PLN Siapkan Proyek 10.000 MW Tahap Dua

Kompas.com - 29/04/2008, 15:01 WIB

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Adhinata Kesuma

BALIKPAPAN, SELASA -  Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar menyatakan, pemerintah akan menyiapkan megaproyek listrik 10.000 megawatt tahap kedua. Pasalnya, begitu proyek 10.000 MW pertama selesai sekitar tahun 2012 bakal langsung habis terserap oleh calon pelanggan yang sudah antre. "Program ini memang untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Rasio jumlah penduduk Indonesia yang menikmati listrik sekarang masih 65 persen," kata Fahmi saat berkunjung ke Kantor Tribun Kaltim, Selasa (29/4) siang. 

Selain itu, karena pembangkit yang digunakan berbahan bakar batu bara, maka program 10.000 MW, kata Fahmi, akan menghemat biaya produksi listrik PLN. Pasalnya, hingga 2007 pembangkit PLN yang menggunakan BBM mencapai 34 persen. Dengan selesainya proyek 10.000 MW ditargetkan tersisa 10 persen. "Biaya produksi listrik PLN sekitar Rp 1.100 hingga 1.200 per kWh, sedangkan kami jual rata-rata Rp 600 per kWh. Artinya, semua orang disubsidi penggunaan listriknya. Bahkan, hitungannya termasuk turis asing yang menginap di hotel pun disubsidi," kata Fahmi.

Pendapatan PLN saat ini sekitar Rp 78 triliun, sedangkan biaya BBM mencapai Rp 83 triliun. "Itu belum termasuk biaya operasional dan perawatan," kata Fahmi. Pemerintah, menurutnya, tahun ini memberikan subsidi listrik sebesar Rp 60,3 triliun.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau