangan kirinya. Mulai dari pergelangan, kemudian berkembang hingga hampir ke lengan.

Tahun 1998, atas bantuan seluruh keluarga, Sutikno mulai diobatkan. Pertama di Rumah Sakit Islam (RSI) Solo. Keluarga petani inipun rela mengeluarkan uang sebesar Rp 25 juta untuk mengambil benjolan yang ada di kantong buah zakar.

Setelah tiga tahun, ternyata benjolan mirip buah anggur itupun kembali muncul dengan lebih cepat. Tahun 2001, Sutikno pun kembali menjalani operasi di RSI Solo. Kali ini, yang diangkat tak hanya benjolan di kantung buah zakar, tapi juga benjolan yang ada di tangan. Saat itu, biaya yang dikeluarkan pun mencapai Rp 25 juta. “Setelah operasi, saya berharap bisa sembuh dan segera bisa hidup normal lagi,” lanjutnya.

Ternyata memasuki tahun 2004, benjolan di dua tempat itu kembali muncul dengan lebih ganas. Akhirnya di bulan Januari 2008 lalu, Sutikno dibawa ke RSU Dr Soetomo Surabaya untuk kembali diobati. Dengan menelan biaya kurang lebih Rp 32 juta, Sutikno kembali menjalani operasi untuk mengangkat benjolan di tangannya. Itupun hanya sebagian. Hasilnya cukup baik. Pertumbuhan di bekas operasi hampir tidak ada lagi.

Selanjutnya Senin (21/4) kemarin, operasi ke empat kembali dilakukan pada diri Sutikno. Yaitu pengangkatan pada bagian kantung buah zakar dan sisa benjolan yang ada di tangan kirinya. “Kata dokter masih ada satu operasi lagi untuk membersihkannya. Saya berharap segera hilang dan sembuh,” harap Sutikno didampingi kakak ketiganya, Dukan, 45.

Terima Keadaan
Ketika ditanya tentang kehidupannya sehari-hari selama menderita penyakit ini, Sutikno mengaku menjalani secara biasa saja. Tapi dia mengaku harus mrotol sekolah setelah kelas I SMP karena takut jadi bahan ejekan teman-temannya. “Sebenarnya tidak malu, hanya menjaga biar tidak sakit hati karena diolok-olok terus. Saya nrimo atas apa yang ada dapada diri saya kok,” ujar Sutikno sumringah.

Selama itu, Sutikno mengaku hanya di rumah, membantu orangtuanya bersih-bersih atau ke sawah. Untuk pakaian, sang ayah, Kahar membuatkan celana khusus dengan ukuran pada bagian selangkang yang lebih lebar. Dengan begitu aktifitas sehari-harinya tetap berjalan lancar.

“Bahkan dengan kondisi masih bengkak dan banyak benjolan itu, fungsi alat vital saya baik untuk kencing maupun untuk yang lainnya. Alhamdulilah masih normal,” ungkap Sutikno sambil tersenyum.

Hal itu pula yang menguatkan Sutikno untuk segera sembuh. Saat ini dia mengaku belum punya pacar. Tapi dengan kesembuhannya itu, dia berharap segera mendapat pacar untuk dijadikan pendamping hidup. “Sembuh dulu, biar dapat dan ketemu jodohnya,” ujarnya.

Ketika ditanya, bagaimana bila setelah diberitakan ini, dia menjadi terkenal dan ada gadis yang bersedia menjadi pendampingnya, Sutikno langsung berucap Amin. “Amin, saya juga berharap seperti itu,” tandasnya sambil tersenyum malu.

Dukan, kakak Sutikno juga ikut senang mendengar rasa optimis adiknya itu. Rasa optimis itulah yang membuat sekeluarga rela mengeluarkan banyak biaya untuk Sutikno. “Kami sudah habis-habisan agar dia sembuh. Untuk operasi keempat ini saja, selesai operasi kami sudah harus membayar Rp 6,2 juta. Selama dirawat di Irna I ini, sampai hari ini (Rabu kemarin-red), tagihan untuk kami sudah Rp12,3 juta,” jelas Dukan.

“Sawah sedikit demi sedikit telah kami jual. Ternak dan beberapa rumah milik kakak-kakaknya juga ada yang sudah dijual untuk biaya operasi Tikno ini,” lanjut Dukan yang menyebut sakit Sutikno menurut dokter karena pembuluh getah beningnya yang kurang lancar hingga membuat bengkak.(rie)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau