Balai Bahasa Indonesia Pertama di Australia Resmi Berdiri

Kompas.com - 26/04/2008, 18:48 WIB

BRISBANE, SABTU - Pengembangan pengajaran bahasa dan budaya Indonesia di Australia semakin mendapat dukungan kuat. Selain  sejalan dengan komitmen kuat pemerintah federal Australia untuk mendukung pengajaran Bahasa Indonesia di negara itu, kini untuk kali pertama di Australia resmi berdiri Balai Bahasa Indonesia (BBI).

Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Internasional Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Agus Sartono, mengemukakan,  BBI itu resmi berdiri dan berada di Perth, Australia Barat, sejak 22 April. "Balai Bahasa Indonesia di Perth itu adalah yang pertama di Australia dan diresmikan Konsul RI di Perth, Aloysius L Madja, pada tabggal 22 April ," katanya sebagaimana dilaporkan Antara yang menghubunginya dari Sydney, Sabtu (26/4).

Dikemukakan pula bahwa kehadiran BBI itu akan semakin mendukung pengembangan pengajaran bahasa dan budaya Indonesia di negara bagian Australia Barat. "Keberadaannya pun sejalan dengan komitmen kuat Pemerintah Federal Australia untuk mendukung pengajaran Bahasa Indonesia di negara itu," katanya.
       
Agus Sartono, yang selama 15 bulan terakhir menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra ini mengatakan,  pembentukan BBI itu merupakan hasil kerja sama baik antara Konsulat RI Perth dan Westralian Indonesian Language Teachers Association (Perhimpunan Para Guru Bahasa Indonesia Australia Barat - WILTA).
       
"Kehadiran BBI itu tidak dapat dilepaskan dari peran Konsul RI di Perth, Dr Aloysius L Madja, bekerja sama dengan Wilta dan para pemangku kepentingan lain sehingga BBI dapat hadir di Australia Barat mulai 2008," katanya menambahkan.

Pada bagian lain penjelasannya, Agus Sartono berharap agar semua pihak terkait mendukung pembentukan BBI pertama di Australia itu karena ia merupakan investasi bagi Indonesia dan Australia dalam memperkuat hubungan bilateral dalam jangka panjang. "Dalam konteks kepentingan nasional, kehadiran BBI ini sangat sejalan dengan program pemerintah RI untuk menggalakkan pengajaran bahasa Indonesia di luar negeri" tambahnya.
      
Terkait dengan latar belakang pembentukan BBI, Agus mengemukakan, rapat koordinasi para atase pendidikan dan kebudayaan (adikbud) Depdiknas di Bandung, 2-4 Desember 2007, antara lain mengamanatkan adanya upaya meningkatkan pengajaran Bahasa Indonesia di luar negeri.
      
Menurut catatan ANTARA, ketika menjabat Adikbud RI di KBRI Canberra, Agus Sartono termasuk pejabat publik yang  memberikan dukungan konkret kepada BBI di Perth ini. Dukungan itu antara lain berupa pemberian bantuan dana sebesar 10.000 dolar Australia atau lebih dari Rp 80 juta rupiah.
      
Selanjutnya Agus Sartono mengharapkan BBI bisa berkembang menjadi organisasi nirlaba yang bisa berjalan sendiri dengan baik,bahkan bisa menjadi pusat uji kemampuan berbahasa Indonesia (UKBI) bagi para penutur asing di Australia Barat.
      
Mengenai komitmen Australia pada pentingnya pengajaran bahasa-bahasa asing, khususnya bahasa-bahasa Asia, termasuk bahasa Indonesia, tercermin dari pernyataan Menteri Luar Negeri Stephen Smith dan Konferensi Tingkat Tinggi Australia atau KTT 2020 yang diikuti sedikitnya 1.000 warga Australia di Canberra baru-baru ini.
     
Menlu Smith mengatakan, Australia mutlak perlu memiliki lebih banyak generasi muda yang belajar dan bisa berbahasa asing, khususnya bahasa-bahasa Asia seperti Bahasa Indonesia, China, Jepang, dan Korea, untuk mendukung peran diplomasi, hubungan luar negeri dan keterlibatan Australia dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa di kawasan Asia Pasifik.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau