Larangan Terbang Garuda ke Eropa Turunkan Citra Indonesia

Kompas.com - 24/04/2008, 19:17 WIB

Laporan wartawan Kompas Cokorda Yudistira

FRANKFURT, KAMIS- Pelarangan terbang Garuda Indonesia ke negara-negara Uni Eropa dikeluhkan pengola agen perjalanan di Eropa, khususnya Jerman. Para pengelola agen perjalanan itu kesulitan memasarkan pariwisata Indonesia, dan itu berakibat menurunnya perjalanan wisata dari Uni Eropa ke Indonesia.

Keluhan itu disampaikan Anil Kumar, Managing Director Airways Travel Frankfurt, dalam jumpa pers yang dihadiri Direktur Promosi Internasional dari Kementerian Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia I Gde Pitana, Kamis (24/4). Pitana sendiri berada di Eropa dalam untuk menghadiri serangkaian pameran yang diikuti Indonesia dalam IMEX 2008, di Messe, Frankfurt, Jerman.

Dalam paparannya, Kumar menyatakan bahwa pelarangan itu menyebabkan Indonesia sulit dipasarkan kalangan pariwisata Eropa, dan akibatnya citra Indonesia pun menurun.

Seperti diketahui, Komisi Uni Eropa masih memberlakukan larangan terbang terhadap Garuda Indonesia dan sejumlah maskapai penerbangan nasional ke wilayah Eropa. Salah satu alasan pelarangan itu adalah keselamatan penerbangan Indonesia yang dinilai masih rendah. Pelarangan itu, menurut Kumar, menye babkan calon wisatawan dari wilayah Eropa berpikir ulang, bahkan membatalkan rencana mereka untuk berkunjung ke Indonesia.

"Pariwisata di Indonesia menjadi mahal karena butuh biaya ekstra untuk terbang ke Indonesia. Akibatnya, mereka mengalihkan rencana perjalanan ke negara lain, seperti Singapura," kata Kumar yang ditemui Kompas seusai jumpa pers tadi siang.

Keluhan Kumar dibenarkan kalangan pengelola perjalanan di Indonesia yang berpartisipasi dalam pameran dan pertemuan asosiasi pengusaha perjalanan dunia, IMEX 2008, di Messe Frankfurt, di antaranya Presiden Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA), Ben Sukma Harahap, dan Presiden Direktur Pacto Co nvex Indonesia, Susilowati Daud. Ben Sukma mengatakan , pelarangan Garuda ke Uni Eropa dapat diatasi dengan cara membuka kerjasama penerbangan dengan maskapai lain, seperti Singapore Airlines.

Di sela-sela kunjungan singkatnya ke gerai Indonesia di IMEX 2008, anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Dedy Djamaluddin Malik mengatakan, pemerintah harus mendesak manajemen Garuda agar meningkatkan kinerja, memperbaiki pelayanan, dan membenahi standar keamanan penerbangannya.

Dedy juga menyarankan pemerintah untuk mengupayakan kerjasama dengan maskapai penerbangan internasional lain yang memiliki jalur penerbangan ke Eropa. "Namun yang paling penting adalah harus ada upaya serius memperbaiki citra dan pelayanan Garuda Indonesia sebagai penerbangan nasional andalan Indonesia," kata Dedy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau