Remaja Malaysia Juga "Ngelem"

Kompas.com - 29/04/2008, 02:01 WIB

KUALA LUMPUR, SENIN-KEBIASAAN ngelem alias mencium dan menghirup uap lem akhir-akhir ini ternyata juga ada di kalangan remaja Kuala Lumpur, Malaysia.  Buktinya, pemerintah saat ini tengah menggodok sebuah peraturan (act) Anti Ngelem.

Kantor Berita ANTARA, Senin (28/4), melaporkan, sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Persatuan Mencegah Dadah Malaysia (Pemadam) mendesak kerajaan dan parlemen Malaysia untuk meloloskan rancangan undang-undang anti mencium lem yang dapat memabukkan itu.

Dilaporkan juga bahwa kebiasaan ngelem itu  kian menjadi tren di kalangan generasi muda negeri jiran ini. Tidak disebutkan sejak kapan kebiasaan itu muncul dan mulai menggejala sampai meluas di kalangan remaja. Juga tidak dijelaskan apakah lem sudah masuk dalam kategori dadah, sejenis heroin, narkotika, dan psikotropika.

Yang jelas, kata Sekjen Pemadam Kamilia Ibrahim, seperti dilutip harian Kosmo, pihaknya akan terus melobi dan mendesak kerajaan Malaysia agar segera mengajukan UU (Act).  Desakan itu dilakukan karena semakin banyak pelajar yang suka mabuk dan menjadi penghayal dengan cara mencium bau lem. Cara ini dinilai berbahaya karena dapat merusak otak dan mereka tidak mau belajar.

Saat ini, draft UU Anti Ngelem itu sedang digodok di kejaksaan Malaysia sebelum dibawa ke parlemen (DPR).

Wakil Ketua Umum AADK (Agensi Anti Dadah Kebangsaan)  Prof Dr Mahmood Nazar juga mendukung seruan Pemadam karena ada 60 bahan lagi yang dapat memabukkan jika dicium baunya secara terus menerus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau