Malang, Warga Tak Siap Pakai Elpiji

Kompas.com - 26/04/2008, 09:00 WIB

MALANG, SABTU - Meski sudah berjalan hampir setengah tahun, namun warga Malang Raya (Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu) masih belum siap dengan program konversi Minyak Tanah (Mitan) ke elpiji, banyak warga yang tidak memanfaatkan kompor dan tabung gas gratis dari pemerintah.
      
Pemerhati masalah sosial dari Universitas Islam Malang (Unisma), M. Sodiq, Sabtu, mengatakan, ketidaksiapan masyarakat itu dibuktikan dengan masih banyaknya warga penerima paket konversi yang masih menggunakan Mitan ataupun kayu bakar untuk kegiatan memasak.

"Program konversi ini merupakan program instan pemerintah yang dipaksakan untuk mengurangi subsidi BBM dari APBN, namun pemerintah tidak mengupayakan mengubah budaya masyarakat terlebih dahulu sekaligus sosialisasi hingga tuntas," kata Sodiq yang juga Humas Unisma itu di Malang.

Menurut dia, seharusnya pemerintah baik pusat, tingkat provinsi maupun daerah harus menjalin kerjasama sinergi dengan Pertamina untuk melakukan sosialisasi hingga tuntas sehingga masyarakat benar-benar paham dan tidak lagi khawatir ketika menggunakan kompor elpiji.

Akan tetapi, katanya, yang terjadi justru sebaliknya, konversi diluncurkan lebih dulu baru melakukan sosialisasi sehingga banyak masyarakat yang sama sekali tidak mengerti bahkan takut menggunakan kompor elpiji, akibatnya tidak sedikit yang diloakkan.

Dampak yang lebih parah adanya konversi tersebut, kata Sodiq, tidak sedikit pedagang yang memilih tidak berjualan ketimbang menggunakan kompor elpiji, sebab Mitan juga sulit dijumpai, kalaupun ada harganya sudah melangit antara Rp3.500 sampai Rp5.000 per liter.

Ia juga mengakui, penerima program paket konversi Mitan ke elpiji tersebut juga dilakukan tanpa survei terutama di wilayah Kabupaten Malang dan itu menggambarkan jika program itu memang benar-benar instan dan hanya mengejar "setoran" atau target semata.       

"Masyarakat kecil ini kan kasihan. Seharusnya pemerintah lebih mementingkan kepentingan yang lebih besar yakni kesejahteraan rakyatnya ketimbang mempertahankan kebijakan populis yang hanya untuk kepentingan politiknya," katanya menegaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau