PURWAKARTA, MINGGU – Pengusaha keramik dan genteng di sentra Kecamatan Plered dan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, bingung menyiasati harga kayu bakar yang terus naik sejak beberapa bulan lalu. Sebagian pengusaha terpaksa berburu hingga keluar kota karena pasokan yang semakin terbatas.
Nunung Nuraini (39), pengusaha keramik (gerabah) di Desa Anjun, Kecamatan Plered, Minggu (27/4) mengatakan, harga kayu bakar di sentra keramik dan genteng Purwakarta kini berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,6 juta per truk atau sekitar 12 meter kubik. Padahal hingga akhir tahun 2007 lalu harganya masih berkisar Rp 700.000 hingga Rp 1,4 juta.
Menurutnya, dari beragam jenis kayu bakar yang ditawarkan, kayu karet dan kayu rambutan yang paling terbatas jumlahnya. Karenanya harga kayu karet mencapai Rp 1,5-1,6 juta per truk, tertinggi dibanding jenis kayu lainnya. Dua jenis kayu itu paling dicari pengusaha karena memenuhi syarat panas pembakaran keramik.
”Pasokan masih ada meski tak sebanyak beberapa tahun lalu. Harganya terus naik karena para pemasok sulit mencari kayu sementara permintaan bertambah,” ujarnya.
Ketika pasokan sepi, para pengusaha terpaksa jemput bola. Mereka pergi hingga ke Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Subang, Bandung, hingga Serang, untuk mencari kayu bakar. Menurutnya, harga kayu di beberapa daerah itu lebih murah.
Ali Fatah (43), pengusaha genteng di Desa Citalang, Kecamatan Tegalwaru menambahkan, pengusaha masih menggunakan kayu karena termurah dibanding bahan bakar lainnya.
Mayoritas pengusaha genteng dan keramik di sentra itu beralih ke kayu bakar pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa tahun lalu. Mereka mengubah tungku pembakarannya dari berbahan bakar minyak menjadi tungku kayu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang