Murah, Suzuki SX4 Crossover "Lokal", Tapi Terganjal BBN

Kompas.com - 24/04/2008, 16:52 WIB

INDO Mobil Niaga International (IMNI) mulai Juni 2008 akan memproduksi sedan hatchbach SX4 CrossOver dan CrossRoad dalam bentuk CKD di pabrik perakitan mobil Suzuki, Bekasi, Jawa Barat. IMNI segera merakit sendiri SX4 dalam dua versi CrossOver dan CrossRoad, ketimbang impor langsung dalam bentuk utuh (CBU) dari Jepang.

Harganya juga berbeda jauh antara impor utuh berkisar Rp 150 juta hingga RP 170 juta, dengan harga perakitan. Selain itu, diharapkan lebih murah karena impor terkena tambahan bea impor 45 persen. Sementara biaya perakitannya sekitar 12-15 persen. Ini berarti ada perbedaan harga sekitar 30 persen. Tinggal masalah penetapan besar Bea Balik Nama (BBN) yang belum tuntas di Kepolisian dan masih dinegokan IMNI. 

"SX4 rakitan sampai sekarang belum bisa kita tentukan harganya. Masalah bea impor 45 persen sudah teratasi, kita tak perlu inden lagi dari Jepang yang harganya sampai Rp 170 juta per unit. Tapi masalah baru muncul karena masalah Bea Balik Nama (BBN) ada tabelnya masih mahal 15 persen. Kita ingin ke Polri 'buka-bukaan', kan sudah ada tabel harga BBN yang impor, kita ingin ubah lokal, kan mereka (Polisi-Red) nggak tahu lokal apa impor yang penting ada tabelnya, ini yang masih kita selesaikan sehingga harganya belum ditetapkan," kata Presiden Direktur IMNI Subronto Laras usai pengenalan SX4 CrossOver dan CrosRoad rakitan di Manado, Rabu malam (23/4).

Menurut Subronto, selama ini inden SX4 berkisar dua bulan hingga 7 bulan karena kapasitas pabrik di Jepang terbatas dengan meledaknya peminat SX4 di seluruh dunia. Inden itu bisa mencapai 2000 unit hingga 3500 unit. Melihat peluang pasar demikian besar, maka Indomobil mengambil alih kebijakan dari mendatangkan utuh berubah ke merakit mobil sendiri.

"Kita ini rugi denga harga segitu makanya kita ingin rakit sendiri biar bisa bersaing dalam pasar lokal dengan baik dan kita bisa untung, tidak seperti sekarang harganya mepet dan kita masih rugi. Maka kita produksi perdana SX4 CrossOver dan CrossRoad hanya 30 unit, ya kalau ada bedanya dengan CBU ya beda-beda sangat tipis. Kalau CrossOver memakai ban 16 inci sedangkan CrossRoad 15 inci ya tergantung mana yang disukai konsumen saja, mereka mau pilih yang mana. Produksi perdana ini untuk test drive, produksi besarnya nanti mulai Juni sekitar 700 unit sebulan," kata Subronto.

Indomobil masih mempelajari produksinya 400 unit SX4 CrossRoad dan 300 unit SX4 CrossOver atau sebaliknya. Kemudian Baleno yang berbasis SX4 berkisar  700-800 unit. Paling tidak IMNI menyiapkan 1500-1600 unit untuk varian-varian CrossLimit. Jumlah itu merupakan sebagian dari total target pemasaran Suzuki selama tahun 2008 sebesar 80.000 unit.

"Yah, hatchback ini kan 25 persen dari total pasar di Indonesia. Kalau target penjualan mobil nasional tahun 2008 500 ribu unit maka sekitar 125 ribu unit merupakan hatchback muai dari SX4, Swift, Yaris, Jazz, Picanto, dan lainnya," tegas Subronto(PersdaNetwork/HBK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau