Kenaikan Harga Gabah tak Berpengaruh bagi Petani

Kompas.com - 29/04/2008, 07:01 WIB

PALU, SELASA - Sejumlah petani di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), menyambut "dingin" kebijakan penaikan harga pembelian pemerintah (HPP) atas gabah dan beras oleh Bulog.
   
"Sekalipun HPP untuk beras saat ini naik Rp300 dari harga sebelumnya Rp4.000/kg, tetapi sama sekali tidak memberi nilai tambah bagi kami," kata Taswin (54), petani asal desa Jono’oge, Kecamatan Sigi-Biromaru, Kabupaten Donggala, Selasa.
   
Menurut dia, sekalipun kebijakan pemerintah menaikkan harga gabah dan beras sesuai Inpres No.1 Tahun 2008 cukup bagus, namun tidak memberikan arti apa-apa bagi petani sebab selisih kenaikannya hanya Rp200-Rp300/kg dibanding keadaan harga tahun lalu.
   
Masalahnya, kata dia, umumnya petani padi di daerahnya selama ini lebih tertarik menjual beras mereka kepada pedagang pengumpul dari pasar tradisional dan pedagang dengan harga cukup tinggi, yakni berkisar Rp4.200-Rp4.300/kg.
   
"Harga pembelian yang dilakukan para pedagang itu sudah berlangsung lebih empat bulan terakhir, menyertai lonjakan harga beras di pasaran," katanya saat ditemui di Palu.
   
Sebelumnya, Syarifuddin (42), petani padi asal Dataran Palolo di Kabupaten Donggala, mengatakan harga beras pembelian pedagang pengumpul dari Palu dan pedagang antarpulau kurun empat bulan terakhir cukup tinggi, sehingga penetapan harga baru melalui HPP yang mulai berlaku per 22 April 2008 itu sangat terlambat.
   
Apalagi HPP tersebut baru keluar setelah panen musim tanam (MT) pertama sudah selesai.  "Jadi menurut saya pemerintah terlambat menaikkan harga gabah dan beras. Lagi pula kenaikannya tidak signifikan, sebab petani di daerah kami sudah lama menjual beras hingga Rp 4.300/kg," kata dia.
   
Syarifuddin juga mengatakan, HPP beras yang diberlakukan pemerintah saat ini belum rasional. "Yang rasional seharusnya antara Rp 4.500-Rp 5.000/kg dan ini baru bisa dinikmati oleh petani," katanya.
   
Apalagi, lanjut dia, biaya operasional yang dikeluarkan petani untuk satu kali musim tanam (MT) semakin besar menyusul naiknya harga sarana produksi petanian seperti pupuk dan obat-obatan, sementara produktivitas sawah di daerah ini masih rendah (berkisar 3-3,5 ton gabah kering giling).
   
Lain halnya dengan pendapat Taswin dan Syarifuddin. Menurut Paiman (42), pengurus kelompok tani di desa Sidera, kecamatan Sigi-Biromaru, dirinya menyambut positif penetapan HHP baru untuk gabah dan beras mulai 22 April lalu.
   
"Sekalipun Inpres mengenai HPP itu dikeluarkan sangat terlambat, namun dengan adanya patokan harga gabah dan beras yang ditetapkan oleh pemerintah, justru melindungi petani dari permainan para tengkulak," kata dia.
   
Paiman berharap pemerintah akan terus menyesuaikan HPP gabah dan beras sampai benar-benar menguntungkan petani padi. "Paling tidak bisa mengimbangi pengeluaran petani dalam menutupi biaya operasional serta membeli sarana produksi pertanian yang harganya melambung," katanya.
   
Eko (57), pemilik penggilingan padi di desa Jono’oge, Sigi-Biromaru, mengatakan harga beras di tingkat penggilingan saat ini berkisar Rp 4.200- Rp 4.500/kg, sesuai jenis dan kualitasnya. Bahkan, pada saat belum panen (Januari-Februari lalu), harga beras di tingkat penggilingan sempat menyentuh Rp5.000/kg karena kurangnya stok.
   
Kabupaten Donggala sendiri merupakan salah lumbung beras di Provinsi Sulteng, dengan produksi pada tahun 2007 mencapai lebih 230.000 ton gabah kering giling.(ant)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau